INHU, datariau.com - Dua proyek APBN tahun 2014 yang dikelola Bandar Udara Japura Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau kini menjadi polemik. Pasalnya, sampai saat ini upah pekerja belum juga dibayar oleh rekanan kontraktor pelaksana.
Proyek di Bandar Udara Japura Rengat yang menjadi polemik adalah proyek pembangunan drainase sepanjang 800 meter dan proyek penimbunan, pemenuhan standar runway strip tahap I sisi selatan landas pacu termasuk pengawasan yang dilaksanakan CV Ellatec Dwidaya hingga kini pekerja belum kunjung dibayarkan.
Sebagaimana yang dituturkan salah seorang pekerja Mamang, kepada datariau.com sampai kini uang upahnya saat bekerja membuat drainase di bandara belum dibayarkan oleh kontraktor.
"Uang saya yang belum dibayar sekitar Rp9 juta lagi dan sampai sekarang ini nomor kontraktor tersebut tidak lagi aktif. Bila tidak juga dibayar dalam bulan ini saya akan hancurkan itu drainasenya," ancam Mamang, Kamis (8/1/2015).
Pekerja lainnya Herman juga menyatakan bahwa dirinya belum dibayarkan upah oleh kontraktor dalam pengerjaan bandara tersebut. "Bandara Japura Rengat di sisi selatan itu saya yang melakukan penimbunan sampai sekarang saya juga belum dibayar oleh Purba selaku kontraktor. Bila sampai bulan ini kontraktor tidak juga membayar uang saya, saya akan ambil lagi tanah tersebut," ujar Herman.
Terpisah, akfitis LSM Peta Siswanto mengatakan, bahwa kondisi ini adalah akibat menggunakan rekanan kontraktor luar daerah. Seharusnya pihak bandara Japura tidak menggunakan kontraktor luar karena di Inhu banyak rekanan kontraktor yang mampu dan bisa melakukan pekerjaan tersebut.
"Tidak hanya itu, saya juga dengar bahwa proyek di Bandara Japura Rengat itu milik adik kepala bandara. Disinilah terjadi monopoli oleh kepala bandara, seharusnya selaku pimpinan tidak boleh seperti itu. Kita minta Dinas Perhubungan Provinsi Riau bisa berlaku tegas dengan adanya kejadian ini," singkat Siswanto.
Terkait hal ini Kepala Bandara Japura Rengat Paul Benjamin Sianturi ST MM saat disambangi di kantornya sedang tidak berada di tempat. Saat hal ini dicoba tanyakan kepada Kepala Tata Usaha Bandara, Mumuh, mengatakan pihaknya akan melakukan kordinasi kepada atasan mereka yakni kontraktor atas nama Purba.
"Karena sampai hari ini pak Purba tersebut tidak bisa dihubungi, tapi gimana pun kita akan cari solusinya mengenai permasalahan ini," ucapnya.
Disinggung mengenai informasi yang berkembang bahwa proyek bandara tahun 2014 ini dikerjakan adik kepala bandara, Mumuh mengaku tidak begitu paham masalah tersebut.
"Wah, kalau itu saya tidak tahu, silakan tanya sama yang bersangkutan langsung saja," singkatnya. (her)