PEKANBARU, datariau.com - PT Makmur Papan Permata (MPP) yang selama ini mengelola Pasar Sukaramai atau dikenal Pasar Ramayana Pusat di Jalan Jenderal Sudirman Kota Pekanbaru, menargetkan akan menuntaskan pembangunan gedung pasar pasca terbakar dalam waktu dua tahun ini.
Hal ini terungkap usai rapat kerja Komisi II DPRD Kota Pekanbaru bersama PT MPP, Selasa (25/4/2017) siang di ruangan Banmus DPRD Pekanbaru. Hearing ini dipimpin oleh Tengku Azwendi Fajri sebagai Ketua Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, juga dihadiri oleh anggota Komisi II lainnya yaitu, Darnil, Yusrizal, Dapot Sinaga, Hj Yurni, Desi Susanti dan Roem Diani Dewi.
"Sekitar 2019 selesai. Untuk kios disediakan sekitar 1800 unit untuk pedagang yang ada sekitr 1400an. Untuk mendapatkan unit ini dilakukan undian terbatas maksudnya tidak terbuka. Karena ini bangunan sudah ada yang akan ditempatkan mereka yang sebelumnya pemilik kios makanya mereka akan diundi berdasarkan tempat lama mereka yang tidak terkena perubahan layout yang tentu saja menyesuaikan ukuran dan posisinya," ujar Suryanto, Kepala Cabang PT Makmur Papan Permata usai hearing.
Suryanto juga menjelaskan mengenai pembangunan itu konteksnya bukan bangunan baru seperti tanah kosong yang memiliki tahapan pemagaran, pemancangan yang nampak. Sebenarnya untuk aktifitas pasca kebakaran sudah dimulai dari pembersihan, pembongkaran.
"Sekarang sudah mulai action pembongkaran tahap pelaksanaan pembangunan. Selama ini kesannya tidak ada aktivitas, hal ini dikarenakan aktivitas di dalam, dimana juga dikelilingi ruko 3 lantai, sehingga tidak terlhat dari luar. Jadi bagian dari pelaksanaan sudah kita lakukan. Masuk ke sosialisasi, namanya kita bermitra dengan pemerintah kita ekspos pemaparan ke pmko untuk dapat saran, Alhamdulillah hari ini dengan Komisi II selaku mitra pemko dan kami dengan pedagang sedang menjadwalkan waktu untuk sosialisasi. Khususnya bagi pemilik tempat," paparnya.
Lanjutnya, untuk izin tetap usaha perdagangan, mau disebut pusat grosir, pusat ritel, ataupun eceran hanya istilah. Makanya pihaknya membuat ikonnya menjadi Sukaramai Trade Centre.
"Karena selama ini Plaza Sukaramai ini identik dengan pusat grosir dan eceran. Kedepannya tetap menjadi pusat grosir dan eceran tapi dengan kawasan yang lebih luas, lebih terpadu dengan tampilan menyesuaikan jauh kedepan, bukan tradisional kebawah seperti kemarin," tambahnya.
Terkait wacana pembangunan hotel di kawasan Plaza Sukaramai nantinya, disebutkan Suryanto merupakan keinginan menjadikan Sukaramai menjadi one stop shoping, akan tetapi pihaknya belum mewacanakan membangun hotel.
"Yang penting sekarang ini bagaiman kita bisa membangun bangunan yang terbakar, merevitalisasi dan meredisain tempat, agar dapat menampung para pedagang serta untuk fasilitas parkir. Jadi hotel secra struktur kita siapkan, jika memang beberapa tahun kedepan tidak menganggu semua kepentingan dan regulasi aturan memungkinkan, kenapa tidak," ungkapnya.
Sementara itu, Tengku Azwendi Fajri sangat meyayangkan lambannya pembangunan Pasar Ramayana pasca terbakar dan kurangnya sosialiasi dari pihak pengelola terkait konsep pembangunan pasar tersebut.
"Sangat kami sayangkan kenapa setelah setahun terbakar baru dibagun sekarang, tapi sebelum dimulai tentunya ada sosialisasi juga, pemaparan seperti apa perencanaannya seperti apa. Makanya kami panggil rapat hari ini," ujar Azwendi kepada wartawan, Selasa (25/4/2017) usai rapat.
Namun, lanjut Azwendi, Komisi II berencana akan menjadwal rapat kembali dengan pihak pengelola karena rapat hari belum tuntas dibahas, termasuk meminta data kajian kontruksi bagunan dan DED-nya seperti apa.
"Kita dengar rencananya juga ada pengembangan, nah pengembangan ini apakah sudah cocok dan tepat dan kami pengen tahu lebih dalam lagi, dan mereka menyanggupi segala adminiastri dan kajian-kajian yang diperlukan dan disampaikan kepada Komisi II, dan Komisi II memberikan masukan kepada pemerintah kota dan pengembang dan kita mengiventerisir masalah yang ada, baik lalu lintasnya, barang dagangan yang dijual seperti apa dan konsepnya," jelasnya.
Selain itu, Politisi Demokrat ini juga sangat menyayangkan rencana adendum oleh pemerintah Kota Pekanbaru yang saat ini belum diketahui oleh pihaknya di DPRD Kota Pekanbaru.
"Rencananya terjadi adendum tapi kami tidak mengetahui secara pasti, seharusnya OPD terkait sudah memberi tau kami, bahwa adanya rencana adendum tersebut, kajian-kajiannya, alasanya seperti apa, tapi sangat disayangkan itu tidak terjadi, tentu ini teguran juga buat pemerintah kota untuk kedepan lebih proaktif kepada legislatif," pungkasnya.