Terjepit Zaman, Bangkit dengan Iman

Oleh: Suryani, S.AP
datariau.com
64 view
Terjepit Zaman, Bangkit dengan Iman

DATARIAU.COM - Menjadi bagian dari Generasi Z sering kali dipandang sebagai sebuah keuntungan. Mereka lahir di era internet, tumbuh bersama teknologi, dan memiliki akses informasi yang nyaris tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan beban yang tidak ringan. Generasi yang akrab disebut digital native ini justru menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Gen Z merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kecemasan berlebih hingga gangguan kesehatan mental. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang menjanjikan kemudahan, rasa aman terhadap masa depan justru semakin sulit dirasakan.

Survei Jakpat yang dipublikasikan GoodStats pada Desember 2025 mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Selain itu, 57 persen mengkhawatirkan kondisi finansial, 42 persen terbebani oleh ekspektasi sosial, dan 36 persen merasa tidak berdaya menghadapi berbagai hal di luar kendali mereka.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami Gen Z bukan sekadar persoalan individu, melainkan berkaitan erat dengan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang mereka hadapi saat ini.

Baca juga:Pernikahan Dini dan Gagalnya Benteng Generasi


Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara. Kenaikan harga kebutuhan pokok, terbatasnya lapangan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi global, hingga tekanan yang muncul dari media sosial menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda di berbagai belahan dunia. Banyak di antara mereka telah bekerja keras, meningkatkan kemampuan, bahkan mengejar pendidikan tinggi, tetapi tetap merasa sulit memperoleh kehidupan yang layak.

Persoalan ini sesungguhnya tidak berhenti pada aspek ekonomi ataupun kesehatan mental. Ada krisis yang lebih mendasar, yakni krisis cara pandang terhadap kehidupan. Dalam perspektif penulis, sistem kapitalisme sekuler telah mendorong manusia untuk terus mengejar materi, prestise, dan pengakuan sosial, sementara kebutuhan akan ketenangan jiwa justru terabaikan.

Media sosial memperkuat kondisi tersebut. Kehidupan yang ditampilkan secara serba sempurna membuat banyak anak muda tanpa sadar terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Ukuran keberhasilan bergeser menjadi jumlah pengikut, tanda suka, maupun citra yang dibangun di ruang digital. Akibatnya, fenomena fear of missing out (FOMO) semakin meluas, melahirkan rasa kurang, minder, iri, hingga kehilangan kepercayaan diri.

Selain itu, ketidakpastian masa depan menjadi sumber kecemasan yang tidak kalah besar. Persaingan dunia pendidikan dan pekerjaan semakin ketat, sementara kondisi ekonomi belum sepenuhnya memberikan harapan yang menenangkan. Kekhawatiran gagal memenuhi harapan diri sendiri maupun keluarga akhirnya menjadi tekanan psikologis yang terus menghantui.

Baca juga:HIV/AIDS dan Krisis Moral Generasi Muda: Saatnya Kembali pada Benteng Nilai dan Keimanan


Di sisi lain, kedekatan secara digital ternyata tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional. Banyak anak muda yang aktif berinteraksi di dunia maya, tetapi justru merasa kesepian dalam kehidupan nyata. Relasi keluarga yang renggang dan minimnya ruang interaksi yang hangat membuat sebagian dari mereka kehilangan tempat untuk berbagi beban. Kesepian yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan bahkan depresi.

Yang tidak kalah penting adalah persoalan makna hidup. Ketika orientasi hidup hanya diarahkan pada pencapaian materi dan kepuasan duniawi, banyak generasi muda merasa hampa ketika target-target tersebut tidak berhasil diraih. Kehilangan tujuan hidup yang hakiki membuat rasa putus asa lebih mudah muncul.

Dalam pandangan penulis, berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa krisis yang dialami Gen Z merupakan krisis multidimensi. Bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga berkaitan dengan sistem nilai yang membentuk kehidupan masyarakat. Di tengah budaya sekuler dan kapitalistik, identitas generasi muda perlahan terkikis. Negara dinilai belum optimal dalam menjalankan perannya sebagai pembina generasi, sehingga tidak sedikit anak muda yang justru memperoleh stigma negatif dibandingkan pembinaan yang berkelanjutan.

Padahal, karakter kritis dan kegelisahan yang dimiliki Gen Z sejatinya dapat menjadi modal besar untuk melahirkan perubahan positif apabila diarahkan pada fondasi yang benar.

Baca juga:Bullying di Pesantren: Luka yang Menyingkap Gagalnya Sistem, Bukan Gagalnya Islam


Dalam perspektif Islam, solusi atas persoalan ini tidak hanya menyentuh aspek emosional dan spiritual, tetapi juga menawarkan tatanan kehidupan yang menyeluruh (kaffah). Islam dipandang membawa prinsip Rahmatan lil 'Alamin, yang menghadirkan ketenangan, keadilan, dan keselamatan bagi kehidupan manusia.

Sejarah peradaban Islam juga menunjukkan bagaimana pembinaan generasi melahirkan pemuda-pemuda berkepribadian kuat dan berprestasi dalam ilmu pengetahuan. Nama-nama seperti Al-Khawarizmi yang telah menguasai astronomi dan matematika sejak usia muda, maupun Ibnu Sina yang menjadi dokter istana ketika berusia 18 tahun dan kemudian dikenal sebagai bapak kedokteran modern, sering dijadikan contoh bagaimana pembinaan berbasis nilai mampu melahirkan generasi unggul.