Pekerja Pasang Kabel Internet di Pekanbaru Kritis Usai Tersengat Listrik, Keluarga Minta Tanggung Jawab Perusahaan

datariau.com
739 view
Pekerja Pasang Kabel Internet di Pekanbaru Kritis Usai Tersengat Listrik, Keluarga Minta Tanggung Jawab Perusahaan
Foto: Ist.
Muhammad Fathier Risky terbaring lemas di RS Prima Pekanbaru. Hampir seluruh tubuh remaja 20 tahun ini dibalut perban, terutama dari pinggang, dada, tangan hingga punggungnya.

PEKANBARU, datariau.com - Muhammad Fathier Risky terbaring lemas di RS Prima Pekanbaru. Hampir seluruh tubuh remaja 20 tahun ini dibalut perban, terutama dari pinggang, dada, tangan hingga punggungnya. Sekali-sekali dia merintih kesakitan, meringis, karena luka pedih akibat sengatan listrik.

Saat ditemui wartawan pada Senin (10/11/2025) di ruang RS Prima Pekanbaru, Fathier -sapaan akrab Muhammad Fathier Risky- tak bisa banyak bicara. Sebab, sejak dua pekan lalu dia dirawat di rumah sakit swasta tesebut, belum menunjukkan hasil signifikan.

Fathier menderita luka bakar 46 persen, gara-gara tersengat listrik saat menarik kabel jaringan internet bersama rekannya, di Jalan Siak II, Pekanbaru, Selasa (28/10/2025) sekitar pukul 14.43 WIB.

Secara tak sengaja, tangan kanannya menyentuh kabel listrik milik PLN, yang melintang di atas lokasi kerja. Seketika, tubuhnya tersengat listrik dan terlempar ke bawah. Dalam kondisi kritis, rekan-rekannya langsung melarikan ke RS Prima, untuk mendapatkan perawatan medis.

“Dari hasil pemeriksaan dokter, luka bakar anak saya sekitar 46 persen. Sudah sempat dioperasi, tapi sekarang kami kesulitan mendapatkan obat-obatan, karena perusahaan tempat anak saya kerja, tidak lagi bertanggung jawab,” kata Ibu Fathier, Ruri Ria Sari, lirih.

Diceritakan, anaknya bekerja di perusahaan kabel internet, PT In Neo, yang diketahui sebagai vendor My Republic. Sejak awal, PT In Neo sempat menjanjikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan anaknya. Namun belakangan, komunikasi dengan perusahaan, semakin sulit dilakukan.

Sehingga untuk pengobatannya saat ini hanya diberi paracetamol dan obat pereda nyeri saja. Sedangkan obat lain yang disarankan dokter, tidak bisa diberikan, karena tunggakan rumah sakit saat ini sudah mencapai Rp 23,5 juta.

Sementara BPJS Ketenagakerjaan Fathier, ternyata tidak aktif lagi. Padahal selama ini gajinya dipotong setiap bulan Rp100 ribu, untuk iuran BPJS.

"Hari Jumat besok jadwal anak saya operasi lagi. Tapi karena masalah ini, saya tak tahu harus bagaimana. Kami orang susah, suami saya hanya buruh bangunan,” sebut Ruri dengan mata berkaca-kaca.

Petugas Customer Service My Republic Cabang Pekanbaru, yang ditemui di Jalan Sudirman Pekanbaru mengaku, hingga kini pihaknya tidak mengetahui perihal kejadian tersebut.

“Kami hanya mengurus pelayanan dan pemasaran. Untuk teknisi atau vendor, kami tidak bisa memberikan keterangan,” kata petugas tesebut singkat.

Terpisah, Perwakilan Bagian Teknik My Republic Jakarta, Angga Wijaya saat dikonfirmasi mengaku, pihaknya sudah menindaklanjuti kasus ini, bersama vendor terkait.

Bahkan pihaknya juga sudah mengajukan komplain ke PLN, karena kabel listrik di lokasi diduga terpasang terlalu rendah.

“Kami sudah tangani korban dan berkoordinasi dengan vendor. Kabel PLN di lokasi itu tiga fasa dan terlalu rendah, seharusnya berada di ketinggian 12 meter, bukan 7 meter. Kami sudah menyampaikan keluhan ke PLN,” terang Angga.

Lebih lanjut disampaikan, My Republic tidak bertanggung jawab langsung terhadap karyawan vendor, karena seluruh urusan ketenagakerjaan dan keselamatan kerja, menjadi tanggung jawab perusahaan mitra.

“Korban adalah petugas dari mitra kami, PT In Neo. Kami memiliki perjanjian kerja sama (PKS). Semua resiko kerja, termasuk BPJS dan keselamatan kerja, menjadi tanggung jawab pihak vendor,” pungkasnya.***

Tag:Kabel
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)