PARIS, datariau.com - Benua Eropa tengah menghadapi salah satu gelombang panas paling ekstrem dalam sejarah modern. Sejak pertengahan Juni 2026, suhu di sejumlah negara Eropa melonjak hingga melampaui 40 derajat Celsius, memicu ribuan kasus darurat medis, kebakaran hutan, gangguan infrastruktur, hingga menyebabkan lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) yang tercatat hingga akhir Juni. Para ilmuwan menyebut peristiwa ini sebagai gelombang panas terburuk yang pernah tercatat di Eropa dan hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Gelombang panas mulai berkembang pada sekitar 18-20 Juni 2026 ketika sistem tekanan tinggi atmosfer yang sangat kuat terbentuk di atas Eropa Barat dan Tengah. Fenomena ini kemudian menjebak massa udara panas dari Afrika Utara sehingga menyebabkan suhu terus meningkat selama berhari-hari tanpa jeda pendinginan yang signifikan.
Pada 21 Juni, sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Belgia, Swiss, Portugal, dan Inggris mulai mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem. Dalam beberapa hari berikutnya, suhu mencapai level yang belum pernah tercatat sebelumnya di sejumlah wilayah Eropa.
Baca juga:Kasus Kebakaran di Kota Pekanbaru Mengkhawatirkan, 70 Kejadian Hanya dalam Empat Bulan Pertama 2026
Memasuki pekan terakhir Juni, gelombang panas meluas ke Eropa Tengah, Balkan, hingga Ukraina, memengaruhi lebih dari 130 juta penduduk. Pemerintah di berbagai negara membuka pusat pendinginan darurat, membatasi aktivitas luar ruangan, serta mengeluarkan peringatan kesehatan bagi masyarakat, terutama lansia dan anak-anak.
Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.300 kematian berlebih telah tercatat di Eropa sejak 21 Juni 2026. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena banyak kasus kematian akibat panas ekstrem baru teridentifikasi beberapa hari atau minggu setelah kejadian.
Prancis menjadi negara dengan dampak paling parah. Badan kesehatan nasional Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih sejak 24 Juni, mayoritas dialami warga berusia di atas 65 tahun. Selain itu, tercatat puluhan kematian akibat tenggelam karena masyarakat berupaya mencari tempat untuk mendinginkan tubuh.
Baca juga:2 Helikopter Didatangkan dari Palembang Untuk Bantu Padamkan Karhutla di Riau
Di Siprus, dua anak meninggal dunia setelah terjebak di dalam mobil yang terpapar panas ekstrem. Di Polandia, dua peserta ajang balap sepeda dilaporkan meninggal akibat suhu tinggi, sementara berbagai negara lain melaporkan peningkatan tajam kasus serangan panas (heat stroke), dehidrasi, dan kegagalan organ.
Gelombang panas tahun 2026 memecahkan berbagai rekor suhu nasional di Eropa, di antaranya Republik Ceko mencapai 41,9°C, menjadi suhu tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut.
Jerman mencatat 41,7°C, memecahkan rekor nasional sebelumnya, sejumlah wilayah Prancis melampaui 43°C, Serbia mengalami suhu hingga 40,7°C, tertinggi untuk bulan Juni, Italia menempatkan sedikitnya 22 kota dalam status siaga merah akibat ancaman panas ekstrem.
Baca juga:Sudah 3 Hari Karhutla di Kelurahan Rokan Belum Padam, 200 Hektare Lahan Menyala
Para meteorolog menjelaskan bahwa gelombang panas kali ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer dan iklim global.
1. Fenomena "Omega Block"
Penyebab utama adalah terbentuknya pola atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block, dinamai berdasarkan bentuknya yang menyerupai huruf Yunani Ω (omega). Pola ini menciptakan area tekanan tinggi yang sangat stabil sehingga udara panas terperangkap di satu wilayah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
2. Massa Udara Panas dari Afrika Utara
Sistem tekanan tinggi tersebut menarik udara sangat panas dari Gurun Sahara menuju Eropa Selatan dan Barat. Akibatnya, suhu permukaan meningkat secara drastis dan bertahan lama.
3. Pemanasan Global Akibat Aktivitas Manusia
Studi cepat yang dilakukan kelompok ilmuwan World Weather Attribution menyimpulkan bahwa gelombang panas Eropa 2026 tidak mungkin terjadi tanpa pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil. Mereka memperkirakan suhu malam ekstrem saat ini menjadi sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade lalu.
Mengapa Suhu 35-40°C Sangat Mematikan di Eropa?
Banyak negara tropis terbiasa menghadapi suhu tinggi, namun Eropa memiliki sejumlah kerentanan khusus. Beberapa faktor utama antara lain:
- Bangunan dirancang untuk mempertahankan panas, bukan membuang panas.
- Penggunaan pendingin ruangan (AC) relatif rendah dibandingkan negara-negara panas.
- Populasi lansia yang besar lebih rentan terhadap heat stroke.
- Suhu malam hari tetap tinggi, sehingga tubuh manusia tidak memperoleh kesempatan untuk mendinginkan diri.
- Efek pulau panas perkotaan (urban heat island) membuat suhu di kota-kota besar jauh lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya.