Suasana makan malam di dalam rumah adat di kampung tradisional Wae Rebo, pegunungan Manggarai, NTT.(Lucky Pransiska/KOMPAS)
Sebelum makan malam, tamu disuguhi kopi dan teh hangat. Tak lama kemudian, makan malam bersama. Nasi, ayam, sayur dan pisang disuguhkan.
Meski menunya relatif sederhana, rasanya nikmat makan bersama para tamu lain. Para mama pun ramah melayani tamu.
Sayangnya, setelah santap malam, saya tak sanggup lagi beraktivitas menjelajah Wae Rebo. Rasanya lelah setelah bersepeda dan mendaki menuju Wae Rebo.
Pada subuh keesokan hari, warga dan para tamu sudah sibuk mempersiapkan upacara HUT ke-72 kemerdekaan RI.
Setelah sarapan, ratusan orang kemudian mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih yang dipimpin Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Royke Lumowa.
Peninggalan leluhur
Wae Rebo adalah satu-satunya kampung adat di Manggarai yang masih mempertahankan bentuk rumah tradisional Manggarai yang disebut Mbaru (rumah) Niang (tinggi dan bulat).
Para leluhur mewariskan tujuh bangunan itu yang kemudian dijaga oleh masyarakat adat secara turun-temurun hingga kini sudah generasi ke-20.
Tujuh bangunan Mbaru Niang konon merupakan cerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak gunung di sekeliling Kampung Wae Rebo, yang dipercaya sebagai pelindung kemakmuran kampung.
Rumah utama atau Niang Gendang bangunannya lebih besar dibanding enam rumah lain lantaran diisi hingga delapan keluarga.
Di dalam rumah utama terdapat delapan kamar. Sementara enam rumah lain diisi oleh enam keluarga.
Di langit rumah dibuat sekat-sekat sebagai tempat penyimpanan. Ada tempat penyimpanan sesaji untuk para leluhur, penyimpanan cadangan makanan, penyimpanan benih tanaman, dan barang lain.
Sebelum meninggalkan Wae Rebo, tamu bisa membeli berbagai hasil kerajinan atau olahan warga.
Ikat tenun, kopi dan madu menjadi produk unggulan yang ditawarkan. Barang-barang itu dijajakan di depan rumah adat.
Lantaran harus melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo, rombongan kami meninggalkan Wae Rebo pukul 8.30 Wit.
Berikut tips bagi Anda yang ingin mengunjungi Wae Rebo:
1. Tak banyak bawa barang
Bawa barang seperlunya yang dimasukkan dalam ransel agar mudah dibawa.
Jika tak ingin membawa beban, bisa memakai jasa porter warga sekitar. Biayanya sekitar Rp 250.000 untuk jasa bawa barang ketika naik dan turun. Jasa porter dapat diperoleh di Desa Denge.
2. Jas hujan dan senter
Jas hujan diperlukan untuk mengantisipasi hujan ketika menuju Wae Rebo. Adapun senter perlu untuk beraktivitas di Wae Rebo pada malam hari.
3. Alas kaki yang menggigit
Alas kaki yang dipakai perlu disesuaikan dengan kondisi jalan mendaki.
4. Uang tunai
Anda perlu mempersiapkan uang tunai yang cukup. Pasalnya, tidak ada mesin ATM di desa-desa menuju Wae Rebo.
Setiap tamu dibebankan Rp 325.000 untuk biaya menginap dan makan di Wae Rebo. Barangkali Anda ingin menyewa porter atau membeli hasil kerajinan warga.
5. Camilan dan minuman
Camilan dan minuman diperlukan selama mendaki menuju Wae Rebo.
6. Baterai cadangan
Baterai cadangan diperlukan untuk kamera. Pasalnya, listrik di Wae Rebo terbatas. Adapun ponsel tak berguna lantaran tak ada sinyal.
7. Datang lebih awal
Pada momen-momen tertentu, Wae Rebo bisa ramai tamu seperti 17 Agustus. Tamu tidak bisa memesan tempat tidur. Siapa cepat dia dapat.
Dunia luar tak bisa mengetahui pula jumlah pengunjung yang datang ke Wae Rebo lantaran tidak adanya sinyal untuk komunikasi. Jadi, lebih cepat sampai kampung Wae Rebo lebih baik.