DATARIAU.COM - Teknologi informasi berkembang pesat dan sangat mempengaruhi hidup manusia. Teknologi informasi yang paling banyak digunakan masyarakat adalah media sosial. Berbagai kegiatan menjadi mudah karena hadirnya media sosial di dalam kehidupan kita. Tapi sayang, kenyataannya malah berbalik. Kenyataanya sekarang ini banyak ditemukan orang yang lebih peduli dengan baterai smartphonenya dibanding dengan lingkungan sekitar. Masalah lingkungan yang terus terjadi hingga saat ini telah menjadi ancaman serius bagi dunia internasional. Bahkan dalam hal perkembangan teknologi informasi sekalipun. Meski banyak penelitian dan investigasi terhadap masalah lingkungan terus berlanjut dilakukan, tetapi solusi yang ditawarkan belum sepenuhnya mampu mengatasinya masalah lingkungan. Sebagaimana Fredik Melkias Boiliu (2020) berpendapat bahwa kecepatan seseorang dapat mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara negara maju, tetapi juga di Indonesia.
Era digital memberikan kemudahan, kenyamanan, dan kesenangan bagi manusia, memudahkan manusia untuk saling berkomunikasi. Namun, dengan adanya kemajuan itu juga memberikan dampak buruk akan kepekaan moral. Terlihat ada beberapa kesenjangan moral di lingkungan sekitar karena kurangnya perilaku pembiasaan mengenai moral, akhlak maupun karakter. Adapun pada lima tahun yang lalu, Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara yang mengunjungi situs porno di dunia maya, menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, peringkat ini setiap tahun naik. Anehnya, ada anak di bawah umur di antara mereka yang mengunjungi situs porno. Dikutip dari kompas.com Sebanyak 101 anak yang putus sekolah dan ikut serta dalam tawuran dan kenakalan remaja lainnya di Surabaya, Jawa Timur, diundang untuk memberikan komentar. Kasus tersebut terjadi karena pengaruh jejaring sosial.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral Pancasila. Nilai-nilai moral tersebut meliputi seluruh aspek kehidupan manusia sebagai bangsa dan negara. Nilai-nilai moral tersebut merupakan nilai-nilai yang mengatur ketuhanan, kemanusiaan, persatuan bangsa, demokrasi, dan keadilan, namun seiring berjalannya waktu, terutama dengan kemajuan teknologi, seolah-olah menggerogoti nilai-nilai moral suatu bangsa, terutama generasi muda. Setelah remaja mengenal internet bergabung dengan situs yang ada di internet seperti Facebook dan situs lainnya, seperti game online yang membuat remaja betah di depan komputer maupun gadget bahkan terkadang bergadang sampai larut malam sehingga remaja cenderung menjadi malas dalam hal belajar. Tanpa pengawasan dari orang tua remaja dengan mudah mengakses foto atau vidio dewasa hal ini jika tidak di cegah tentu dapat memicu hal-hal negatif yang tidak di inginkan tidak bisa di pungkiri kita hidup bermasyarakat dengan kemajemukan sifat dan perilaku. Hal ini tidak mungkin bagi kita untuk mengubah perilaku setiap individu menjadi sesuai dengan keinginan atau baik menurut penilaian kita, belum tentu juga baik bagi orang lain.
Era modern juga bisa dikatakan sebagai era dimana marak sekali yang namanya perkembangan, baik itu perkembangan kebudayaan, perkembangan pendidikan maupun teknologi. Akan sangat di sayangkan apabila adanya era global ini malah membuat generasi mudanya tidak memiliki nilai moral dalam dirinya. Moralitas adalah sesuatu yang membatasi, artinya tidak hanya terlihat baik, tetapi juga membimbing perilaku dan pemikiran seseorang ke arah yang baik. Moralitas didasarkan pada disiplin. Realisasi moral yang tidak disiplin identik dengan moralitas. Untuk dapat membentuk karakter baik tentunya perlu dipersiapakan sejak sedini mungkin karena masa usia dini merupakan masa keemasan, pada masa ini anak akan menyerap apa saja yang diberikan kepadanya entah itu dari perkataan dan perbuatan orang tua atau dari lingkungannya. Bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai agama dan moral. Nilai luhur inipun dikehendaki menjadi motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam rangka melaksanakan sila-sila lainya dalam Pancasila.
Perubahan teknologi komunikasi yang sangat cepat dan pesat dari tahun ke tahun dapat mempengaruhi cara berpikir seorang remaja dan mempengaruhi interaksi sosial mereka. Perubahan teknologi komunikasi ini dapat mempunyai dampak positif dan negatif bagi seorang remaja. Apalagi masa remaja adalah masa transisi yang sedang mencari jati diri. Tanpa adanya bimbingan, dan pengawasan dari keluarga ataupun orang-orang terdekat, teknologi komunikasi dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbuatan yang negatif, yang melanggar nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Masa remaja juga merupakan masa berpikir kritis. Dimana perubahan kognitif yang memungkinkan peningkatan berpikir kritis di masa remaja mencakup: (1) Meningkatnya kecepatan, otomatisasi, dan kapasitas dalam memroses informasi, yang memungkinkan penggunaan informasi yang diperoleh untuk dimanfaatkan bagi tujuan-tujuan lain (2) isi pengetahuan yang lebih luas di berbagai bidang (3) meningkatnya kemampuan untuk mengkonstruksikan kombinasi baru dari pengetahuan dan (4) penggunaan strategi atau prosedur secara lebih luas dan spontan dalam mengaplikasikan atau memperoleh pengetahuan, seperti perencanaan, mempertimbangkan berbagai alternatif, dan pengawasan kognitif. Pada dasarnya jika moral sudah terbentuk melalui proses dasar yaitu imitasi maka hal itu akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari hari.
Perilaku amoral atau perilaku buruk yang sudah didapatkan anak sejak dini yang mana pada masa itu anak belum bisa membedakan mana hal yang baik dan buruk, maka pada saat anak menjadi dewasa ia tidak akan benar-benar memahami akan perilaku yang benar dan perilaku yang salah. Berdasarkan observasi yang terlihat di lapangan terdapat perilaku tidak wajar oleh remaja yang mana peneliti maksud yaitu remaja bermain internet secara berlebihan sehingga dapat melalaikan kewajiban seperti sholat dan kurangnya waktu belajar hal ini di karenakan sudah keasyikan berinternet seperti instagram, youtube, game online, dan lain sebagainya. Namun di khawatirkan jika internet telah disalah gunakan dan kurangnya pengawasan dari orang tuanya sehingga remaja semakin merajalela untuk berinternet. Namun, pada kenyataannya di lapangan sedikit sekali remaja yang mendapat pengawasan dalam penggunaan internet ini. Remaja dianggap sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik sehingga sebagian orang tua memberikan kebebasan dalam hal ini, karena selain manfaat yang beragam seperti yang dijabarkan diatas internet adalah marabahaya yang dapat menyebabkan malapetaka bagi penggunanya, seperti kebanyakan kasus yang terjadi pada saat sekarang seperti berita hoax, peneroran, situs-situs porno yang banyak muncul saat membuka internet tanpa pengawasan membuka mesin pencarian seperti Google, Instagram, Youtube, dan lainnya yang hanya dengan satu klik dapat merusak jaringan otak pada remaja karena situs buruk tersebut, belum lagi bahaya yang lain seperti kasus penipuan yang banyak terjadi sekarang ini, bahkan ada yang menjadi korban jutaan rupiah.
Generasi X dan generasi Y adalah generasi pengguna teknologi yang mendominasi dalam perkembangan teknologi di zaman ini. “Generasi Y (lahir tahun 1981-1994) dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter: Mereka juga suka main game online. Selanjutnya adalah generasi Z (lahir tahun 1995-2010). Mereka punya kesamaan dengan generasi Y, yang membedakan adalah mereka mampu mengoperasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Teknologi dan gadget canggih telah akrab dengan manusia sejak mereka kecil yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Media sosial pun seakan sudah menjadi candu bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja.
Remaja masa kini tidak bisa lepas hampir 24 jam dari smartphonenya. Facebook, twitter, path, youtube, instagram, line, dan whatsapp adalah media sosial yang sering digunakan oleh kalangan remaja yang memang menarik untuk digunakan oleh remaja. Karena media sosial atau yang sering disebut medsos sangat banyak menawarkan kemudahan yang membuat remaja betah berlama-lama. Perilaku atau karakteristik Generasi Y di setiap daerah Indonesia, pasti memiliki perbedaan karakteristiknya. Namun secara keseluruhan, bahwa generasi Y sangat terbuka pola komunikasinya dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Mereka juga pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Contohnya di setiap provinsi, tentang pandangan politik dan ekonomi pikiran mereka lebih terbuka sehingga mereka dapat lebih reaktif atau responsif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya. Selain itu juga, di internet banyak konflik yang terjadi baik itu unsur kesengajaan ataupun tidak sengaja.
Terlihat dari penelusuran yang penulis lakukan banyak sekali penyebaran berita hoax, perundungan online, ujaran kebencian, bahkan pertengkaran antara influencer atau artis-artis yang kerap terjadi. Apakah itu sudah mendidik? Tentunya tidak, itu hanya untuk kepuasan beberapa pihak saja, sebagai penonton dan yang suka berselancar di internet itu adalah hal yang tidak baik. Ini adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat terutama anak muda. Nilai moral itu sangat penting untuk diterapkan agar senantiasa terhindar dari pengaruh buruk di internet. “Orang lebih gampang buat ngebully dan provokasi. Seperti kebebasan dalam mengeluarkan pendapat yang sering disalah gunakan oleh penggunanya, banyak netizen yang memberikan kritikan yang tidak membangun bahkan cenderung menghujat sesama penggunanya, hal itu sering ditemukan di sosial media. Banyak banget berita hoax, contohnya kali ini sedang pandemi global, banyak informasi hoax yang bisa menghasut beberapa orang dan akhirnya dapat menyebabkan konflik. Terus kadang orang-orang yang ga bijak pakai internet suka komentar seenaknya, apalagi kalo komentarnya pakai kata² kasar, kadang ada juga yang playing victim, dan masi banyak lagi.”
Pengaruh positif maupun negatif timbul seiring munculnya berbagai macam media sosial. Pengaruh positif dan negatifnya tergantung bagaimana setiap orang menggunakan dan menyikapi media sosial tersebut. Namun dewasa ini, banyak sekali penyimpangan moral yang dilakukan oleh remaja khususnya dalam bermedia sosial. Belum sempurnanya kematangan pemikiran remaja membawa pengaruh negatif terhadap informasi yang tidak baik melalui media sosial. Media sosial menjadi wadah bagi remaja untuk menuangkan kebebasan berekspresi, baik itu bentuk gambar ataupun pesan-pesan.Sekarang ini terbilang sangat mudah bila seseorang ingin membuat akun sosial media. Kalangan remaja biasanya suka memposting aktivitas pribadinya, foto-foto dan curhatannya. Semakin aktif seorang remaja di media sosial maka mereka semakin terlihat gaul dan keren di kalangan mereka.
Namun kalangan remaja yang gaptek alias gagap teknologi di anggap ketinggalan jaman dan kurang gaul. Jejaring sosial menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi. Dalam jejaring sosial tidak ada batasan ruang dan waktu, mereka dapat berkomunikasi kapanpun dan dimanapun mereka berada. Tidak dapat dipungkiri bahwa jejaring sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang asalnya kecil bisa menjadi besar dengan jejaring sosial, begitu pula sebaliknya. Etika Bermedia Sosial menjadi hal yang sangat penting. Diadakannya pelatihan mengenai etika dalam bermedia sosial dirasa cukup penting meskipun hal tersebut masih tabu untuk dilakukan dewasa ini. Kemerosotan moral anak bangsa diperparah dengan tidak bijaknya dalam menggunakan media sosial.
Remaja masa kini dapat menyebarkan dan mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah hanya dengan menggunakan media sosial. Terlebih lagi di media sosial tidak ada filter informasi negatif yang dapat dengan mudah dikonsumsi penggunanya. Hal ini yang membuat moral anak bangsa cenderung buruk karena mereka dapat meniru informasi negatif yang tidak seharusnya mereka dapatkan dengan bebas. Peran orang tua dalam hal ini sangat besar dalam mendidik anak bangsa, salah satunya pemberian fasilitas gadget pada anak usia muda tanpa adanya kontrol terhadap hal yang dilakukan anak tersebut dengan gadgetnya. Kerap kali sebagian orang tua di Indonesia memberikan gadget kepada anak dengan alasan agar anak tenang dan tidak rewel, padahal hal itu sangat berbahaya untuk perkembangan anak di usia mendatang. Sebaiknya penggunaan media sosial bagi anak remaja harus selalu dipantau dan dikontrol oleh orang tua mereka. Penerapan Nilai-nilai Pancasila sangat penting diterapkan di dalam aspek kehidupan manapun tak terkecuali media sosial. Beretika dalam media sosial sangatlah penting untuk dilakukan. Kemajuan teknologi di era ini seharusnya dapat digunakan dengan sebaik mungkin sesuai adab dan norma yang berlaku di Indonesia, yang mana semuanya sudah terangkum di setiap butir Pancasila. Selanjutnya dibutuhkan peran orang tua dalam mendidik anak sesuai nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila. Bila semua aspek sudah bekerjasama dalam mendidik anak bangsa dalam bermedia sosial, maka dirasa moralitas anak bangsa dapat ditingkatkan.
Berdasarkan dari hasil narasi tersebut, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan. Penggunaan internet melalui youtube, instagram, game online, situs ini yang paling sering digunakan oleh remaja pada umumnya yaitu instagram dan game online. Dampak dari penggunaan internet dapat bersifat positif maupun negatif di antaranya, yaitu menambah wawasan dan pengetahuan, menjadikan media komunikasi, memudahkan mencari lowongan pekerjaan, internet sebagai sarana belajar bisnis, internet dapat memperbanyak teman dari usia remaja sampai yang dewasa, Sarana pembelajaran. Dampak negatif menggunakan internet yaitu dapat memudahkan menemukan pornografi, dapat menimbulkan konflik sosial, kurangnya bersosialisasi dengan lingkungan, tidak peduli dengan teman sekitar, menghamburkan uang, mengganggu kesehatan, berkurangnya waktu belajar, tersebarnya data pribadi, menimbulkan rasa kecanduan.
Respon orang tua/masyarakat menganggap bahwa anak muda dianggap belum bisa menggunakan internet dengan bijak dan nilai moral yang dimiliki harus diperbaiki. Selain itu juga, orang tua remaja menginginkan anaknya menggunakan internet apabila bermanfaat bagi anaknya bukan menghabiskan waktu dengan berjam-jam dengan hal yang tidak penting sehingga dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi anaknya. Orang tua yang perduli dengan perkembangan anaknya akan membatasi penggunaan internet pada anaknya orang tua yang kurang perduli maka tidak begitu membatasi. Upaya penanggulangan perilaku negatif atau amoral terhadap penggunaan internet pada anak muda. Agar nilai moral senantiasa digunakan anak muda dalam menggunakan internet ada beberapa yang bisa diperhatikan dan diterapkan yakni, Menanamkan nilai-nilai agama, Meningkatkan kesadaran anak muda, dan Peran meningkatkan kedisiplinan. ***