Sosialisasi Bahaya Kekerasan Seksual Bagi Perempuan

Departemen Keputrian IPRY-KK Adakan Diskusi dan Nobar "Suara Perempuan dan Penyintas"

datariau.com
1.408 view
Departemen Keputrian IPRY-KK Adakan Diskusi dan Nobar "Suara Perempuan dan Penyintas"

DATARIAU.COM - Divisi Keputrian Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta Komisariat Kampar mengadakan acara Nonton Bareng dan Diskusi bersama Mahasiswa Riau-Yogyakarta.

Agenda NOBAR ini dimoderatori langsung oleh Ketua Sanggar Batobo yaitu Muhammad Ade Putra, kegiatan ini juga dihadiri 3 orang pemantik diantaranya Ana Mariana Ulfa sebagai Ketua Serikat Perempuan Indonesia DIY, Indah Ariaty Putri Kepala Depatemen Keputrian IPRY-KK dan Voppi Rosea Bulki sebagai Vice Mayor Korps Mahasiswa Hubungan Internasional UNRI.

Acara ini juga dihadiri oleh perwakiln 11 komisariat kabupaten/kota Riau dan juga dihadiri oleh 2 lembaga IPRY yaitu Aspura (Asrama Putra Riau) dan Aspuri (Asrama Putri Riau), juga dihadiri oleh ketua Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta Rafi Alfarisi.



Tujuan acara ini untuk mamangkas gep pengetahuan antara laki-laki dan perempuan, agar bisa mencari jalan keluar tentang kejamnya kekerasan seksual yang terjadi. Harapannya setelah Nobar dan Diskusi tersebut dilaksanakan, para peserta bisa menjaga diri, baik laki-laki maupun perempuan agar tidak buram pemahaman tentang isu kekerasan seksual yang menjadi salah satu isu terbesar di Indonesia saat ini.

"Disamping menambah pemahaman tentang terkait isu kekerasan seksual kami juga ingin berkumpul nya kawan kawan dari organisasi lain agar tetap menjalin silaturahmi dan manjaga keharmonisan sesama masyarakat Riau," kata Ketua Umum IPRY-KK Sabaril Nopri kepada datariau.com melalui rilisnya, Senin (24/1/2022).

Dikatakan Sabaril, bahwa Sistem Patriarki sangat kental di Indonesia. Di Kabupaten Kampar budaya dan norma-norma yang berlaku memposisikan laki-laki paling tinggi ketika mengambil keputusan, hal ini menjadi bahan diskusi karena berbicara tentang partriarki akan selalu berbenturan dengan norma, budaya dan bahkan agama.



Sementara itu Ana Mariana Ulfa selaku Ketua Perempuan Indonesia DIY mengatakan, dalam penanganan isu pelecehan seksual, sebaiknya fokus pada pendukungan terhadap apa yang diinginkan oleh penyintas, bukan pada kejadian yang menimpanya.

Voppi Rosea Bulki dari Komahi UNRI mengatakan agar mulai saat ini para perempuan harus bersama untuk menguatkan satu sama lain, sehingga tidak ada satupun stigma yang bisa dibenarkan untuk melecehkan perempuan dan menganggap perempuan lemah.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)