20 Prajurit Kopassus yang Bikin Bonyok 5 Brimob di Papua Bakal Hadapi Panglima TNI

Ruslan
1.781 view
20 Prajurit Kopassus yang Bikin Bonyok 5 Brimob di Papua Bakal Hadapi Panglima TNI
Foto: Net

Jiwa Korsa Berlebihan

Konflik pertikaian antara Kopassus dan Brimob di Mimika Papua ibarat sebuah penyakit kambuhan berulang.

Konflik terus berulang dipicu masalah yang sepele.

Sebagai contoh adalah rokok, untuk kasus terbaru ini.

Hal itu diungkap Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi.

Masalah-masalah bentrok antara personel TNI dan Polri tidak bisa diselesaikan dengan baik dan menyeluruh.

?Ini kan penyakit kambuhan, berulang, dan tak pernah mengobati dengan baik,? kata Khairul Fahmi, Senin (29/11/2021).

Perlu ada komitmen bersama untuk membenahi institusi masing-masing.

Faktor-faktor yang memicu bentrokan ada dalam internal institusi.

Ada persoalan ego sektoral, senioritas, kebanggaan dan jiwa korsa yang kompak dan berlebihan.

?Itu berakses pada rendahnya penghormatan dan hadirnya ketidaksukaan pada pihak lain,? tuturnya.

Faktor lain adalah karena dicetak untuk memiliki mental juara.

Baik TNI dan Polri ada rasa malu untuk kekalahan dan kesalahan.

Kasus bentrokan di Papua sangat mudah tersulut.

Dua pihak merasa hebat, merasa paling jago.

Mereka punya mental juara.

Kalah sama dengan memalukan.

Harga rokok pun jadi pemicunya.

Ada kesenjangan antara realitas digital dan realitas sosial.

Realitas digitalnya, pimpinan TNI Polri itu dipertontonkan baik.

Saling mendukung dan menyemangati.

Namun sisi realitas, bagai langit dan bumi.

Prajurit di bawah justru belum menampakkan kolaborasi tersebut.

?Ada kesenjangan reputasi digital yang dibangun oleh baik TNI/Polri yang menunjukkan sinergitas kolaborasi di antara mereka baru sebatas reputasi digital dan belum nampak dengan baik dalam konsumsi realitas sosial,? paparnya.

Kunci menyelesaikan konflik berulang ini adalah pembenahan integritas moral.

Termasuk dengan kepemimpinan para perwira-perwira di lapangan.

Para pemimpin seharusnya lebih dulu menerapkan kedisiplinan dan kepatuhan.

Para pemimpin harus memiliki kesadaran untuk tidak memalukan merusak nama baik korps.

?Ini akan menjadi teladan personel di bawahnya, tanpa perlu sibuk dengan event seremonial menunjukan kekompakan yang justru sulit terlihat di lapangan,? tuturnya. (*)

Source: tribunnews.com

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)