SIAK, datariau.com - Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan terus ditanamkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Kelompok 44 Tahun 2026 kepada masyarakat Desa Laksamana, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak.
Setelah sebelumnya menjalankan program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta menghadirkan peta edukasi pengelolaan sampah, mahasiswa KKN Kelompok 44 kembali menghadirkan inovasi melalui program PELANGI (Petang Edukasi dan Literasi).
Program tersebut menyasar anak-anak Desa Laksamana dengan menggabungkan edukasi, kreativitas, literasi lingkungan, dan pengenalan jiwa kewirausahaan sejak dini. Kegiatan dikemas secara santai pada sore hari sehingga anak-anak dapat belajar sekaligus bermain dalam suasana yang menyenangkan.
Baca juga:Respons Cepat Aspirasi Desa, KKN UMRI Kelompok 44 Hadirkan Peta Edukasi Ekologis dan Fasilitas Kebersihan
Salah satu kegiatan utama dalam program PELANGI adalah mengajak anak-anak memanfaatkan tutup botol plastik bekas menjadi karya kreatif berupa gantungan kunci.
Dari Sampah Menjadi Produk Bernilai
Tutup botol plastik dipilih karena merupakan salah satu jenis sampah yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, tetapi membutuhkan waktu lama untuk terurai secara alami.
Melalui praktik langsung, mahasiswa KKN UMRI Kelompok 44 memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan kreativitas dan keterampilan sederhana, barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.
Anak-anak diajak menyiapkan tutup botol bekas, kemudian menghiasnya menggunakan cat warna-warni. Setelah selesai, tutup botol dirangkai dengan ring besi hingga menjadi gantungan kunci yang dapat digunakan sebagai aksesori tas maupun perlengkapan lainnya.
Baca juga:Beri Sentuhan Digital pada UMKM Legendaris dan Edukasi Ekologis, KKN UMRI Kelompok 44 Hadirkan Aksi Nyata di Desa Laksamana
Pendekatan tersebut menjadi bentuk sederhana dari konsep ekonomi sirkular atau circular economy. Anak-anak dikenalkan pada prinsip menggunakan kembali barang yang masih memiliki potensi sehingga jumlah sampah yang dibuang dapat dikurangi.
Lebih dari sekadar membuat kerajinan, kegiatan ini juga menjadi media untuk memperkenalkan konsep ecopreneurship. Anak-anak diarahkan untuk memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan peluang ekonomi.
Belajar Sambil Berkarya
Suasana kegiatan PELANGI berlangsung penuh antusias. Anak-anak terlihat aktif memilih warna, menggambar, hingga merangkai tutup botol sesuai dengan kreativitas masing-masing.
Mahasiswa KKN UMRI mendampingi peserta selama proses pembuatan. Anak-anak diberikan kebebasan untuk menentukan desain berdasarkan karakter favorit maupun imajinasi mereka.
Pendampingan tersebut tidak hanya melatih keterampilan motorik dan kreativitas, tetapi juga membangun keberanian anak untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan gagasan mereka sendiri.
“Program PELANGI ini adalah jembatan kami untuk mentransfer literasi lingkungan dengan cara yang paling menyenangkan bagi anak-anak. Kami ingin mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa menjaga bumi bisa dilakukan melalui karya kreatif yang bahkan dapat menghasilkan nilai ekonomi,” ungkap salah satu penggerak program PELANGI dari Kelompok 44 KKN UMRI.
Baca juga:Mahasiswa KKN UMRI Kelompok 44 Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan Seksual di SMPN 3 Desa Laksamana
Menurutnya, edukasi mengenai lingkungan dan kewirausahaan yang diberikan sejak dini diharapkan dapat membentuk pola pikir anak-anak agar lebih peka terhadap persoalan sampah sekaligus mampu melihat peluang dari barang-barang yang ada di sekitar.
“Kami berharap kegiatan sederhana ini dapat menjadi investasi sumber daya manusia jangka panjang bagi Desa Laksamana. Anak-anak tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga berani berkreasi dan melihat peluang dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah,” tambahnya.
Menanamkan Kepedulian Sejak Dini
Program PELANGI menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKN UMRI Kelompok 44 dalam menghadirkan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui kegiatan yang memadukan canda, kreativitas, dan pembelajaran, anak-anak tidak hanya mendapatkan pengalaman membuat kerajinan, tetapi juga memperoleh pesan penting mengenai pengurangan sampah dan pemanfaatan kembali barang bekas.
Baca juga:Media Online Data Riau Jadi Pilihan Mahasiswa untuk Ekspos Tugas Kuliah
Gantungan kunci yang dihasilkan kemudian menjadi simbol sederhana dari proses perubahan cara pandang. Tutup botol yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat berubah menjadi karya yang menarik, fungsional, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
KKN UMRI Kelompok 44 berharap semangat kreativitas dan kepedulian lingkungan yang ditanamkan melalui PELANGI dapat terus tumbuh di kalangan anak-anak Desa Laksamana.
Dengan demikian, program pengabdian tersebut tidak berhenti pada kegiatan membuat kerajinan, tetapi menjadi langkah awal untuk membentuk generasi yang kreatif, peduli lingkungan, mandiri, dan memiliki jiwa kewirausahaan sejak usia dini. ***