PASAMAN BARAT, datariau.com - Sebanyak 1.050 guru, siswa, mahasiswa, dan pegiat literasi memadati Balerong Anak Nagari, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, Sabtu (10/10/2026). Mereka mengikuti Seminar Literasi bertajuk “Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Literat” yang mengajak masyarakat memperkuat budaya membaca dan menulis.
Kegiatan yang digagas Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat (FPL Pasbar) bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Pasaman Barat ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas dalam membangun generasi yang literat.
Seminar dibuka secara resmi oleh Bupati Pasaman Barat, Yulianto. Turut hadir Bunda Literasi Kabupaten Pasaman Barat, Ny. Sifrowati Yulianto, Ketua FPL Pasbar sekaligus Ketua Panitia Denni Meilizon, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Sumatera Barat, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), jajaran Dinas Pendidikan, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny. Erisa Doddy San Ismail, serta ratusan guru, pelajar, mahasiswa, dan pegiat literasi.
Duta Baca Indonesia periode 2021??"2026, Gol A Gong, menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut. Novelis yang telah menulis lebih dari 200 buku dan menjelajahi 27 negara itu berbagi pengalaman mengenai pentingnya literasi dalam membangun karakter, memperluas wawasan, serta mendorong lahirnya karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Gol A Gong mengajak para guru menjadi penggerak budaya membaca di lingkungan sekolah. Sementara itu, para pelajar didorong untuk tidak hanya gemar membaca, tetapi juga berani menulis dan menuangkan gagasan sebagai kontribusi bagi masa depan bangsa.
Sebelum seminar dimulai, para peserta disambut Tari Pasambahan yang dibawakan siswa SD Negeri 07 Pasaman. Suasana adat Minangkabau semakin terasa melalui prosesi pemasangan deta, penutup kepala khas Minangkabau, oleh Bupati Yulianto kepada Gol A Gong sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.
Bupati Borong Buku, Ajak Peserta Dukung Penulis
Salah satu momen penting dalam seminar tersebut terjadi ketika Bupati Yulianto membeli lima buku karya Gol A Gong berjudul Raket, Pena, dan Petualangan sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan literasi.
Tidak berhenti pada pembelian pribadi, Yulianto juga mengajak seluruh tamu undangan dan peserta seminar untuk membeli buku karya Duta Baca Indonesia tersebut.
Ajakan itu mendapat sambutan antusias. Sejumlah peserta terlihat mengantre untuk membeli buku, menunjukkan dukungan terhadap penulis sekaligus upaya menumbuhkan kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
Buku-buku yang dibeli Bupati selanjutnya diserahkan kepada Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pasaman Barat agar dapat menjadi koleksi publik dan dimanfaatkan pengunjung Perpustakaan Daerah Pasaman Barat.
Langkah tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap akses masyarakat pada bahan bacaan. Buku yang dibeli tidak hanya menjadi koleksi pribadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat luas.
Literasi Jadi Fondasi Pembangunan Manusia
Dalam sambutannya, Bupati Yulianto menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik, seperti jalan dan gedung. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan penguatan budaya literasi juga harus menjadi perhatian utama.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan dinamika geopolitik dunia menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan berkarakter. Literasi menjadi salah satu fondasi penting untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi tantangan masa depan.
“Dalam situasi dunia saat ini dengan berbagai dinamika geopolitik, Indonesia membutuhkan anak-anak hebat yang mampu mengawal masa depan bangsa. Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah melalui kegiatan literasi,” ujar Yulianto.
Ia menjelaskan, literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi mencakup kemampuan memahami informasi, menyaring pengetahuan, memperluas wawasan, mengembangkan daya pikir, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Yulianto juga memberikan apresiasi kepada para guru yang dinilainya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas generasi penerus bangsa.
“Guru adalah pahlawan kita. Siapa pun yang hebat hari ini tentu mendapatkan pendidikan dari seorang guru. Karena itu, kita harus memberikan apresiasi kepada guru-guru yang dengan penuh keikhlasan terus mendidik anak-anak kita,” katanya.
Ia berharap gerakan literasi dapat menjadi sarana untuk mengembangkan karakter, minat, bakat, dan kreativitas generasi muda ke arah yang positif. Kebiasaan membaca dan kegiatan produktif, menurutnya, perlu terus diperkuat sebagai bagian dari upaya mencegah berbagai persoalan sosial di kalangan remaja, termasuk kekerasan dan tawuran antarpelajar.
Yulianto menambahkan, upaya membangun generasi berkualitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat harus saling mendukung dalam menciptakan lingkungan yang mendorong anak-anak terus belajar.
Bunda Literasi Ajak Masyarakat Budayakan Membaca
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Pasaman Barat, Ny. Sifrowati Yulianto, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan budaya membaca sebagai gerakan bersama.
Ia menegaskan, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan buku, tetapi juga oleh kemauan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan.
“Gerakan literasi merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan komunitas harus berjalan bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca,” ujarnya.
Menurut Sifrowati, kebiasaan membaca perlu ditanamkan sejak usia dini agar rasa ingin tahu dan semangat belajar anak terus berkembang.
Buku dapat membuka wawasan dan memperkenalkan anak pada berbagai pengetahuan, sedangkan kemampuan menulis memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menyampaikan gagasan serta menghasilkan karya yang dapat menginspirasi generasi berikutnya.
Ia juga menilai kehadiran Gol A Gong memberikan motivasi tersendiri bagi guru dan pegiat literasi di Pasaman Barat. Pengalaman sang Duta Baca Indonesia dalam membaca, menulis, dan berkarya diharapkan dapat mendorong peserta untuk terus mengembangkan kemampuan diri.