Tradisi Unik Suku Melayu Indonesia Sambut Bulan Ramadhan

Datariau.com
2.021 view
Tradisi Unik Suku Melayu Indonesia Sambut Bulan Ramadhan
Foto: Net

DATARIAU.COM - Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat di tunggu-tunggu oleh warga muslim di seluruh belahan dunia. Begitu juga dengan Indonesia, Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Beberapa suku ataupun daerah di Indonesia melaksanakan tradisi penyambutan untuk menandakan bulan suci ini akan segera tiba.

Dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan setiap daerah ataupun suku yang identik dengan islam memiliki cara tersendiri dalam menyambutnya. hal itu juga dilakukan oleh masyarakat suku melayu di Indonesia. Suku yang mayortitas beragama islam.

Indonesia merupakan negera kedua dengan populasi masyarakat melayu terbesar di dunia setelah Malaysia. Dengan jumlah persentase 3.4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami provinsi sumatera utara, riau, kepulauan riau, jambi, sumatera selatan, Bangka Belitung dan Kalimantan barat. Berikut ini tradisi penyambutan bulan suci ramadhan di bumi melayu Indonesia

1. Ziarah Kubro, Palembang

Ziarah kubro berarti ziarah kubur. Ziarah kubro merupakan tradisi masyarakat Palembang seminggu sebelum menjelang Ramadhan dengan Mengunjungi makam Para Ulama dan Pendiri Kesultanan Palembang Darusalam.

Ziarah Kubro berlangsung dalam tiga hari Berturut-turut. Jemaah melakukan kegiatan sehabis Shalat Subuh hingga Malam hari. Makam yang di kunjungi dimulai dari kompleks Pemakaman Al-Habib Ahmad Bin Syech Shabab, dan Berakhir di Pemakaman Kesultanan Palembang Darussalam Kawah Tengkurep.

Tradisi ini hanya di lakukan untuk lelaki. Para perempuan Berkontribusi Menyiapkan minuman dan makanan gratis untuk Jemaah. Perempuan hanya menyaksikan dari pinggir jalan dan didalam rumah.

Tradisi ini merupakan tradisi kuno yang dilakukan sejak zaman Kesultanan Palembang Darusalam. Namun ketika itu tradisi ini hanya dilakukan Kerabat Kesultanan dan baru terbuka untuk umum Pada 1970-an. Saat itu kegiatan masih dilakukan satu hari.

Namun,karena jumlah Jemaah terus bertambah. Akhirnya waktu Pelaksanaannya di tambah menjadi tiga hari sejak 2010. Dan sampai sekarang tradisi selalu menyita Perhatian warga Lokal maupun Mancanegara.


2. Balimau Kasai, Kampar, Riau

Berbeda dengan di Palembang, di Kampar Riau ada tradisi tersendiri dalam penyambutan bulan suci ramadhan. Tradisi itu ialah 'Balimau Kasai'. Secara bahasa Balimau memiliki arti mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk. Jeruk yang biasa digunakan biasanya jeruk purut, Jeruk nipis dan Jeruk kapas. Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang di pakai saat berkeramas.

Acara ini biasa dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Masyarakat setempat menyakini agenda balimau kasai merupakan symbol penyucian diri dan kesiapan untuk melakukan ibadah puasa ramadhan. Tradisi ini sudah turun-menurun hingga kini masih lestari di tengah masyarakat adat Kampar Riau.

Selain sebagai Penyucian diri, tradisi ini juga di jadikan sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan sesama muslim dengan saling mengunjungi dan meminta maaf.Tradisi balimau kasai di Kampar, Konon telah berlangsung berabad-abad lamanya sejak daerah ini masih di bawah kekuasaan kerajaan.

Upacara untuk menyambut bulan suci ramadhan ini dipercayai bermula dari kebiasaan Raja Pelalawan. Namun ada juga anggapan bahwa tradisi berasal dari Sumatera Barat. Masyarakat Kampar sendiri menganggap tradisi ini berasal dari tradisi campuran hindu-islam yang telah ada sejak kerajaan Muara takus berkuasa.

3. Marpangir, Sumatera Utara

Marpangir adalah tradisi mandi wewangian yang terbuat dari bermacam jenis rempah-rempah alami. Marpangir bagi masyarakat sumatera utara, telah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Secara harfiah, Marpangir berasal dari kata pingir ditambah kata kerja 'Mar' dalam bahasa Indonesia 'Mar' sama dengan 'Ber' sedangkan 'Pangir' dalam bahasa Indonesia berarti Ramuan. Ramuannya sendiri terdiri dari daun Pandan, Bunga Kenanga, Akar wangi dan ampas kelapa yang di keringkan terlebih dahulu kemudian direbus. Maka ramuanpun siap di pakai untuk Marpangir.

Marpangir biasanya dilakukan di aliran sungai mengalir deras. Hampir sama dengan tradisi Balimau Kasai di Kampar Riau, Marpangir akan dilakukan beramai-ramai di Bantaran kali.

Tujuannya adalah membersihkan tubuh dengan berbagai Ramuan yang telah disiapkan tadi. Dengan Marpangir juga, mereka bermaksud menghanyutkan dosa-dosa masa lalu dan Mempersiapakan diri Memasuki bulan Suci Ramadhan.

4. Ruwahan- Bangka Belitung

Masyarakat Bangka Belitung juga memiliki tradisi yang unik jelang menyambut bulan suci Ramadhan. Adalah ruwahan atau sedekah ruwah yang merupakan upacara penyambutan kedatangan bulan suci Ramadhan.

Ruwah berarti arwah lelehur atau nenek moyang jadi Ruwahan berarti bulan mengenang arwah leluhur atau nenek moyang. Ruwahan dilakukan pada pertengahan bulan sya'ban. Pada bulan tersebut masyarakat biasanya melakukan acara bersih kubur dan ziarah ke kuburan keluarga masing-masing.

Setelah memasuki pekan pertengahan bulan sya'ban, masyarakat Bangka dan sekitarnya melaksanakan acara sedekah ruwah dengan menyiapkan makanan seperti nasi beserta lauk pauk dan buah-buahan.

Acara Ruwahan biasanya dilaksanakan di masjid-masjid yang dihadiri oleh lapisan elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, ulama, ustad, karyawan, pejabat, aparat dan warga. Tradisi ruwahan ini dilakukan hampir di setiap wilayah Bangka Belitung.

Acara Ruwahan ini merupakan tradisi kebudayaaan yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Bangka Belitung. Sebab tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap arwah orang yang  sudah meninggal dan merupakan warisan turun-temurun.

Itu tadi tradisi masyarakat melayu dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi tambahan pengetahuan anda tentang budaya melayu.

Penulis
: Max Olan Sadewo
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)