BENGKALIS, datariau.com - Bertemakan "penyuluhan tentang kesadaran lingkungan dan pendidikan mangrove kepada pelajar dan masyarakat desa Sepahat", mahasiswa Kukerta desa Sepahat Universitas Riau tahun 2019, bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau mengadakan acara sosialisasi sekaligus penanaman 1000 batang mangrove, di desa Sepahat, Kecamatan Bandar Laksamana, kabupaten Bengkalis, Senin (29/7/2019).
Hal ini merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian nyata mahasiswa terhadap lingkungan dan juga kesejahteraan masyarakat. sebagai buah bakti pada negeri dan juga kepada seluruh rakyat Indonesia.
"Kegiatan ini merupakan salah satu betuk daripada pengamalan Tri Darma perguruan tinggi yang selama ini menjadi sumpah bagi kami mahasiswa," ungkap koordinator desa Sepahat, Teguh P Halala, melalui rilis yang diterima datariau.com.
Diterangkannya, inisiatif muncul setelah melihat bagaimana keganasan ombak di Desa Sepahat yang berasal dari laut lepas selat Malaka yang setiap tahunya telah menyebabkan abrasi cukup parah. Merujuk kepada ungkapan kepala desa Sepahat, M Azlan Lc, bahwa setiap tahunya abrasi yang disebabkan ombak selat Malaka kurang lebih 10-25 meter/tahun.
"Tentu hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dan tindakan nyata baik dalam hal pencehagahan dan juga perbaikan," terangnya.
Bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau, kemudian mahasiswa mencoba menginisiasi sebuah kegiatan guna mencegah abrasi tersebut. Acara yang kemudian dipilih adalah memberikan pelatihan sekaligus penanaman pohon mangrove. Dimana sesuai dengan fungsinya, kehadiran pohon mangrove dapat menjadi salah satu alternatif dalam mencegah dan menyelamatkan pantai daripada abarasi.
"Acara ini dihadiri 3 pembicara, mereka merupakan pakar-pakar di bidang mangrove, Ir Irvina Nurrachmi MSc, Prof Dr Ir Bintal Amin MSc, dan Dr Ir Musrifin Galib MSc," terangnya.
Acara ini disambut baik oleh pemerintah desa Sepahat dan juga masyarakat sekitar, kepala desa Sepahat dalam kata sambutanya berterima kasih kepada LPPM UR dan juga Mahasiswa Kukerta UR yang telah menginisisasi acara tersebut, berharap kegiatan tidak terhenti sampai disini. Agar ada pelatihan dan sosialisasi lanjutan sehingga abrasi desa Sepahat benar-benar dapat ditangani dengan tuntas.
Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB di kantor desa Sepahat. Dibuka dengan pembacaan do'a oleh mahasiswa Kukerta kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan kepala desa juga pewakilan LPPM.
Acara sesi pertama atau pemberian materi dilakukan secara bergantian oleh narasumber yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan saling bertukar fikiran.
Sesi pertama berakhir pada pukul 11.30. Kemudian dilanjutkan dengan penanaman secara simbolik pohon mangrove di tepi pantai.
"Harapan kita adalah bagaimana desa Sepahat ini mampu menjadi desa yang maju, berkembang dan terhindar daripada bahaya abrasi yang selama ini terkenal bagi pantai-pantai di kawasan selat Malaka," ungkap salah seoarang pemateri seusai melakukan penanaman secara simbolik. (rls)