Kisah Rafka dan Dilema Pembelajaran Jarak Jauh

Ruslan
216 view
Kisah Rafka dan Dilema Pembelajaran Jarak Jauh
Foto ilustrasi belajar tatap muka.

ROKAN HULU, datariau.com - Senja kala itu mengalir membawa harapan yang kian lama kalut akan rasa terbidik menakuti. Sempoyongan seorang anak berjalan ke arah pintu sambil merenung, yang kemudian duduk tersipu di teras halaman.

Kala itu, gelak tawa mengusik sepi terasa di benak Rafka yang ingin bersekolah. Belajar dengan tatap muka dan bermain bersama teman-teman adalah kebahagiaan tersendri bagi Rafka. Tak ada batas ruang yang membatasi ia bersama teman-temannya, sorak sorai sahut menyahut terdengar dari sekolah kala itu.

Namun, saat ini seakan daun berguguran satu persatu, sorak sorai yang terdengar saat itu seketika bungkam menjadi keheningan yang menyepi. Sejak bulan Maret lalu, seluruh aktifitas sekolah diliburkan dan dialihkan pada pembelajaran jarak jauh akibat Covid-19 yang mewabah.

Kebijakan pemerintah itu diambil guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. Hal ini tentu menjadi pukulan bagi seluruh pelajar di Indonesia termasuk Rafka.

Rafka atau nama panjangnya Rafka Glendi Permana merupakan siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 016 Tambusai, Rokan Hulu. Anak dari pasangan Suryadin dan Retno ini sebelumnya sangat bahagia dan bersemangat mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Namun, semenjak kebijakan pemerintah yang meliburkan sekolah itu diterapkan, kini Rafka tak bersemangat lagi dalam belajar.

Hal itu terlihat dari raut wajahnya dan sikapnya yang semrawut dan bermuram durja saat ditanya dan diperintah oleh ibunya untuk belajar. Semangat menggebu yang sebelumnya terpancar di wajahnya, kini berubah menjadi sebuah tatapan kosong yang penuh kelesuan.

Entah apa yang membuatnya demikian, namun hari-hari ia jalani terasa begitu sulit. Sederet tugas yang diberikan oleh guru kepadanya terus mengalir melalui pesan Whatsapp ibunya. Hingga mau tak mau harus dikerjakan demi mendapatkan nilai untuk kenaikan kelas dirinya.

Mungkin itulah yang menyebabkan semangatnya turun drastis. Selain dituntut untuk terus belajar dan mengerjakan tugas di rumah, ia juga tak dapat kesempatan bermain untuk sekedar menenangkan pikirannya.

Ketika pelik tugas yang membeban di pikirannya terus menggerogoti mentalnya, seketika lepas begitu saja oleh sebuah kabar kilat. Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Jum’at tersirat kabar yang mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi Rafka.

Pemerintah mengizinkan sekolah untuk melakukan belajar tatap muka, namun dengan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan. Proses belajar tatap muka itu pun akan kembali dilaksanakan mulai Senin tanggal 22 November 2020. Hal ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi Rafka dan siswa lainnya.

Wajah yang sebelumnya lesu seketika berubah menjadi ceria tiada duanya, beban tekanan dan tuntutan yang menempel di fikirannya seakan lepas begitu saja.

“Yeeee…. Masuk sekolah lagi,” teriaknya sambil berlari dan mencari parang.

Saat itu, Rafka turut senang dan bergembira mengikuti kerja bakti di sekolahnya guna persiapan untuk belajar tatap muka.

Namun, entah apa yang merasuki pemerintah hingga menutup kembali sekolah. Padahal belajar tatap muka baru saja dua hari dinikmati oleh para siswa.

Penulis
: Kakak Indra Purnama
Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Datariau.com