Kepanikan Kepala Desa Andra Maistar Saat Tahu Ada Warga Sakit Parah

datariau.com
1.001.119 view
Kepanikan Kepala Desa Andra Maistar Saat Tahu Ada Warga Sakit Parah
Foto: Riki
Kepala Desa Tarai Bangun Andra Maistar SSos saat berbincang dengan warganya yang mengalami musibah anak sakit parah.

PEKANBARU, datariau.com - Pagi menjelang siang itu, seorang bapak tampak duduk sambil agak merunduk di kursi depan ruangan Kaur Kantor Desa Tarai Bangun, wajahnya penuh kepanikan. Orang yang belalu-lalang tak membuatnya menegakkan kepala untuk mengetahui situasi di sekitar. Ada risau yang dia pendam.

Datariau.com yang pagi itu ikut salah satu acara di kantor desa melihat keadaan bapak tersebut mencoba menyapanya. "Iya, lagi urus surat keterangan miskin," jawabnya dengan ramah namun tak ingin banyak berkata, seakan tidak menginginkan ada yang menyapanya di sana kecuali orang yang berkepentingan mengenai masalahnya.

"Itu bapak kepala desa sudah datang pak De," sahut seorang pria yang berjalan agak sedikit berlari dari luar pintu kantor desa. Bapak tersebut langsung bangkit dan berpindah duduk ke kursi di depan ruang tunggu kantor desa.

Jam menunjukkan pukul 10.33 WIB, Rabu (9/9/2020) hari itu, kepala desa memang agak terlambat masuk ke kantor karena baru saja melaksanakan kegiatan di luar. Kepala desa juga menerangkan hal itu kepada semua warga yang ada di sana, meminta maaf agak terlambat masuk kantor.

Dengan ciri khasnya yang ramah, kepala desa menyapa satu persatu warganya yang ada di kantor saat itu. "Assalamualaikum pak, halo Ibu, mau mengurus apa? Oh apa yang kurang?" sambil menghampiri dan menanyakan para warga yang ada di sana.

Sampailah di tempat bapak tadi duduk, kepala desa juga menyapanya dan menanyakan sedang mengurus apa dan apakah ada yang terkendala.


Dari sini diketahuilah ternyata bapak itu bernama Risman (44). Dia tengah memperjuangkan pengobatan anaknya bernama Ahmad Apandi (26) yang mengalami sakit aneh, hingga beberapa bagian tubuh membusuk mengeluarkan ulat.

Risman merupakan warga Perumahan Mutiara Blok C nomor 8, Jalan Sukaramai RT 02 RW 01 Dusun IV Tarai Bangun, saat ini merawat anaknya di rumah dengan kondisi yang sangat memprihatikan.

Dia pun mulai bercerita kepada Kepala Desa Tarai Bangun Andra Maistar SSos tentang kondisi anaknya, mengetahui hal ini kepala desa langsung mengambil tempat duduk, menyemprotkan sprei sanitizer dan mendengarkan penyampaian warganya tersebut.

Kepada kepala desa Risman menceritakan kronologis awal penyakit yang menimpa anaknya yang kini hanya bisa terbaring sangat parah dengan beberapa bagian tubuh membusuk, seperti mulut hingga hidung, telinga hingga kepala, daerah kemaluan hingga bagian bokong.

Awalnya sang anak yang bekerja sebagai supir truk mengangkut buah kelapa sawit mengalami luka tertusuk paku di ujung jari, selanjutnya tanpa diduga kulit di 6 bagian tubuh melepuh seperti terbakar dan mengeluarkan nanah. Kata petugas medis di klinik tempat periksa, pasien mengalami infeksi.

"Sekarang beberapa kulit membusuk, kemarin keluar 26 ulat dari kulit yang membusuk di bagian kepala. Dua minggu belakangan paling parah. Sekarang terbaring, duduk tidak bisa," terang Risman yang biasa disapa Pak De.


Pihak keluarga telah mencoba membawa pasien ke beberapa klinik yang ada di Desa Tarai Bangun juga di kota Pekanbaru, kata dokter bahwa anaknya mengalami infeksi, namun hanya mendapat penanganan seadanya karena memang seharusnya dengan kondisi korban yang sangat parah, dirawat secara intensif di rumah sakit dengan dokter spesialis.

Akan tetapi karena keterbatasan biaya, keluarga hanya bisa melakukan perawatan seadanya di rumah dengan memberikan obat salep dan membungkus luka dengan kain perban.

Kepala desa sempat kaget mendengar hal itu, dalam artian seorang warga yang sakit parah namun tidak pernah melapor ke puskesmas desa, padahal fasilitas di puskesmas desa cukup lengkap dan bisa didapatkan secara gratis, dengan demikian desa bisa memantau kondisi warga.

Kepala desa kemudian mengumpulkan tenaga medis puskesmas, dari hasil diskusi disepakati pasien segera dibawa ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan medis secara serius, pihak puskesmas juga menelepon Puskesmas Tambang, dan kepala desa mengkondisikan di kecamatan untuk surat menyurat agar warganya ini bisa segera mendapatkan perawatan.

Bahkan kades tampak dengan panik bolak balik ke beberapa ruangan menyelesaikan dengan cepat surat menyurat untuk administrasi pasien ini, karena si pasien ternyata belum mengantongi KTP Desa Tarai Bangun, hanya sang bapak yang sudah terdaftar sebagai warga Desa Tarai Bangun, meski demikian kepala desa mengupayakan tetap bisa dibantu biayanya menggunakan Jamkesda, dengan cara membuat surat keterangan domisili.

Setelah surat menyurat sudah selesai, tampak kepala desa kembali mondar mandir, ternyata menanyakan masyarakat di sana yang memiliki mobil untuk bisa mengantarkan pasien tersebut ke rumah sakit. Sayangnya tidak ada warga yang bisa, lagi pula dengan kendaraan pribadi akan kurang efektif untuk masuk rumah sakit di masa pandemi ini.

Kepala desa tak kehabisan akal, dirinya tampak menelepon dan akhirnya dijelaskan ke Pak De Risman, bahwa anaknya akan dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulan, dan itu gratis.

Wajah Pak De Risman yang tadi murung penuh kegelisahan kini berubah menjadi haru. Sebelum melangkah bersiap-siap pulang ke rumah untuk membawa anaknya ke rumah sakit, kepada datariau.com dia mengaku sangat terharu dengan respon luar biasa kepala desa. Seorang kepala desa yang begitu peduli dengan warganya bahkan seperti keluarga sendiri, meskipun warga tersebut hanya tinggal di desa tanpa mengantongi KTP sesuai domisili.

"Ini luar biasa sekali, saya tadinya panik, tak tau lagi mau berbuat apa, kepala desa sangat respon cepat, kita ucapkan terimakasih, hanya Allah yang bisa membalas kebaikannya," kata Pak De Risman penuh haru sambil berlalu. Sudah ada harapan baru di langkahnya. (riki)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)