Pemkot Batam Catat Permainan Gasing Sebagai Warisan Budaya tak Benda

Sindy Aprilia Dwiyanti
80 view
Pemkot Batam Catat Permainan Gasing Sebagai Warisan Budaya tak Benda
Gambar : detiknews.com

DATARIAU.COM - Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau mencatatkan permainangasingsebagai warisan budaya tak benda, khasanah kekayaan khas daerahMelayukepulauan. Permainan gasing biasa dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa.

"Permainan gasing juga kami catatkan sebagai warisan budaya tak benda. Permainannya ya, bukan gasingnya," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KotaBatam Ardiwinata di Batam, Jumat (15/10).

Ia menyatakanpermainan gasing merupakan satu objek Pemajuan Kebudayaan Melayu yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu.

"Dalam Perda ini, ada 12 Objek Pemajuan Kebudayaan Melayu, salah satunya adalah permainan rakyat, seperti permainan gasing ini," kata Ardi.

Di Batam, gasing dimainkan oleh anak-anak hingga dewasa dan sangat populer. Sebelum pandemi dan Batam masih didatangi banyak wisman, mereka diajak turut memainkan permainan tradisional itu di Lapangan Gasing Kecamatan Belakangpadang.

Pemkot Batam berupaya melestarikan permainan gasing dengan menggelar atraksi dalam pagelaran Kenduri Seni Melayu. Sebelum pandemi Covid-19, pemerintah menyelenggarakan Kenduri Seni Melayu setiap tahunnya, memperingati hari jadi kota.

"Kita upayakan untuk selalu menghadirkan atraksi gasing," kata dia.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Muhammad Zen mengatakan gasing dikenal di hampir seluruh kabupaten kota di Kepulauan Riau. Namun, cara memainkannya berbeda-beda.

Di Natuna permainan gasing dilakukan dengan cara diputar kemudian diletakkan di atas kaca berukuran 40 cm persegi. Cara bertandingnya dengan melihat gasing yang paling lama bertahan.

Sedang di Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Karimun, gasing dimainkan dengan memutar uri langsung di tanah. Setelah uri gasing yang berhenti, maka akan dipangkah oleh gasing lainnya.

Gasing sendiri, kata dia, terbuat dari kayu stigi yang tumbuh di batu, atau kayu asam, atau kayu lebam, yang dikikis. Sedang talinya terbuat dari kulit pohon bebaru yang tumbuh di pantai. Namun, kini masyarakat memainkannya dengan tali nilon. (*)

Source : republika.co.id