Menikmati Simfoni Alam di Lubuk Nginio Kampar

datariau.com
1.201 view
Menikmati Simfoni Alam di Lubuk Nginio Kampar
Foto: Amtira Puspa Ningrum
Menikmati Simfoni Alam di Lubuk Nginio Kampar
DATARIAU.COM - Suara hewan-hewan malam terdengar sahut menyahut, diikuti gesekan daun yang memberikan suasana ngeri namun juga tenang. Sesekali terdengar denting kayu yang dilahap oleh api, disertai  suara deras aliran air yang mengisi rongga telinga. Malam itu, Lubuk Nginio mempersembahkan keindahan simfoni alam dalam dekap kebersamaan.

Perjalanan sederhana ini, bermula dari perencanaan singkat sekelompok mahasiswa jurnalistik yang ingin sejenak lepas dari tugas kuliah, yang acap kali memporakporandakan isi kepala. Lebih tepatnya lagi, sebagai ajang menjalin keakraban, sebab bertahun sudah menimba pendidikan di satu gedung yang sama, tapi sering gagal ketika ingin membuat acara semacam ini. Terlebih, tidak terhitung bulan lagi, kami akan berpisah karena harus mengikuti kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di tempat tujuan masing-masing. Jadilah kami berangkat tanggal 4 Mei 2019.

Sesuai kesepakatan bersama, pukul 13.00 WIB kami berkumpul di SPBU Rimbo Panjang. Sempat menghadapi beberapa kendala seperti motor rusak dan jam Indonesia yang ngaret,  akhirnya pada pukul 13.40 WIB, kami meninggalkan Pekanbaru dengan segala keriwehannya.

Kurang lebih kami memakan waktu empat jam untuk sampai ke Desa Merangin, Kecamatan Kuok Kabapaten Kampar. Namun perjalanan belum selesai. Setelah mengurus  segala bentuk perizinan dengan pihak yang bertanggung jawab, kami masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Satu persatu rumah warga kami lalui, suasana asri yang ditawarkan di desa ini begitu membuai mata dan rasa. Pohon-pohon tampak tumbuh dengan gagahnya di sekitar rumah warga.

Perjalanan terus berlanjut, kami mulai meninggalkan rumah-rumah warga. Berganti pemandangan dengan lahan pertanian di kiri dan kanan jalan. Semakin ke sana, jalan yang kami lalui semakin sempit, dan puncaknya adalah ketika kami sampai di sebuah aliran sungai yang tidak terlalu dalam dan lebar, sehingga bisa dilaui motor. Dari sini perjalanan yang kami lalui benar-benar jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh satu motor.

Matahari mulai permisi dari singgasana, tepat ketika langkah kami mulai memasuki kawasan hutan, membuat suasana sedikit menakutkan. Belum lagi jalan yang kami lewati sedikit licin dan sulit dilalui, bahkan ada beberapa motor yang harus didorong.
Suara serangga malam mulai sahut-menyahut dan kami belum juga sampai. Entah apa yang terlintas di hati masing-masing, tapi sesekali candaan terdengar untuk memecahkan suasana.

Sekitar pukul 19.00 WIB kami sampai di Lubuk Nginio. Telinga langsung disambut oleh suara air yang begitu deras, namun belum terlihat rupanya, yang tampak hanya kayu-kayu yang menjulang tinggi. Kemudian juga tampak sebuah pondok, yang berdiri tidak jauh dari tempat kami hendak mendirikan tenda. Serta angin yang mendekap tubuh, sejuknya seolah memberi pesan akan hujan yang sebentar lagi siap menyapa kami. Hal itu semakin diperjelas oleh raut langit yang mulai gelap, tak sedikit pun bermuncul bintang. Tatapan takut sesekali terlihat di balik sorot mata, meski masih juga kami sulam dengan candaan.



Sebagian dari kami mulai mendirikan tenda dan sebagian lainnya menyiapkan peralatan masak. Namun belum sempat tenda berdiri, tiba-tiba angin kencang datang, diikuti gelap langit yang semakin memekat. Belum lagi suara hewan-hewan malam yang kian keras, membuat suasana cukup mencekam.

Gesekan-gesekan daun mulai terdengar tak lagi berirama. Sesekali cahaya kilat menghampiri, untuk kemudian disusul dengan suara gemuruh, membuat bergidik bulu roma. Tapi kami masih terus melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sampai akhirnya pekerjaan benar-benar terhenti ketika tidak jauh dari tempat kami berasal, terdengar suara pohon terjatuh.

Melihat ketakutan-ketakutan tersirat di mata kami, seorang teman mengajak untuk membaca doa bersama. Selesai doa, rintik air langit, mulai terasa menyentuh epidermis kulit. Kemudian hujan deras pun turun menyapa bumi, berikut kami yang mulai kebingungan menyelamatkan barang masing-masing. Beruntung pemandu jalan tadi memberi pesan, jika turun hujan kamis bisa berteduh di pondok yang tidak jauh dari lokasi pendirian tenda.  Dengan tergopoh-tergopoh, kami pun menyelamatkan barang-barang dan langsung menuju pondok.

Karena perut terasa lapar, sebagian yang lain pun memutuskan untuk memasak alakadarnya, dengan kondisi yang sempit. Untuk memecahkan suasana, senar gitar pun mulai dipetik satu-persatu diikuti nyanyian-nyanyian dan irama hujan. Suasana mulai sedikit cair, diikuti dengan candaan dan perut yang sudah terisi.

Pukul 22.30 WIB, suara air masih terdengar deras namun tidak lagi dari langit, melainkan aliran air Lubuk Nginio. Perlahan, raut langit mulai cerah dengan taburan bintang yang muncul satu persatu. Beberapa waktu kemudian, semesta mempersembahkan keindahannya setelah rasa mencekam mendera. Langit kini, bermandikan bintang gemintang.

Kami pun mulai memasang tenda. Setelah tenda berdiri, kami menikmati keindahan semesta dengan jagung bakar dan minuman hangat di dekat api unggun. Ditemani canda dan tawa tentunya. Malam itu, Lubuk Nginio menghangat.

Keesokan harinya, kami disambut oleh suasana damai yang tak dapat terbeli oleh rupiah. Suara yang menyapa telinga hanya aliran air, kicauan burung dan gesekan-gesekan daun. Mata disejukan oleh sebuah lubuk dengan air terjun setinggi empat meter, yang anggun memikat di tengah rerimbunan pohon. Satu persatu lelah pun luruh dari badan.



Tak ingin menyiakan kesempatan, setelah shalat Subuh, kami pun mulai bercengkrama dengan Lubuk Nginio. Bersama airnya yang sejuk, hutannya yang terasa asri. Juga bersama alamnya, yang memberi tahu bahwa Riau, punya tempat untuk dapat melepaskan diri dari batas-batas hubungan formalitas dan kesumpekan ambisi.

Hari itu, sebuah kebersamaan di Lubuk Nginio mengajarkan kami tentang rasa syukur, tentang rasa pengertian dan menghargai, tentang perkara diri yang tak melulu soal ambisi. (Amtira)
Penulis
: Amtira Puspa Ningrum
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)