SIAK, datariau.com - Tindakan bullying saat ini tengah menjadi fenomena meresahkan yang menjadi perhatian serius di berbagai tingkatan pendidikan.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPPA) mencatat, terdapat ribuan kasus kekerasan terhadap anak dalam periode Januari hingga Agustus 2023 yaitu kekerasan fisik di angka 2.325, psikis 2.618, dimana kekeresan seksual tertinggi di 6.316, dan lainnya seperti eksploitasi anak, TPPO dan lain-lain.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memaparkan data kasus perundungan di berbagai tingkatan pendidikan, mayoritas terjadi di jenjang pendidikan SD sebanyak 25% dan SMP sebanyak 25%. Sementara itu, kasus perundungan di jenjang SMA berkisar di angka 18,75 %.
Kemudian, korban terbesar adalah peserta didik yaitu 95,4% dengan pelaku perundungan terbanyak juga peserta didik, yaitu 92,5 %. Namun, data tersebut didapatkan berdasarkan hasil pengaduan di lembaga layanan dimana bisa dipastikan masih banyak sekali korban yang dibungkam terhadap tindakan bullying yang terjadi pada korban.
Pada Sabtu, 25 November 2023 di SDN 08 Pinang Sebatang Timur, Mahasiswa Kukerta MBKM UNRI mengadakan kegiatan sosialisasi Bullying.
Desa Pinang Sebatang Timur adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Desa ini menjadi saksi dari kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Kukerta MBKM UNRI dalam rangka mendukung dan membantu pemerintah dinas pendidikan mengkampanyekan anti bullying sejak dini dan bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
Dalam acara tersebut, mahasiswa Kukerta MBKM UNRI memberikan pemahaman kepada siswa-siswi yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah dasar tentang dampak buruk dari perilaku bullying, serta strategi untuk mencegah dan mengatasi situasi tersebut. Melalui metode interaktif, mahasiswa Kukerta MBKM UNRI menjelaskan konsekuensi terburuk yang akan didapatkan dari tindakan bullying, seperti dampak psikologis dan emosional pada korban.
Mahasiswa Kukerta MBKM UNRI yang beranggotakan Kelvin Chandra, Auren Kezia Tiffani K, Umli Dwi Putri, Anggi Wiyani Putri, Paska Pidadiko S, Yudi Varizal dan Kamasyha Nur Faidah Regita Cahyani, memiliki harapan bahwa kegiatan sosialisasi ini dapat memberikan dampak jangka panjang, dimana pesan anti-bullying akan terus diterapkan dan dipraktikkan oleh siswa, guru, dan orang tua.
“Saya berharap upaya yang kami lakukan dapat menjadi langkah awal dalam mengubah budaya sekolah dimana bullying tidak lagi diterima dan korban bullying mendapatkan dukungan yang tepat dan tindakan pencegahan dapat diambil lebih awal,” ujar Kelvin Chandra selaku Ketua Kukerta MBKM UNRI di Desa Pinang Sebatang Timur.
Hasil dari kegiatan sosialisasi ini sangat memuaskan. Siswa-siswi mulai menyadari betapa pentingnya menghargai perbedaan sesama teman, menghindari tindakan bullying maupun tindakan-tindakan yang serupa dengan bullying, dan menjadi pendukung bagi teman-teman yang berada disekitar mereka. Siswa-siswi tersebut juga belajar bagaimana melaporkan kasus bullying kepada guru, orang tua, atau pihak yang berwenang.
Mahasiswa Kukerta MBKM UNRI Desa Pinang Sebatang Timur telah menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekedar mahasiswa yang sedang melaksanakan Kukerta di sebuah desa, melainkan sebagai agen perubahan yang selalu berusaha menyalurkan dan memberikan dampak yang positif dalam kehidupan masyarakat.
Mereka juga membuktikan bahwa pendidikan anti-bullying ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi seluruh lapisan masyarakat juga harus ikut terlibat didalamnya. Masyarakat juga perlu melek terhdapat kasus bullying yang tengah marak terjadi saat ini agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi para peserta didik di berbagai tingkatan pendidikan dan tidak hanya peserta didik saja, perlu diketahui kasus bullying juga bisa terjadi di berbagai kalangan, oleh karena itu diperlukan pemahaman dan kesadaran yang tinggi untuk bekerja sama dalam tindakan pencegahan anti-bullying tersebut. ***