SMM PANEL INDO

Inovasi Hijau Mahasiswa UNRI, Limbah Ampas Sagu Disulap Jadi Batako Bernilai Ekonomi

datariau.com
73 view
Inovasi Hijau Mahasiswa UNRI, Limbah Ampas Sagu Disulap Jadi Batako Bernilai Ekonomi

MERANTI, datariau.com - Tumpukan limbah ampas sagu yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan mulai menemukan wajah baru di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak, mahasiswa Universitas Riau (UNRI) menghadirkan inovasi dengan mengolah limbah ampas sagu menjadi batako ramah lingkungan yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Inovasi tersebut berangkat dari kondisi melimpahnya limbah padat hasil pengolahan sagu di Desa Sungai Tohor yang merupakan salah satu kawasan penghasil sagu. Selama ini, ampas sagu masih banyak ditumpuk atau dibuang begitu saja sehingga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kukerta Berdampak mencoba menghadirkan solusi berbasis potensi lokal. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan material bangunan.

Program inovasi ini berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Dra. Rd. Siti Sofro Sidiq, M.Si. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang relevan dengan persoalan dan potensi masyarakat setempat.

Yang menarik, batako hasil inovasi mahasiswa tersebut dibuat tanpa menggunakan pasir sebagai bahan campuran. Ampas sagu dimanfaatkan sebagai bahan utama yang kemudian dipadukan dengan semen, air, serta kepurung, yakni olahan tepung sagu yang dimanfaatkan sebagai perekat alami.

Konsep tersebut membuat pemanfaatan limbah tidak berhenti pada aspek lingkungan. Ampas sagu yang sebelumnya menjadi residu produksi dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi dan berpotensi dikembangkan sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Inovasi ini sekaligus menjadi contoh penerapan konsep ekonomi sirkular atau circular economy. Limbah dari satu proses produksi dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk baru yang memiliki nilai guna.

Selain mendukung ekonomi sirkular, pemanfaatan ampas sagu tersebut juga sejalan dengan semangat Low Carbon Development Initiative (LCDI), yakni pembangunan yang berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mengoptimalkan sumber daya dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

Kepala Desa Sungai Tohor, Efendi, S.E., mengapresiasi kreativitas mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI yang dinilainya mampu melihat persoalan limbah dari sisi yang berbeda.

"Kami sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan mahasiswa Kukerta Berdampak Universitas Riau. Pemanfaatan ampas sagu menjadi batako merupakan ide yang sangat baik karena mampu mengurangi limbah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat," ujarnya.

Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti selama pelaksanaan Kukerta, tetapi dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat Desa Sungai Tohor.

"Kami berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga Desa Sungai Tohor," sambungnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Dra. Rd. Siti Sofro Sidiq, M.Si., menilai inovasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis riset terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, potensi limbah sagu di Kepulauan Meranti sangat besar. Jika dikelola dengan pendekatan inovatif, limbah tersebut dapat berubah menjadi sumber daya baru yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

"Potensi limbah sagu di Kepulauan Meranti sangat besar. Apabila dikelola secara inovatif, limbah tersebut dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan," jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat ikut memberikan dukungan agar inovasi tersebut dapat berkembang lebih jauh, terutama dari sisi peningkatan kualitas produk, pendampingan teknologi dan penguatan kapasitas masyarakat.

"Saya berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan melalui peningkatan kualitas produk, pendampingan teknologi, serta pelatihan kepada masyarakat agar inovasi ini berkembang menjadi produk unggulan daerah," tambahnya.

Kehadiran batako berbahan ampas sagu tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa program Kukerta Berdampak UNRI tidak sekadar menghadirkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Lebih dari itu, mahasiswa didorong untuk membaca persoalan di lapangan, menggali potensi lokal, kemudian mengubahnya menjadi inovasi yang memiliki manfaat jangka panjang.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa dan masyarakat menjadi kunci agar inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa. Dengan pendampingan dan pengembangan teknologi yang tepat, batako berbahan ampas sagu berpeluang dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus solusi pengelolaan limbah.

Jika terus dikembangkan, inovasi ini bahkan berpotensi menjadi model pengelolaan limbah berbasis potensi lokal yang dapat diterapkan di daerah penghasil sagu lainnya.

Dari limbah menjadi bahan bangunan, dari persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi. Inovasi mahasiswa UNRI di Sungai Tohor menunjukkan bahwa potensi daerah dapat menjadi kekuatan baru untuk mendorong ekonomi hijau, pembangunan rendah karbon dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)