Nasib Santri Keluar Terancam Tak Bisa Lanjutkan Sekolah, Pimpinan Ponpes Ar-Rummani: Diki Belum Serahkan Surat Pindah

datariau.com
4.733 view
Nasib Santri Keluar Terancam Tak Bisa Lanjutkan Sekolah, Pimpinan Ponpes Ar-Rummani: Diki Belum Serahkan Surat Pindah
Dok.
Ponpes Ar-Rummani.

PEKANBARU, datariau.com - Seorang pelajar asal Kota Pekanbaru bernama Diki yang bersekolah di Pondok Pesantren Ar-Rummani Jalan Bupati Desa Tarai Bangun kecamatan Tambang kabupaten Kampar, mengalami trauma.

Setelah pimpinan pondok membanting hancur handphone yang dipegang Diki beberapa waktu lalu, karena pimpinan pondok murka adanya santri memegang handphone, padahal Diki saat itu meminjam handphone kakaknya bernama Yuni Wulandari, yang sedang mengantarkan makanan buka puasa, namun pihak pondok tak mau tahu dan langsung menghancurkan handphone tersebut, belakangan tak mau bertanggungjawab menggantinya.

Atas sikap pimpinan pondok tersebut, karena jalur musyawarah tidak membuahkan hasil, Yuni Wulandari pada Ahad (27/5/2018) melaporkan kejadian pengrusakan ini ke pihak kepolisian Mapolsek Tambang, berharap handphone yang baru dibelinya itu dengan harga Rp4 jutaan, bisa diganti.

Pihak pondok juga meminta Diki dibawa pulang, terkesan pihak pondok tak ingin Diki yang duduk di kelas 1 SMP di pondok itu melanjutkan sekolah di sana. Kondisi ini yang membuat Diki sangat terpukul, demikian pula keluarga trauma karena sering adu mulut dengan pimpinan pondok.

Pihak keluarga juga telah memutuskan membawa anaknya pulang, berharap akan disekolahkan di tempat lain.

Namun kini masalah baru muncul, Diki yang kesehariannya sudah diisi dengan murung hilang keceriaan, terancam tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Sebab, pihak pondok belum menyerahkan rapor Diki dengan berbagai alasan.

Bahkan, menurut guru, Diki belum bisa dipastikan naik kelas. Informasi ini semakin membuat Diki terpukul. Dia tampak pasrah akan nasib pendidikan dan masa depannya karena tidak mendapatkan rapor kenaikan kelas dari pihak pondok pesantren Ar-Rummani serta juga dikeluarkan dari pondok pesantren Ar-Rummani tanpa ada pernyataan yang pasti, ditambah lagi kegelisahan orangtuanya karena telah melunasi biaya administrasi anaknya hingga lulus, karena sebelumnya telah ditetapkan peraturan oleh pondok pesantren Ar-Rummani untuk melunasi lebih awal biaya sekolah.

Hingga sampai saat ini pihak pengurus pondok pesantren Ar-Rummani belum ada niat mengembalikan uang administrasi yang telah dilunasi oleh orangtua santri.

Hingga pada pembagian rapor kenaikkan kelas kemarin, santri bernasib malang ini mencoba mengambil rapornya pada Sabtu (9/6/2018) di pondok pesantren Ar-Rummani dengan didampingi oleh pihak keluarganya, pihak pengurus maupun guru tidak memperdulikan kehadiran pihak keluarga santri tersebut.

Karena merasa tidak dipedulikan oleh pihak pengurus dan guru pondok pesantren Ar-Rummani, keluarga santri ini keluar dari pondok pesantren Ar-Rummani lalu mencari informasi kepada pihak orangtua santri lainya guna mendapatkan informasi pembagian rapor, hingga salah satu orangtua santri memberikan nomor handphone milik guru dan pengurus pondok pesantren Ar-Rummani guna untuk menghubungi pihak pondok pesantren Ar-Rummani.

Saat ditelepon salah satu guru pondok pesantren Ar-Rummani Salman mengatakan bahwa santri tersebut tidak mengikuti salah satu ujian mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia.

"Santri tersebut tertidur bersama dengan dua teman lainnya lalu saya membuat janjian bagi yang tak mengikuti ujian Bahasa Indonesia ketiga santri besok saya tunggu di ruang kelas dari jam 8:00-09:00 WIB, tapi ketiganya tidak ada yang hadir," kata guru pondok pesantren Ar-Rummani melalui handphonenya.

Kemudian keluarga santri memohon agar dapat mengikuti kembali ujian bahasa Indonesia, namun menurut guru tersebut, guru Bahasa Indonesia sudah pulang kampung dan tak bisa dipastikan kapan ujian susulan dilaksanakan.

Saat pihak keluarga santri meminta nomor handphone guru Bahasa Indonesia kepada guru yang ditelpon tersebut, dia hanya menjawab "nanti saya kirimkan nomor handphonenya". Namun hingga kini nomor handphone yang dijanjikan itu tidak dikirim olehnya. Padahal pihak keluarga ingin memastikan apakah bisa ujian susulan dan kapan pelaksanaannya.

Tak tenang akan informasi yang didapatkan dari guru tersebut, pihak keluarga santri mencoba menelpon pengurus pondok pesantren Ar-Rummani, Eshamadi, namun jawaban yang sama seperti guru sebelumnya juga dilontarkan pengurus pondok pesantren Ar-Rummani.

"Santri belum ada nilai Bahasa Indonesia di rapornya, akibat dia tidak mengikuti ujian susulan Bahasa Indonesia, maka dapat dilaksanakan setelah libur lebaran ini, baru santri mengikuti ujian Bahasa Indonesia," tegasnya.

Saaat disampaikan pihak keluarga bahwa santri ini ingin persiapan pindah ke sekolah lain maka butuh rapor, pengurus pondok pesantren Ar-Rummani pun tidak menjamin naik kelas atau tidaknya santri karena santri tidak mengikuti ujian Bahasa Indonesia.

"Untuk saat ini guru libur dan belum bisa dipastikan jadwalnya setelah libur lebaran ini baru dapat dilaksanakan ujian susulan Bahasa Indonesia," tegasnya lagi.

Pihak keluarga kemudian menyampaikan jika memang tak ada nilai bahasa Indonesia, biarlah rapor seadanya, namun pihak pondok pesantren Ar-Rummani juga tak bisa memastikan kapan bisa diambil rapor tersebut. Karena merasa didesak, pihak pondok pesantren kembali emosi dan mengancam tidak akan menyerahkan lapor Diki.

"Jangan sampai saya keras, tidak akan saya berikan rapornya," ancamnya.

Dengan kondisi yang selama merasa tertekan dan trauma yang dialami oleh keluarga santri yang sering cekcok dengan pengurus pondok pesantren Ar-Rummani, hanya bisa pasrah sambil menunggu rapornya dapat diberikan oleh pihak pengurus pondok pesantren Ar-Rummani. Niat untuk segera mendaftarkan anak ke sekolah lainnya pun dipendam dulu.

Surat Pindah

Terpisah, Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani, Eshamadi, saat dikonfirmasi datariau.com via selulernya menjelaskan bahwa berkaitan rapor, memang belum rampung diisi, karena ada satu mata pelajaran Diki tidak ikut ujian.

"Kita rapor K13, bukan tulis tangan, sistem online, diketik," terang Eshamadi, Selasa (12/6/2018).

Diterangkan Eshamadi, bahwa Diki ini merupakan anak pindahan, sekitar 3 bulan lalu, Diki dan orangtua datang ke pondok ingin mendaftar, dijelaskan bahwa pondok tidak terima anak pindahan, namun orangtua atau ibu Diki menjelaskan bahwa Diki ini anak yatim perlu pendidikan agama, maka pihak pondok menerimanya.

"Dengan syarat kami minta rapor dan surat pindah dari pondok sebelumnya. Nyatanya sudah hampir 3 bulan di sini, syarat itu belum ada diserahkan ke kita. Diki juga statusnya masih santri percobaan selama 3 bulan, ternyata dia anak ternakal, sampai tidak ikut ujian bersama dua temannya," ulas Eshamadi.

Terkait kedatangan keluarga Diki saat menanyakan rapor ke pondok dicuekin, diterangkan Eshamadi bahwa saat itu Sabtu siang datang mobil jazz warna biru ke pondok yang ternyata keluarga Diki.

"Saat itu saya ada tamu, karena mepet waktunya saya langsung ambil wudu dan shalat Zuhur. Ternyata Diki dan abangnya menemui istri saya menanyakan rapor. Istri saya sampaikan bahwa guru sudah libur dan pulang kampung, rapor Diki belum diisi lengkap, tunggulah Buya, setelah saya shalat ternyata mereka sudah pergi," kata Eshamadi.

Kemudian, lanjut Eshamadi menjelaskan, pada Ahad (10/6/2018) keluarga Diki menelepon dirinya menanyakan rapor, disampaikan lagi bahwa belum diisi sempurna, solusinya tunggu guru Bahasa Indonesia datang dulu, karena dia pulang kampung ke Rantau Berangin Kampar.

"Didesaknya, kosongkan saja katanya, mana bisa, kita rapor K13 bukan tulis tangan. Sementara rapor dari pesantren lama belum diserahkan. Kita sampai sekarang ndak tahu apa benar Diki ini sekolah pesantren dulunya atau tidak, karena rapor di pesantren lama dan surat pindahnya juga tidak bisa ditunjukkan," tegas Eshamadi.

Disinggung mengenai status Diki, apakah dinaikkan atau tinggal kelas, Eshamadi menjelaskan bahwa keputusan itu belum disidangkan, rencana pondok akan memperjuangkan agar Diki naik kelas.

"Maka kita butuh rapor dari sekolah lama, kita sinkronkan nilainya, tapi sampai sekarang masih belum diserahkan ke kita," pungkasnya. (win/rik)

Baca: Pimpinan Pondok Pesantren di Desa Tarai Bangun Kampar Ini Dilaporkan ke Polisi
Baca: Klarifikasi Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani: Saya Difitnah!

Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)