Sejarah Kota Pekanbaru: Dari Senapelan Kini Menjadi Pusat Ekonomi dan Budaya Melayu

datariau.com
161 view
Sejarah Kota Pekanbaru: Dari Senapelan Kini Menjadi Pusat Ekonomi dan Budaya Melayu

DATARIAU.COM - Kota Pekanbaru yang saat ini dikenal sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa di Provinsi Riau memiliki sejarah panjang yang berakar kuat pada peradaban Melayu. Di usianya yang ke-242 tahun pada 23 Juni 2026, Pekanbaru telah menjelma menjadi salah satu kota terbesar di Pulau Sumatera dengan perkembangan yang pesat, tanpa meninggalkan identitas budaya Melayu yang menjadi jati dirinya.

Awal Mula dari Senapelan


Sejarah Pekanbaru bermula dari sebuah kawasan bernama Senapelan, yang pada masa lampau merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Siak Sri Indrapura. Sebelum menjadi pusat pemerintahan kerajaan, pusat kekuasaan Siak berada di Buantan pada masa Raja Kecik, kemudian berpindah ke Mempura pada masa Sultan Mahmud dan Sultan Ismail.

Perubahan besar terjadi ketika Sultan keempat Kerajaan Siak, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, memindahkan pusat pemerintahan ke Senapelan pada tahun 1767. Keputusan ini diambil karena letak Senapelan yang sangat strategis di jalur perdagangan Sungai Siak sehingga memiliki potensi ekonomi yang lebih besar dibandingkan pusat pemerintahan sebelumnya.

Sebelum berkembang menjadi Senapelan, wilayah tersebut dikenal sebagai Dusun Payung Sekaki yang berada di sekitar kawasan Pasar Bawah saat ini. Seiring waktu, nama Senapelan menjadi semakin populer dan digunakan untuk menyebut seluruh kawasan tersebut. Penduduknya hidup dalam kelompok-kelompok masyarakat yang dipimpin seorang batin atau kepala suku dan menggantungkan hidup dari kegiatan berladang.

Baca juga:Pameran Foto Sejarah Pekanbaru Diminati Tamu di DPRD Pekanbaru


Lahirnya Nama Pekanbaru


Setelah Senapelan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Siak, aktivitas perdagangan semakin berkembang. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dibangun sebuah pekan atau pasar yang menjadi pusat transaksi masyarakat. Namun perkembangan pasar tersebut pada awalnya berjalan lambat.

Perubahan signifikan baru terjadi pada masa pemerintahan Sultan kelima Kerajaan Siak, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Beliau melakukan penataan ulang pasar dan bandar perdagangan sehingga kawasan tersebut berkembang pesat dan dikenal sebagai Pekan Baru, yang berarti pasar baru.

Pembangunan pasar ini juga didukung oleh pembangunan bandar serta ruas jalan baru yang memperlancar arus perdagangan. Setelah wafatnya Sultan Muhammad Ali Muazzam Syah yang kemudian bergelar Marhum Pekan, pemerintahan Senapelan diserahkan kepada Datuk Bandar yang dibantu oleh empat datuk besar yang dikenal sebagai Datuk Empat Suku, yaitu Datuk Lima Puluh, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir, dan Datuk Kampar.

Berdasarkan musyawarah Datuk Empat Suku, pada 21 Rajab 1204 Hijriah atau bertepatan dengan 23 Juni 1784 Masehi, nama Negeri Senapelan resmi diubah menjadi Bandar Pekan, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pekanbaru. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru.

Baca juga:Perpustakaan Pekanbaru Akan Menambah Koleksi Buku Sejarah dan Budaya


Perjalanan Pemerintahan Pekanbaru


Dalam perjalanan sejarahnya, status pemerintahan Pekanbaru mengalami berbagai perubahan mengikuti dinamika politik dan administrasi di Indonesia. Pada tahun 1919, Pekanbaru menjadi bagian dari Kerajaan Siak dengan status distrik. Tahun 1931 wilayah ini masuk dalam Kampar Kiri dan dipimpin seorang Controleur yang berkedudukan di Pekanbaru.

Saat pendudukan Jepang pada tahun 1942, sistem pemerintahan diubah dan dipimpin oleh seorang gubernur militer yang disebut Gokung. Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatera pada tahun 1946, Pekanbaru ditetapkan sebagai daerah otonom yang dikenal sebagai Haminte atau Kota B.

Melalui berbagai regulasi pemerintahan, status Pekanbaru terus berkembang mulai dari Kota Kecil, Kota Praja, hingga akhirnya menjadi Kotamadya dan kemudian Kota Pekanbaru sebagaimana dikenal saat ini. Tonggak penting lainnya terjadi pada 20 Januari 1959 ketika Pekanbaru resmi ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Riau.

Pertumbuhan Wilayah dan Penduduk


Sebelum tahun 1960, luas wilayah Pekanbaru hanya sekitar 16 kilometer persegi dengan dua kecamatan, yakni Senapelan dan Lima Puluh. Seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan, luas wilayah kota berkembang menjadi 62,96 kilometer persegi dan terus bertambah hingga mencapai 446,50 kilometer persegi pada tahun 1987.

Perkembangan tersebut diikuti dengan penambahan jumlah kecamatan. Dari dua kecamatan pada awalnya, kemudian menjadi enam kecamatan pada tahun 1965 dan delapan kecamatan pada tahun 1987. Saat ini, berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 10 Tahun 2019, Kota Pekanbaru terdiri dari 15 kecamatan dan 83 kelurahan.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)