SIAK, datariau.com - Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Riau telah melakukan observasi pada Senin 29 Juli 2024 di salah satu peternakan budidaya lebah kelulut yang terletak di perkebunan sawit Kampung Sungai Limau, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari teknik budidaya lebah kelulut, yang belakangan ini semakin sulit ditemukan di pasaran.
Lebah kelulut (Trigona spp) dikenal sebagai salah satu jenis lebah tanpa sengat yang menghasilkan madu berkualitas tinggi. Namun, seiring dengan berkurangnya populasi lebah kelulut di alam liar, madu kelulut menjadi semakin langka dan mahal di pasaran. Oleh karena itu, upaya budidaya lebah kelulut menjadi sangat penting untuk menjaga kelestarian spesies ini dan keberlanjutan produksi madunya.
Dalam observasi ini, para mahasiswa diajak untuk melihat langsung proses budidaya mulai dari pembuatan kotak sarang, perawatan koloni, hingga panen madu. Bapak Suwarno, seorang peternak yang telah berpengalaman lebih dari 8 tahun dalam budidaya lebah kelulut, menjadi narasumber utama dalam kegiatan ini. Ia menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi dalam budidaya lebah kelulut, seperti perubahan iklim, hama, dan penurunan kualitas lingkungan yang berdampak pada populasi lebah.
"Selain untuk menghasilkan uang, lebah kelulut juga berguna dalam penyerbukan di perkebunan sawit. Karena lebah kelulut makin langka di pasaran, penting bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran dalam melestarikannya. Madu dari lebah kelulut kaya akan antioksidan, yang bisa membantu mencegah masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan diabetes," ujar Suwarno.
Mahasiswa Kukerta juga mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara dengan Bapak Suwarno mengenai strategi pemasaran madu kelulut di tengah persaingan pasar yang ketat. Selain itu, mereka juga diajarkan cara memanen madu langsung dari sarangnya menggunakan pipet. Menurut Ketua Kelompok Kukerta, Daffa, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka.
"Kami tidak hanya belajar mengenai teknis budidaya lebah, tetapi juga mengenai tantangan nyata yang dihadapi oleh peternak di lapangan. Kami berharap ilmu yang kami dapatkan bisa diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut, baik dalam penelitian maupun di masyarakat," tuturnya.
Harapan untuk kedepan warga dapat bekerjasama dengan Mahasiswa Kukerta dalam menyusun sebuah program pengabdian masyarakat yang fokus pada peningkatan budidaya lebah kelulut dan edukasi kepada masyarakat setempat. Program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus melestarikan lebah kelulut yang semakin langka.
Melalui program Kukerta MBKM ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman praktis di lapangan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam mendukung kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Semoga langkah kecil ini bisa memberikan dampak besar bagi keberlangsungan budidaya lebah kelulut di Indonesia. ***