Warga Kampung Empang Baru Siak Diajarkan Bercocok Tanam Sistem Akuaponik

datariau.com
583 view
Warga Kampung Empang Baru Siak Diajarkan Bercocok Tanam Sistem Akuaponik
SIAK, datariau.com - Mahasiswa Kukerta (Kuliah Kerja Nyata) Universitas Riau yang diketuai oleh Valian Rahmad Lubis yang merupakan mahasiswa Program Studi Agrobisnis Perikanan, melakukan seminar pelatihan bercocok tanam dengan sistem Akuaponik sebagai solusi pemanfaatan lahan yang sempit.

Selain itu, juga diadakan pelatihan pembuatan sabut padat berbahan minyak goreng bekas sebagai solusi untuk menjaga lingkungan di Kampung Empang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Jum'at (16/8/2019).

Kampung Empang Baru merupakan salah satu desa di Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Provinsi Riau dengan luas wilayah 1.660 Ha.

Sebagian besar wilayah Desa Empang Baru telah dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit, sehingga banyak penduduk setempat memiliki pekerjaan sebagai petani kelapa sawit.

Luasnya lahan yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit menghambat serta mengurangi pemanfaatan lahan seperti budidaya ikan dan tanaman, sehingga perlu metode yang efektif untuk memanfaatkan lahan sisa seperti melakukan bercocok tanam di lingkungan tempat tinggal sendiri.

Adapun metode yang dapat diberikan yaitu sistem bercocok tanam menggunakan sistem Akuaponik. Dimana Akuaponik merupakan salah satu sistem yang memadukan budidaya perikanan dan budidaya tanaman atau sayuran tanpa media tanah (hidroponik). Metode ini banyak digunakan masyarakat perkotaan untuk menghemat lahan dengan mendapatkan dua manfaat sekaligus.

Selanjutnya, minyak goreng bekas atau minyak jelanta merupakan limbah yang berasal dari minyak nabati dan digunakan kembali untuk keperluan memasak. Padahal penggunaan minyak goreng secara berulang dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur minyak. Kerusakan minyak dapat dipercepat oleh adanya air, protein, karbohidrat dan bahan lain serta peningkatan suhu. Semakin lama penggunaan minyak untuk menggoreng semakin tinggi pula kandungan asam lemak bebas yang terbentuk sehingga mempengaruhi bahan pangan yang digoreng.

Minyak goreng bekas banyak mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik yang terbentuk selama proses penggorengan sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker. Selain berbahaya untuk kesehatan, minyak goreng bekas juga bisa menjadi limbah yang dapat merusak kelestarian lingkungan jika langsung dibuang tanpa adanya pengolahan. Sehingga perlu adanya alternatif pengolahan minyak goreng bekas menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Beberapa cara telah dilakukan seperti mengolah minyak goreng bekas menjadi bahan bakar alternatif seperti biodiesel atau mengolahnya menjadi bahan baku pembuatan sabun.

Kedua jenis pelatihan yang dilakukan oleh Tim Kukerta Kampung Empang Baru ini merupakan program kerja unggulan yang telah direncanakan oleh seluruh keanggotaannya yang berjumlah sebanyak 9 orang.

"Saya berharap kedua program pelatihan ini dapat bermanfaat dan membantu masyarakat Kampung Empang Baru untuk melakukan bercocok tanam menggunakan sistem Akuponik serta mampu memanfaatkan dengan optimal limbah rumah tangga berupa minyak goreng bekas untuk dijadikan sebagai produk berupa sabun, sehingga nantinya diharapkan mampu menjadi solusi untuk menjaga lingkungan agar tidak tercemari," ujar Valian, selaku Ketua Kelompok dan juga pemateri dalam pelatihan tersebut.

Setelah pelatihan, masyarakat Kampung Empang Baru berantusias dan tertarik untuk melakukan program tersebut, diantaranya adalah kaum ibu rumah tangga yang begitu tertarik untuk mengolah minyak goreng bekas menjadi sebuah sabun padat.

Pj Penghulu Kampung Empang Baru Nur Asani mengatakan, pihaknya tertarik dalam pengolahan minyak goreng bekas ini. "Saya akan mencoba produk sabun padat ini nantinya untuk dikembangkan secara maksimal agar menjadi produk unggulan di kampung ini," pungkasnya. (rls)
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)