Darah Itu Merah Jenderal!

Ruslan
2.195 view
Darah Itu Merah Jenderal!
Foto: Net

DATARIAU.COM - Darah itu merah jenderal, suatu kata yang tak mungkin kita lupakan dimana Setiap tanggal 30 September masyarakat Indonesia teringat dengan peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia, yang mana pada saat itu terjadi pembantain yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mereka bahkan tak segan-segan membantai para kiai dan ulama. pada dasarnya pembantaian itu merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat.

Dilansir dari republika.co.id Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 tidak hanya melibatkan para pejabat pemerintah pusat tapi juga penduduk biasa yang dimiliki rasa dendam terutama ulama-ulama tradisional dan santri.

Ulama dan santri dikunci di masjid yang kemudian dibakar hanya karena mereka benci dengan agama muslim.

Pada 1 Oktober 1948 dengan alasan kaum FDR-PKI merasa tidak suka pada orang-orang Masyumi, semua pimpinan Masyumi dan PNI dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi tubuh mereka dipisahkan dengan kepalanya, orang-orang yang dibunuh dibiarkan tergeletak di sepanjang jalan di berbagai belahan kota Madiun sehingga hanya dalam beberapa hari saja darah manusia telah membanjiri kota madiun.

PKI bergerak ke pesantren Sabilul Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan pesantren takeran. Bersamaan dengan kudeta terhadap pemerintah, pendukung PKI mengincar tokoh-tokoh dari pesantren Takeran.

Karena pesantren takeran pada masa pimpinan kiai imam Mursjid Muttaqien merupakan pesantren yang paling berwibawa di kawasan Magetan.

Ba'da salat Jumat tepatnya tanggal 17 September 1948 pimpinan pesantren takeran kiyai imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI, yang diantara salah satunya mantan santri pondok pesantren takeran. Ia bernama Ilyas alias Sipit yang dulunya dikenal sebagai kepala takeran yang mengekang senapan.

Saat didatangi tokoh PKI pimpinan takeran di bawa keluar dari mushola kecil untuk berunding mengenai republik Soviet Indonesia versi PKI.

Saat diwawancarai dari tim jurnalis insan Islam bersatu, menurut salah satu saksi mata ikhsan mengungkapkan pada saat itu pesantren sudah dikepung ratusan orang PKI dengan berpakaian hitam serta memakai ikat kepala berwarna merah dan dilengkapi dengan senapan.

Satu-persatu tokoh-tokoh pesantren takeran ditarik PKI. Diawali dengan penangkapan sepupu kiai imam Mursjid yaitu kiai Muhammad Noor dengan alasan perundingan membutuhkan kehadiran kyai Muhammad Nur.

Selanjutnya, PKI mengatakan dua tokoh pimpinan pesantren takeran bisa pulang setelah ustadz Muhammad Tarmuji datang menjemput mereka langsung ke Gorang Gareng, yaitu markas PKI yang terletak 6 KM sebelah barat bagian Takeran.

PKI terus menangkap tokoh-tokoh penting pesantren takeran dan berakhir dengan penangkapan ustadz yang berasal dari Al Azhar, Mesir yang bernama Hadi adaba'.

Tentu itu semua hanyalah strategi PKI yang tidak suka dengan tokoh-tokoh agama Islam.

Tokoh yang ditangkap tidak pernah kembali dan sebagian besar sudah ditemukan menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian PKI yang tersebar di daerah Magetan.

Namun anehnya, tokoh penting pesantren Takeran yaitu kiai imam mursjid yang tidak ditemukan mayatnya. Bahkan sehingga tahun 1990 mayat beliau tidak kunjung ditemukan.

Hari Sabtu page tepatnya pada tanggal 18 september 1948 ulama dan Kiai pesantren burikin diserbu dan diseret sejauh 500 meter dari pesantren burikin ke desa batokan.

Penulis
: Khumar Mahendra
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)