DATARIAU.COM - Wisata religi adalah ketika kita berwisata ke tempat-tempat atau acara-acara yang memiliki sisi religi, seperti tempat ibadah, acara-acara bernuansa keagamaan atau kawasan ziarah tokoh masyarakat. Wisata religi biasanya dilakukan untuk melepas kejenuhan, menyegarkan dahaga spiritual, mengingatkan pada akhirat, mendekatkan diri pada sang pencipta dan banyak lagi manfaat lainya.
Riau merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Tak hanya elok dengan wisata alam. Negeri ini juga sarat akan wisata religi. Ini dia 5 rekomendasi wisata religi yang wajib dikunjungi di Riau.
1. Mesjid Raya An Nur
Gambar: Okezone NewsMasjid yang juga menjadi icon nya Riau adalah masjid raya An-Nur. Tempat ibadah tersebut tepatnya berada di Pekanbaru dan masjid ini mirip dengan Taj Mahal yang ada di India. Banyak masyarakat yang mengunjungi masjid raya tersebut, selain beribadah mereka juga memanfaatkan keindahan masjid untuk berfoto-foto. Bagi anda yang ingin berfoto sekaligus beribadah, anda tidak akan dikenakan biaya tiket masuk karena mengunjungi masjid ini gratis.
Masjid Agung An-Nur merupakan masjid terbesar di Pekanbaru, Riau yang terletak di Jalan Hangtuah, Sumahilang, Pekanbaru. Dilihat dari desain bangunannya banyak terpengaruh gaya campuran arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.
Masjid berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1968, diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau pada saat itu. Pada tahun 2000 di masa Gubernur Saleh Djasit, masjid ini direnovasi. Proses renovasi selesai pada tahun 2006 semasa Gubernur Riau Rusli Zainal. Pemakaiannya diresmikan oleh Presiden RI tahun 2007 Soesilo Bambang Yudhoyono, bertepatan dengan ulang tahun emas Provinsi Riau ke-50.
Bangunan masjid terdiri dari dua tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan. Selain itu di lantai bawah masjid juga terdapat sekretariat masjid, remaja masjid, dan kelas tempat pendidikan Islam.
Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka, yang dilengkapi eskalator dan 2 buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula.
Dilihat dari sisi bangunannya, masjid mempunyai satu kubah besar dan empat kubah kecil yang berbentuk kubah khas melayu, yaitu menyerupai gasing terbalik dengan warna hijau. Warna kubah tersebut selain mengingatkan pada kubah Masjid Nabawi di Madinah juga salah satu warna dalam adat Riau yang terdiri dari warna hijau, kuning dan merah.
Menara masjid terdiri dari empat menara yang dibangun pada empat penjuru sudut masjid melambangkan empat sahabat Rasulullah yang mengawali perjuangan pengembangan Islam. Relung jendela mengambil referensi dari Masjid Nabawi Madinah, sedangkan salud tiang mengambil referensi Masjidil Haram Mekah. Tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang dibuat pada tahun 1970.
2. Makam Syekh Abdurrahman Siddiq
Gambar: situsbudaya.idSyekh Abdurrahman Siddiq adalah seorang ulama besar yang pernah menjadi Mufti di Kerajaan Indragiri. Ia diangkat Sultan Mahmud Shah (Raja Muda) sebagai Mufti Kerajaan Indragiri pada tahun 1919-1939. Setelah wafat, ulama ini dimakamkan di Kampung Hidaya Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri Kabupaten Indragiri Hilir.
Berkunjung ke tempat ini tidaklah begitu sulit. Dari pusat Kota Tembilahan kita menuju Pelabuhan RSUD. Dari tempat ini, kita menaiki perahu motor. Masyarakat setempat menyebutnya dengan perahu Pancung. Biaya yang dikeluarkan untuk menuju ke Kampung Hidayat Sapat sekitar Rp 50 ribu.
Syekh Abdurahmmad Siddiq dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura, Kalimantan Selatan. Ketika dewasa, Syakh makin giat menuntut ilmu agama. Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, beliau masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahiran Islam, Makkah pada tahun 1887.
Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, ia pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.
Makam Syekh Abdurrahman Siddiq ini tidak pernah sepi dari peziarah, karena hampir setiap hari selalu ada peziarah terutama masyarakat Kab. Indragiri Hilir dan juga berbagi penjuru daerah lainnya. Bahkan ada yang datang dari Luar Negeri seperti Singapura, Malaysia, Yaman bahkan Afrika.
3. Istana Siak Sri Indrapura
Gambar: liandamarta.comIstana Siak Sri Indrapura atau Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur merupakan kediaman resmi Sultan Siak. Salah satu bukti kejayaan Islam yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.
Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Kini peninggalan kerajaan Melayu yang terletak di Kota Siak Sri Indapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, menjadi satu wisata unggulan yang ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri.
Tak hanya cantik karena perpaduan arsitektur Melayu, Eropa, dan Arab, sejarah yang disimpan di Istana Siak Sri Indrapura juga menarik. Sekarang Istana Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan antara lain: kursi singgasana kerajaan yang berbalut emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan. Payung kerajaan, tombak kerajaan, komet sebagai barang langka dan menurut cerita hanya ada dua di dunia serta barang-barang lainnya.
4. Gema Muharram

Lazimnya di kawasan-kawasan Melayu Riau, mayoritas penduduk Kabupaten Indragiri Hilir pemeluk agama Islam. Maka tak heran, kebudayaan Islam yang sangat kental disana. Seperti salah satunya pada penyambutan Tahun Baru Hijriah yang sejak dahulu kala sudah dilakukan masyarakat seantero Inhil hingga ke ceruk-ceruk kampungnya.
Berbeda dari tempat lain yang juga mengadakan acara untuk penyambutan Tahun Baru Islam ini dan biasanya diisi dengan acara do'a bersama dan tausyiah saja, di Indragiri Hilir, tepatnya di ibukotanya Tembilahan, acara dibuat sangat meriah. Masyarakat akan tumpah ruah meramaikan acara yang diadakan 10 hari ini, khususnya dihari ke 10 yaitu hari puncak dalam helat yang kini diberi nama Gema Muharram.
Sejak Pemkab Inhil menatanya rapi, khususnya sejak Inhil dipimpin Bupati H. Muhammad Wardan, 2104 lalu, kegiatan yang diangkat dari budaya masyarakat lokal ini kemeriahannya memang terasa berbeda. Ribuan masyarakat se-Indragiri Hilir akan berbondong ke lapangan Gajah Mada, Tembilahan, lokasi pelaksanaan kegiatan.
Semakin meriah acara ini pada hari puncak acara itu di 10 Muharram. Bahkan sejak tahun itu pula, kegiatan ini berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Rekor tersebut adalah untuk kategori "Bubur Assyura Terbanyak" pada tahun 2014, "Penampilah Shalawat Nariyah Terbanyak" pada tahun 2015, dan "Penampilan Penabuh Berdah Terbanyak" pada tahun 2016, serta "Tabak Bunga Telur Terbanyak" pada tahun 2017.
Event yang kini telah menjadi agenda tahunan tersebut, setiap tahunnya akan diselenggarakan pada tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram. Pada masa itu, masyarakat memeriahkan tahun baru Hijriah dengan melaksanakan kegiatan yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur dan kualitas keagamaan.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi, do'a bersama pergantian tahun, berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, tabligh akbar, tausiah, pawai ta'aruf, dan bermacam perlombaan keagamaan seperti lomba shalawat nariyah, lomba pembacaan syair ibarat, hingga lomba pembacaan puisi religi, dan pertunjukan teater religi.
Salah satu hal yang menarik dalam Event ini adalah memasak Bubur Assyura. Bubur yang pada sejarah zaman Nabi Muhammad SAW dimasak masa-masa perang, turut dilakukan oleh masyarakat Indargiri Hilir. Bubur Assyura merupakan bubur yang pada pengolahannya mencampurkan beberapa bahan makanan. Sehingga memiliki rasa khas jika dinikmati.
Tradisi memasak Bubur Assyura ini sudah lahir dari zaman dahulu di kalangan masyarakat Indragiri Hilir. Namun, dibawah Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, kegitan tersebut menjadi event masak bersama dalam rangka menumbuhkan nilai hidup bergotong royong dan kekeluargaan.
5. Mesjid Agung Madani
Gambar: penarilintas.blogspot.comMasjid termegah di Asia Tenggara, diberi nama Mesjid Agung Madani Islamic Center (MAMIC) Pasir Pangaraian, Rokan Hulu, ini dinobatkan sebagai Masjid Percontohan Paripurna Terbaik se- Indonesia pada tahun 2015 oleh Kemen terian Agama (Kemenag) RI.
Setelah ditetapkan sebagai objek wisata religius beberapa waktu lalu, kunjungan ke masjid termegah penuh pesona tersebut terus meningkat. Catatan Pengurus Mesjid Agung Ma- dani Islamic Center Pasir Pangaraian, kunjungan masyarakat ke masjid yang mampu menampung sekitar 10.000 jemaah, rata-rata 300 pengunjung hingga 500 pengunjung per harinya.
Masjid Agung Madani Islamic Centre Rokan Hulu juga dilengkapi dengan sarana MCK yang cukup dan memadai, tempat wudhu yang nyaman dan bersih, sejadah dari Turki. Sarana perpustakaan, baik digital maupun manual, TV Madani, Radio Daerah, poliklinik, aula serbaguna, toserba serta ruangan belajar yang dilengkapi dengan akses internet.
Sedangkan Pintu Islamic Centre Rokan Hulu, bagian timur, pintu utama babussalam, pintu kanan Khodijah, pintu kiri Aisyah, bagian selatan, pintu utama Aisyah I, pintu kanan Usman bin Affan, pintu kiri Umar bin Khatab, sedangkan pintu bagian utara, pintu uatama Khadijah I, pintu kanan Abu Bakar As Siddiq, pintu kiri Umar bin Khatab, sedangkan bagian Kubah utama diameter 25 M, tinggi 55 M dan didampingi 4 unit menara tinggi 66.66 M. Ditambah dengan menara setinggi 99 M.
Bagi anda yang berada dan sedang berkunjung ke Riau, jangan sampai lupa berkunjung ke 5 daftar rekomendasi wisata religi diatas, karena masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Tempat dan event bernuasa religi tersebut semoga bisa menjadi inspirasi anda dalam berwisata religi khususnya masyarakat di Riau. (rls)