Ritual Bele Kampung, Upacara Adat Desa Sonde Meranti yang Masih Lestari

datariau.com
5.171 view
Ritual Bele Kampung, Upacara Adat Desa Sonde Meranti yang Masih Lestari
Liawati
Upacara adat.

RANGSANG PESISIR, datariau.com - Negara Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam yang juga sangat kaya akan kebudayaannya, sebab terdapat beraneka ragam suku, agama, dan tradisi yang berbeda-beda. Maka dari itu tidak heran bila terdapat begitu banyak seni dan budaya yang bervariasi.

Sebagai bangsa dan warga negara Indonesia patut kita banggakan dan harus kita syukuri, terutama di sela perbedaan suku, agama dan budaya tidaklah membuat perpecahan diantara masyarakat yang beranekaragam ini, justru membuat kehidupan bangsa yang kuat rasa persatuan dan kesatuan di kalangan masyarakat.

Dengan keberadaan bervariasi suku bangsa tentunya agama dan keyakinan yang dianut atau diyakini berbeda-beda. Misalnya, upacara adat yang turun-temurun. Upacara adat istiadat itu sendiri adalah cara suatu kelompok untuk menelusuri jejak masyarakat pada masa praaksara (sebelum mengenal huruf) yang dapat kita jumpai pada waktu itu pada umumnya yang dianggap memiliki nilai sakral oleh masyarakat.

Upacara adat adalah serangkaian tindakan ataupun perbuatan yang terikat oleh peraturan tertentu masyarakat berdasarkan agama dan kepercayaan.

Di kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau, terdapat sebuah desa bernama desa Sonde yang mayoritas penduduknya adalah orang pribumi di sana yaitu suku Akit. Di sana terdapat sebuah tradisi turun-temurun berupa upacara adat ritual "Bele Kampung".

Bele kampung adalah nama upacara adat ritual diadakan setahun sekali oleh masyarakat desa Sonde, kecamatan Rangsang Pesisir yang bertujuan untuk memohon Kepada Yang Kuasa agar kampungnya terhindar dari musibah seperti penyakit yang tidak bisa disembuhkan ke dokter, bencana alam dan gangguan dari makhluk halus.

Oleh sebab itu, masyarakat di desa ini masih melestarikannya hingga saat ini yang dipimpin oleh kepala suku dan para bomo/dukun desa ini. Ini membuat masyarakat desa Sonde meyakini bahwa dengan cara seperti ini akan tercipta kehidupan yang aman dan terhindar dari mara bahaya karena telah terbukti selama dilaksanakan upacara ritual ini sampai detik ini masyarakat yang tinggal di desa ini hidup dengan aman dan damai yang diiringi dengan pembangunan desa yang semakin meningkat.

Namun kembali lagi, ini tentu sesuai kepercayaan masing-masing, karena Indoensia ini memiliki beragam suku dan agama yang dipercaya. Dalam ajaran Islam yang merupakan mayoritas agama di Indonesia, sesuai dengan yang disebutkan dalam Al Quran dan hadits shahih, meminta kepada selain Allah Subahanahu wa Ta'ala merupakan kesyirikan yang besar dan ancamannya adalah neraka.

Dimana, tidak ada penyakit ataupun kemalangan yang menimpa manusia, kecuali atas kehendak Allah, ditimpakannya bala/musibah karena bertebarannya kemaksiatan di tengah masyarakat, melanggar perintah agama, melakukan kezaliman terhadap manusia dan makhluk Allah di muka bumi, ini salah satu penyebab murka Allah.

Dalam kasat mata memang mungkin sebagian pelaku kesyirikan tampak hidup aman dan tentram, namun dalam ajaran Islam ini merupakan cobaan agar umat ini terjerumus kepada kesyirikan, namun mereka yang bersabar tetap hanya meminta kepada Allah tanpa perantara apapun, maka meskipun tampak hidup susah dan sakit-sakitan, namun itu merupakan yang lebih baik baginya karena kehidupan dunia hanya sebentar dan sementara, bersabar untuk kehidupan kekal di akhirat kelak. Maka kepada umat Islam, tetap berpegang kepada tauhid, mengesakan Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dengan bertauhid, hidup akan tentram, jauhi kesyirikan. (*)

Ditulis oleh: Liawati, siswi SMP Negeri 1 Rangsang Pesisir
Diedit oleh: Nova Ummu Hakim, dengan penambahan dan pengurangan seperlunya tanpa mengurangi makna artikel

Penulis
: Liawati
Editor
: Ummu Hakim
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)