Pemasangan Stairlift di Candi Borobudur Picu Kontroversi Publik

Najwa
509 view
Pemasangan Stairlift di Candi Borobudur Picu Kontroversi Publik
Foto: x/@arabnews

JAKARTA, datariau.com - Pemasangan tangga mesin angkut atau stairlift di Candi Borobudur saat kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Presiden Prabowo Subianto pada 29 Mei 2025 menuai beragam tanggapan. Langkah ini dikhawatirkan dapat merusak bangunan cagar budaya yang menjadi warisan dunia tersebut.

Arkeolog Universitas Negeri Malang Ismail Lutfi dengan tegas menolak pemasangan lift tangga tersebut. Menurutnya, pelestarian dan konservasi Candi Borobudur telah dilakukan dengan kerja keras selama puluhan tahun dan tidak bisa dibandingkan dengan kepentingan kenyamanan pihak tertentu.

"Semua itu tidak bisa dibandingkan dengan satu kepentingan yang mengatasnamakan kenyamanan, apalagi bagi pihak tertentu," ujar Lutfi. Ia menekankan pentingnya memperlakukan Borobudur secara proporsional sebagai warisan dunia, bukan sebagai komoditas wisata, religi, atau politik.

Lutfi menyarankan alternatif teknologi augmented reality (AR) agar pengunjung tetap dapat menikmati keindahan Borobudur tanpa harus naik ke struktur utama. Solusi ini dinilai lebih aman untuk kelestarian candi bersejarah.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo mengingatkan bahwa pemasangan stairlift harus tunduk pada aturan pelestarian yang diatur dalam UU Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 serta pedoman UNESCO. Candi Borobudur disusun dengan batuan andesit yang sangat rentan terhadap tekanan, gesekan, maupun benturan yang bisa mengancam keutuhan dan stabilitas struktur.

Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Jhohannes Marbun menambahkan bahwa setiap intervensi terhadap objek cagar budaya harus diawali dengan kajian mendalam sesuai prinsip pelestarian. Kajian tersebut mencakup tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi, termasuk analisis dampak dan upaya meminimalisir potensi kerusakan.

Di sisi lain, Dosen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada Ashar Saputra menjelaskan dari sudut pandang engineering bahwa pemasangan platform stairlift tidak memberikan beban berlebih pada struktur bangunan. Berdasarkan standar mekanikal, stairlift dirancang mengangkut beban maksimal sekitar 250 kilogram dengan asumsi bobot satu orang sekitar 100 kilogram demi faktor keamanan.

Pengelola Kawasan Candi Borobudur melalui Maya Watono, Direktur Utama InJourney Destination Management (IDM), menyatakan pemasangan stairlift dilakukan dengan metode tanpa paku dan bor sehingga tidak merusak batuan candi. Keberadaan stairlift bersifat portable dan tidak hanya untuk kedua presiden, melainkan juga untuk publik yang memiliki keterbatasan mobilitas, terutama biksu yang ingin beribadah.

Pemerintah melalui Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan menyatakan ada rencana menjadikan stairlift sebagai fasilitas permanen di situs warisan dunia tersebut. Fadli menilai fasilitas ini akan membantu pengunjung dengan keterbatasan fisik untuk menikmati Borobudur secara inklusif. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengakui adanya wacana tersebut namun menekankan perlunya rapat resmi dan pertimbangan dari para pemangku kepentingan.***

Sumber: Tempo.co

Penulis
: Najwa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)