Zimbabwe Mulai Membayar Utang Negara Setelah 20 Tahun

Ruslan
1.594 view
Zimbabwe Mulai Membayar Utang Negara Setelah 20 Tahun
Foto: Net

DATARIAU.COM - Setelah 20 tahun tidak dapat membayar utang negara, pemerintah Zimbabwe mengambil langkah untuk membersihkan neraca keuangan dan citranya. Pihaknya mulai melakukan pembayaran kepada kreditur utama.

Pemerintah berharap mereka akan membangun niat baik terhadap Zimbabwe.

Menteri Keuangan Zimbabwe Mthuli Ncube mengumumkan selama konferensi video bulan ini, bahwa negara telah membuat pembayaran pertama dalam dua dekade ke sekelompok negara kaya yang dikenal sebagai Klub Paris.

"Kami sudah mulai membayar mereka karena, sebagai sebuah negara, kami harus dikenal sebagai debitur yang baik dan bukan yang buruk," kata Ncube, Minggu (12/9/2021).

Selain pembayaran pertama dalam dua dekade ke 17 negara yang merupakan bagian dari Klub Paris, Zimbabwe juga menyelesaikan utangnya kepada pemberi pinjaman multilateral.

"Kami telah mengambil langkah untuk mulai membayar pembayaran uang ke Bank Dunia, Bank Pembangunan Afrika, dan Bank Investasi Eropa," kata Ncube.

Melunasi utang Zimbabwe, atau sekadar mengejar pembayaran, adalah tugas besar.

Utang Zimbabwe mencapai US$ 11 miliar kepada pemberi pinjaman asing, berjumlah sekitar 71% dari produk domestik bruto (PDB) negara itu. Sekitar US$ 6,5 miliar dari total adalah pembayaran yang menunggak.

Ncube mengatakan, pemerintah akan membutuhkan sponsor untuk mengendalikan pembayaran utangnya.

Meski tidak jelas apa sebenarnya yang dia maksud dengan sponsor, Ncube mengatakan tujuannya adalah menyelesaikan utang. "Benar-benar untuk mengatasi tunggakan itu dengan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Afrika, kreditur pilihan. Kami sedang bekerja keras untuk itu," lanjutnya.

Zimbabwe gagal membayar utangnya ketika ekonomi jatuh ke dalam keruntuhan 20 tahun lalu di bawah pemerintahan presiden saat itu, Robert Mugabe.

Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa, yang mengambil alih kekuasaan setelah kudeta 2017, ingin memperbarui hubungan dengan Eropa dan Amerika Serikat (AS). Hubungan antar negara tersebut sebagian besar dirusak karena Mugabe merongrong pemilu dan dengan adanya pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)