Polisi Usut Beredarnya Hasil Visum Milik 3 Korban Dugaan Pencabulan di Luwu Timur

Ruslan
59 view
Polisi Usut Beredarnya Hasil Visum Milik 3 Korban Dugaan Pencabulan di Luwu Timur
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono. ©ANTARA/Laily Rahmawaty

DATARIAU.COM - Sebuah foto beredar di media sosial Twitter yang memperlihatkan adanya hasil visum milik para korban pencabulan yang diduga dilakukan ayah kandung korban. Diketahui, kasus dugaan pencabulan di Luwu Timur ini menjadi viral dan perbincangan warganet sampai munculnya sebuah tagar #PercumaLaporPolisi.

"Hasil visum yang harusnya ranah privasi, semudah itu diberikan akses ke buzzer. Bahkan pelapor (ibu korban) ditantang untuk sebar video/foto juga. Ini anak-anak loh yang jadi korban. Ngeri banget data, privasi, harkat martabat kita sebagai manusia enggak ada harganya di tangan aparat. #PercumaLaporPolisi," tulis akun Twitter milik @mollynyan12 yang dikutip merdeka.com, Rabu (13/10).

Menanggapi hal itu, polisi mengaku akan mendalami terkait beredarnya surat atau hasil visum milik para korban tersebut.

"Nanti kita dalami ya, kita dalami," kata Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono kepada wartawan saat dikonfirmasi.

Dalam akun Twitter tersebut memperlihatkan hasil visum diduga milik ketiga korban pencabulan. Unggahan itupun mendapatkan like sebanyak 1.585, retweets sebanyak 813 dan qoute tweets sebanyak 307.

Sebelumnya, Tim Supervisi dan Asistensi Polri telah menemukan sejumlah fakta terkait dugaan kasus pencabulan yang terjadi terhadap tiga orang anak yang terjadi di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, salah satu fakta yang ditemukan yakni penyidik menerima surat pengaduan dari RS pada 9 Oktober 2019.

"Sekali lagi, dalam surat pengaduan tersebut saudari RS melaporkan diduga telah terjadi peristiwa perbuatan cabul. Jadi bukan perbuatan tindak pidana perkosaan, seperti yang viral di medsos dan juga menjadi perbincangan di publik. Ini yang perlu Kita ketahui bersama," kata Rusdi kepada wartawan, Selasa (12/10).

Penyidik telah meminta visum et repertum kepada Puskesmas Malili, dan pada 15 Oktober 2019 telah menerima hasil visum et repertum dari Puskesmas tersebut yang ditandatangani oleh Dokter Nurul.

"Kemudian tim melakukan interview terhadap Dokter Nurul pada 11 Oktober 2021. Hasil interview tersebut, Dokter Nurul menyampaikan bahwa hasil pemeriksaannya tidak ada kelainan pada organ kelamin dan dubur korban," ujarnya.

"Fakta ketiga, pada 24 Oktober 2019 penyidik meminta visum et repertum ke RS Bhayangkara Makassar. Hasil dari visum et repertum tersebut, yang keluar pada 15 November 2019 yang ditandatangani oleh Dokter Deni Mathius Spf, M.Kes. Hasilnya adalah yang pertama tidak ada kelainan pada alat kelamin dan dubur, yang kedua perlukaan pada tubuh lain tidak diketemukan," sambungnya.

Lalu, pada fakta keempat, Tim Supervisi pada 31 Oktober 2019 mendapatkan informasi jika RS telah melakukan pemeriksaan medis terhadap ketiga anaknya di Rumah Sakit Vale Sorowako.

"Kemudian informasi ini didalami oleh Tim Supervisi dan Asistensi. Tim melakukan interview terhadap Dokter Imelda, spesialis anak di RS Sorowako yang melakukan pemeriksaan pada 31 Oktober 2019," jelasnya.

Selanjutnya, pada 11 Oktober 2021, pihaknya mendapatkan keterangan bahwa terjadinya peradangan di sekitar vagina dan dubur. Sehingga, ketika dilihatnya ada hal itu langsung diberikan antibiotik dan paracetamol obat nyeri.

"Kemudian juga, hasil interview disarankan kepada orang tua korban dan juga ke Tim Supervisi, agar dilakukan pemeriksaan lanjutan pada dokter spesialis kandungan. Ini masukan dari Dokter Imelda untuk dapat memastikan perkara tersebut," ungkapnya.

"Yang kelima, tim melakukan interview dengan petugas P2TP2A Pemda Luwu Timur, yaitu Saudari Yuleha dan Saudari Hirawati, yang telah melakukan asesmen dan konseling pada saudari RS dan ketiga anaknya," sambungnya.

Rusdi menyebut, hal itu dilakukan pada 8, 9 dan 15 Oktober 2019 lalu. Dari pemeriksaan itu, telah disimpulkan tidak adanya tanda-tanda trauma pada ketiga korban tersebut yang diduga dilakukan ayahnya.

"Yang berikutnya, untuk mengetahui ada tidaknya tindak pidana perbuatan cabul seperti yang terdapat di dalam surat pengaduan dari saudari RS, dan ini juga menindaklanjuti saran dari Dokter Imelda, maka Tim Supervisi minta para korban untuk melakukan pemeriksaan di dokter spesialis kandungan, di mana pemeriksaan tersebut tentunya didampingi oleh ibu korban dan juga pengacara dari LBH Makassar," sebutnya.

Namun, hal itu pun dibatalkan atau tidak jadi dilaksanakan. Karena, ketiga anak tersebut disebutnya mengalami trauma.

"Disepakati oleh ibu korban bahwa pemeriksaan tersebut akan dilakukan di RS Vale Sorowako. Sekali lagi, rumah sakit ini merupakan pilihan dari ibu korban. Tetapi pada tanggal 12 Oktober 2021, sekarang ini, kesepakatan tersebut dibatalkan oleh ibu korban dan juga pengacaranya dengan alasan anak takut trauma," ungkapnya.

Untuk kasus ini sendiri ditegaskan masih dilakukan proses oleh pihaknya. "Tentunya ini masih proses, kita lihat nanti perkembangan dari penanganan kasus di Luwu Timur," tutupnya. (*)

Sumber
: Merdeka.com