SELATPANJANG, datariau.com - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti kedatangan tamu istimewa yang masih terletak di atas bumi melayu yakni Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau.
Kedatangan Anggota DPRD Kabupaten Lingga tak lain ingin mencari solusi untuk mengembang potensi sagu tempatan yang kini masih belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Rombongan pihak legislator dari Kabupaten Lingga yang datang itu antara lain Wakil Ketua DPRD H Komaruddin, Wakil Ketua Muddasir Zahid, Ketua Komisi I Zakaria berserta anggota lainnya.
Disambut hangat oleh Sekda Kepulauan Meranti Yulian Norwis SE MM bersama Ketua DPRD Fauzi Hasan, dan Wakil Ketua Taufikurahman, di ruang Rapat Melati Kantor Bupati, Kamis (18/5/2017) kemarin.
Tampak mereka tidak ingin menyia-nyiakan ketika sudah menginjak di wilayah penghasil potensi sagu terbesar di Indonesia itu hanya untuk mendapat sebuah pembelajaran berharga cara mengembangkan sagu untuk meningkatkan kesejahteraan daerahnya.
Mereka sangat mengakui keberhasilan Pemerintah Kepulauan Meranti dalam mengembangkan sagu sebagai penopang hidup bagi ekonomi masyarakat. Berbagai macam produk yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dapat dibuat, hingga bisa mengekspor kedalam dan luar negeri.
"Kami mengakui Meranti sudah terkenal secara Nasional dan Internasional dalam hal budidaya dan pengelolaan Sagu. Untuk itu dalam rangka membangun sektor pertanian, khususnya tanaman sagu, kami dari DPRD ingin belajar dari Meranti. Nantinya informasi ini akan kami gunakan untuk mendukung visi dan misi Bupati Lingga yang salah satunya mengembangkan tanaman Sagu," aku Komaruddin.
Dijelaskannya, Kabupaten Lingga yang dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu ini memiliki karakter tanah mirip dengan Meranti. Dimana banyak ditumbuhi kebun sagu peninggalan nenek moyang terdahulu.
Namun sayangnya, belum dapat dikelola secara maksimal karena kurangnya referensi terkait pengelolaan Sagu. Alhasil hanya mampu dikelola secara tradisional sehingga tidak terlalu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Lebih jauh, Komaruddin mengatakan, jumlah hutan sagu di Lingga seluas 3000 Ha. Sagu tidak ditanam di kebun masyarakat atau kebun milik perusahaan, melainkan tumbuh liar di hutan.
"Sejauh ini sagu di Lingga belum mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, karena harganya relatif murah. Jika di Meranti satu tual sagu dihargai 45 ribu dan sebatang sagu bisa mencapai 400 ribu, di Lingga sebatang sagu hanya bisa dijual 100 ribu rupiah. Jumlah turunan pengolahan Sagu yang dapat diproduksipun hanya berupa sagu basah dan sagu kering," terangnya.
Seperti yang dipaparkan Kepala Dinas Pertanian Kepulauan Meranti Ir Jaka. Ia menjelaskan, kebun Sagu di Meranti milik masyarakat seluas 38.614 Ha dan mampu memproduksi 202.062 ton tepung sagu kering per tahun. Kemudian tanaman sagu yang dikelola oleh swasta, dalam hal ini PT NSP seluas 14.000 Ha dan mampu memproduksi 12.000 ton tepung sagu kering per tahun.
"Dengan jumlah kilang sagu yang terdata saat ini sebanyak 67 kilang sagu dengan kapasitas 58 ribu ton lebih per tahun. Keberhasilan budidaya sagu di Meranti didukung oleh sektor kearifan lokal yang sudah menjadi budaya masyarakat," katanya.
Bahkan juga di Meranti, sagu memiliki nama jenis masing-masing yakni sagu buni, sagu beban, dan sagu sangka. Varietas benih sagu ini pun telah mengantongi sertifkat, sehingga bagi daerah yang ingin membeli bibit dapat mencarinya di Meranti. Sejauh ini Meranti telah mampu memproduksi 120 ribu bibit per tahun.
"Harapan Pemerintah mengembangkan sagu adalah dalam upaya penyangga swasembada beras dan gula nasional. Produk utama yang mungkin segera dikembangkan akan dibuat beras analog dan gula cair yang butuh dukungan industri," terang Jaka.
Legislator Kabupaten Lingga menilai menarik ketika Meranti dapat menaikkan harga tual sagu. Hal ini, dijelaskan Sekda Yulian Norwis, harga sagu di Meranti meningkat berkat kerjasama antara Pemda dengan perusahaan pengolah sagu yang beroperasi di Meranti.
"Perusahaan membeli sagu ke masyarakat sesuai dengan harga pasar, sehingga terjadi persaingan harga yang menguntungkan bagi petani sagu," ujar Sekda.
Selain itu, hasil produksi sagu di Meranti diekspor ke dalam negeri hingga keluar negeri seperti negara tetangga Malaysia, Singapura, bahkan juga negara asia Jepang.
"Ekspor sagu terkenal ke daerah jawa (Cirebon), karena dikelola perusahaan swasta maka harga dapat ditingkatkan. Bahkan sebagian besar masyarakat di Desa menyekolahkan anak dari hasil sagu," ungkap Sekda.
Kemudian terkait tanaman sagu sendiri dapat diproduksi hingga menginjak usia 8 tahun, dan hanya cukup satu kali tanam saja. Selanjutnya akan tumbuh rumpun-rumpun baru, dan biaya perawatan sangat mudah tanpa pupuk bisa hidup denga baik.
Setelah mendengar pemaparan dari pihak Pemerintah Kepulauan Meranti, legislator Kabupaten Lingga mengaku semua informasi yang mereka tampung untuk dijadikan solusi sangat berguna, yang nantinya akan menjadi acuan dalam pengembangan sagu di Kabupaten Lingga.
"Kita akan bawa informasi yang sangat berguna ini untuk mendukung visi misi Bupati dalam rangka mengembangkan sagu di Lingga, dan meningkatkan PAD bagi daerah," tutur Komaruddin.