Begini Suasana Tradisi Balimau Kasai di Desa Penghidupan Kampar Kiri Tengah

datariau.com
3.415 view
Begini Suasana Tradisi Balimau Kasai di Desa Penghidupan Kampar Kiri Tengah
Madhiha
Suasana mandi balimau kasai di Kampar Kiri Tengah.

KAMPAR KIRI, datariau.com - Ratusan warga menyambut bulan Ramadhan dengan mendatangi acara Belimau Kasai yang diadakan di Desa Penghidupan, Kampar Kiri Tengah. Acara yang diadakan setiap tahun ini, selalu diramaikan oleh penduduk desa maupun luar desa, dimulai dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB.

Belimau Kasai ini adalah bentuk antusias warga dalam menyambut bulan Ramadhan dengan cara membuat acara di sungai untuk mandi bersama.

"Acara ini adalah bentuk antusias masyarakat menyambut bulan puasa, konon katanya membersihkan diri dengan mandi belimau, tapi sebenarnya belimau bukan adat budaya, itu cuma meneruskan adat atau rutinitas menyambut bulan puasa yang setiap tahunnya ada," tutur Riska (20), warga Desa Penghidupan di sela-sela acara, Jumat (26/5/2017).

Aktifitas Balimau Kasai di Desa Penghidupan bukan hanya sekedar mandi untuk membersihkan diri, ada pula aktifitas lain seperti kata sambutan dari Ninik Mamak, panjat pinang, dan musik orgen tunggal untuk memeriahkan suasana. Ditambah lagi dengan aktifitas masyarakat yang menjajakan makanan seperti sate, bakso, soto, gorengan, es krim, minuman segar, dan mainan anak-anak yang semakin membuat lokasi tampak ramai dan meriah seperti pasar.

Tujuan dari Balimau Kasai ini pula bukan hanya sekedar menyambut puasa, tapi juga menguatkankan silahturahmi dengan keluarga maupun antar sesama warga yang saling berkumpul dan saling bermaaf-maafan.

Namun belakangan, tradisi ini mulai terkikis dari tujuan utamanya, dimana tampak beberapa pasangan muda mudi malah menjadikan moment ini untuk mandi bersama pasangan yang bukan mahrom, melakukan maksiat sehari jelang puasa yang seharusnya membersihkan diri memasuki Ramadhan.

Ditambah lagi, adanya musik keras yang menjadikan acara ini seolah-olah sedang berada di diskotik, remaja dan tua pun bergoyang, bukannya memperbaiki hati menjelang Ramadhan, melainkan larut dengan sukaria bahkan ada yang menenggak alkohol.

Dengan demikian, tradisi ini bukan lagi membersihkan diri dan memperkokoh tali silaturahmi, melainkan membuat semakin kotor badan dengan maksiat dan mengotori hati dengan permusuhan karena adanya musik-musik keras yang tidak jarang terjadinya perkelahian antar-warga. Alangkah eloknya tradisi ini dikembalikan kepada tujuan awal, untuk membersihkan diri sehari jelang puasa, pisahkan mandi laki-laki dan perempuan. Karena sejak dahulu di Sungai Kampar tempat pemandian laki-laki dan perempuan selalu dipisah dan terlarang saling memandang/mengintip.

Penulis
: Madhiha
Editor
: Adi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)