DATARIAU.COM - Jauh dari hingar bingar ibu kota, sebuah desa di Banyuwangi tak terpengaruh zaman. Dari pakaian, tradisi, bahasa, mereka terus mempertahankan identitasnya. Wong Osing, begitu mereka akrab dikenal.
Mereka adalah penduduk asli Banyuwangi. Keturunan yang tersisa dari pemerintahan kerajaan Blambangan. Sebuah kerajaan yang menjadi cikal bakal Banyuwangi berdiri. Blambangan juga menjadi kerajaan yang paling lama bertahan terhadap serangan kerajaan Mataram dan VOC. Sekian ratus tahun telah berlalu, Wong Osing hingga kini terus mempertahankan budayanya.
Berbalut busana hitam dengan rambut yang disanggul, para wanita memegang alu. Menabuh bergantian, menghasilkan alunan musik yang indah dari tradisi Othek. Damai dan menenangkan hati.Itulah suasana yang dirasakan saat berkunjung ke Desa Adat Kemiren, Banyuwangi Jawa Timur.
Ramah dan terbuka itu lah yang menggambar masyarakat Osing. Sembari menginang, setiap pengunjung yang datang akan diajak bercengkrama dengan celoteh-celoteh hangat mereka.
Berada di kawasan Jawa Timur yang mayoritas menggunakan Bahasa Jawa. Rupanya, Suku Osing juga mempunyai bahasa sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tersebut merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa kuno. Ada dua jenis sistem bahasa yang digunakan dalam Bahasa Osing yaitu Bahasa Osing (bahasa sehari-hari) dan goko-krama.
Tak hanya mempertahankan adat dengan berbahasa, Suku Osing juga punya banyak tradisi. Salah satu tradisi yang populer ialah Barong Ider Bumi. Setiap tanggal dua bulan Syawal sebagian warga Osing membentuk kelompok barongan yang mengitari desa dari ujung timur ke barat. Tradisi tersebut digelar dalam bentuk arak-arakan barong yang dilakukan selayaknya karnaval.
Di tengah-tengah pelaksanaan karnaval, masyarakat lainnya melempari peserta dengan uang logam. Tujuannya untuk menolak bala datang ke wilayah ini. Dulunya, wilayah ini pernah dilanda kemarau berkepanjangan, lalu suku Osing melakukan tradisi ini agar musim kemarau pergi tepat waktu dan sawah warga mendapat air yang cukup.
Untuk pakaian adat, Wong Osing memiliki baju adat sendiri. Biasanya para wanita menggunakan kebaya berwarna hitam sedangkan pria menggunakan udeng khas Banyuwangi.
Sekilas udeng ini nampak mirip dengan Udeng Bali. Namun, jika diamati berbeda loh! Udeng khas Banyuwangi terdapat memiliki lipatan yang berbeda di sisi kanan dan kirinya. Sedangkan udeng Bali, lipatan ada di bagian depan.