SIAK, datariau.com - Keberadaan Jembatan Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah atau dikenal jembatan Teluk Masjid, saat ini sangat memprihatinkan, bahkan jika tidak ada perhatian dari pemerintah baik pemerintah kabupaten Siak maupun Pemerintah Provinsi Riau selaku pemilik aset, jembatan tersebut dikhawatirkan hanya tinggal nama.
Bagaimana tidak, jembatan yang menghubungkan dua kecamatan yakni Kecamatan Sungai Apit dan Kecamatan Sabak Auh ini sering dikeluhkan oleh masyarakat dilalui truk bertonase besar, dikhawatirkan truk-truk pengakut sawit yang setiap hari berlalu-lalang akan berdampak pada kekuatan dan ketahanan jembatan dan sewaktu-waktu bisa ambruk.
Untuk itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Sungai Apit, Erman Episabri, meminta permerintah segera mengambil sikap tegas untuk mengatasi persoalan yang sudah lama dikeluhkan oleh masyarakat Sungai Apit-Sabak Auh ini.
"Pemerintah terkesan tidak peduli dan tidak ada tindakan tegas, ini terbukti dari sudah beberapa kali disoroti oleh masyarakat dan media tetapi tidak digubris. Kali ini saya atas nama Himpunan Mahasiswa Sungai Apit yang angkat bicara, tolong kepada pemerintah baik itu pemerintah kabupaten selaku perpanjagan tangan Pemrov Riau segera bertindak, atau kalau perlu Pemrov Riau yang turun tangan langsung untuk melihat kondisi aset daerah yang tidak terjaga ini," ungkap Erman Episabri, Rabu (24/7/2019).
Tidak hanya persoalan truk bertonase besar, Erman juga mempertanyakan terkait tidak adanya satupun penerangan jalan di loksi jembatan, sehingga jembatan kerap kali dijadikan tempat balap liar hingga beragam kegiatan negatif lainnya.
"Dulu sempat ada, tetapi karena dugaan adanya tangan-tangan jahil yang merusak dan mengambil fasilitas seperti lampu jalan ini sekarang jadi gelap gulita, tetapi bukan berarti pihak terkait lepas tangan, carikanlah solusolinya seperti apa, agar jembatan yang dibagun miliaran rupiah ini bisa dilalui oleh masyarakat dengan nyaman dan tenang, karena kondisi jembatan yang gelap sering dijadikan balap liar dan rawan kecelakaan," beber Erman yang saat ini sedang menimba ilmu di salah satu Universitas di Sumatera.

Tidak hanya itu, lanjut Erman, pemerintah juga harus sportif dan jangan terkesan mementingkan kelompok kepentingan tertentu, pemilik modal, pengusaha sawit dan kepentingan masyarakat ramai dikorbankan, karena jembatan tersebut dibangun dari uang pendapatan pajak dari masyarakat ramai, tidak pemilik modal tertentu.
"Tolonglah didengar wahai pemilik kuasa, kalian dipilih oleh rakyat sebagai pemberi penyalur aspirasi dan pemberi solusi, jadi mohon hargai suara rakyat. Terkait apakah akan mengaktifkan kapal ferry atau alternatif lain untuk truk-truk bertonase ya itu urusan pemerintah, karena pemengang pendapatan daerahkan peerintah," katanya.
Erman juga menyampaikan, sekaya apapun pengusaha-pengusaha yang melintasi jembatan Teluk Mesjid tersebut, jika jembatan tersebut ambruk tidak akan mampu melakukan ganti rugi. Jembatan ini satu-satunya ikon dua kecamatan sebagai penyambung roda perekonomian dan sekaligus kerja nyata pemerintah sebelumnya.
"Tolong pemerintah sekarang rawatlah dengan baik, karena ini aset daerah yang ketika ingin membangunnya dulu melalui proses yang lama," pungkas Erman. (rls)