Destrutive Fishing: Kerusakan Keanekaragaman Hayati di Perairan

Oleh: Gita Trinatalis Siagian
datariau.com
2.019 view
Destrutive Fishing: Kerusakan Keanekaragaman Hayati di Perairan
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, karena memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat kaya.

Destructive fishing adalah metode penangkapan ikan yang menggunakan cara-cara atau alat-alat yang merusak ekosistem laut, termasuk habitat dan organisme laut non-target.

Tetapi keanekaragaman ini terancam oleh praktik dari destructive fishing seperti di Kepulauan Seribu.

Kepulauan Seribu adalah area yang terkenal dengan terumbu karangnya. Tetapi tempat ini telah mengalami kerusakan ekosistem laut akibat dari destructive fishing yang menyebabkan kehancuran terumbu karang sebagai habitat penting berbagai spesies ikan dan biota laut lainnya.

Praktik destructive fishing yang digunakan di Kepulauan Seribu yaitu bom ikan dan racun sianida.

Peran bom ikan dapat menangkap ikan dalam jumlah besar, namun ledakan bom ini tidak hanya membunuh berbagai spesies ikan, tetapi juga menghancurkan terumbu karang dan habitat bagi banyak spesies laut lainnya.

Sama halnya dengan bom ikan, racun sianida juga digunakan untuk memudahkan dalam penangkapan. Namun, penggunaan racun sianida juga menghancurkan terumbu karang dan kehidupan spesies laut lainnya dan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang luas.

Dari isu yang kita peroleh, ada banyak masalah yang harus kita hadapi di perairan Indonesia atau global sebagai berikut:

1. Kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut yang menggunakan bom ikan dan racun sianida secara langsung ke laut

2. Penurunan keanekaragaman hayati seperti spesies yang dilindungi

3. Terjadinya overfishing yang mengakibatkan penurunan kesejahteraan ekonomi nelayan lokal

4. Krisis ekonomi bagi masyarakat pesisir yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan

5. Kurangnya pengawasan dan penegakkan hukum.

Ada beberapa solusi untuk mengatasi masalah destructive fishing di perairan Indonesia atau global sebagai berikut:

1. Peningkatan dalam pengawasan dengan cara memperkuat pengawasan patroli laut yang lebi intensif, penggunaan teknologi satelit, dan kerja sama internasional. Penegakan hukuman yang lebih berat begi pelaku destructive fishing untuk memberikan efek jera

2. Pendidikan dan penyuluhan kepada nelayan mengenai dampak negatif dari destructive fishing

3. Pengembangan alternatif mata pencaharian seperti budidaya ikan atau ekowisata masyarakat untuk dapat mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut

4. Penerapan teknologi ramah lingkungan yang lebih selektif. Contohnya yaitu alat tangkap ikan yang mampu meminimalkan tangkapan sampingan (bycatch) dan mengurangi kerusakan ekosistem laut

5. Kerja sama Internasional untuk mengatur penangkapan ikan yang berkelanjutan.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)