Pimpinan Pondok Pesantren di Desa Tarai Bangun Kampar Ini Dilaporkan ke Polisi

Admin
5.108 view
Pimpinan Pondok Pesantren di Desa Tarai Bangun Kampar Ini Dilaporkan ke Polisi
Foto: Irwansyah
Wulan memperlihatkan surat laporan polisi.

TAMBANG, datariau.com - Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani, Eshamadi dilaporkan salah seorang keluarga santri ke polisi. Pasalnya, pimpinan Pondok Pesantren yang beralamat di Jalan Bupati Desa Tarai Bangun kecamatan Tambang kabupaten Kampar itu, diduga telah merusak handphone keluarga santri.

 

Seperti diterangkan Yuni Wulandari, kakak dari santri bernama Diki Pratama, bahwa pihaknya terpaksa menempuh jalur hukum saat jalur musyawarah tidak membuahkan hasil. Dimana, pimpinan pondok tersebut menuduh Diki telah menonton video tak senonoh di smartphone milik kakaknya saat berada di lingkungan pondok, sehingga pimpinan pondok murka dan membanting smartphone itu di depan keluarga yang saat itu sedang menjenguk Diki di pondok, hingga rusak dan pecah.

 

 

"Padahal Diki berani sumpah tidak ada nonton video porno sebagaimana yang dituduhkan, dia hanya selfie dengan teman-temannya minjam hp saya, itupun mereka masih di dalam pengawasan saya, Diki juga sempat lihat video horor, bukan porno," terang Wulan kepada datariau.com, Senin (28/5/2018).

 

Seharusnya, kata Wulan, jika memang pihak pondok melihat Diki menonton video tak senonoh, pihak pondok seharusnya bukan membanting smartphone, melainkan mengamankan smartphone tersebut sehingga bisa dijadikan alat bukti bahwa ada di riwayat tontonan, bahwa video yang dituduhkan benar diputar di smartphone tersebut.

 

"Kalau sekarang buktinya apa, tak ada, smartphone sudah rusak. Saat kami pihak keluarga ingin musyawarah dengan pihak pondok, pimpinan pondok malah memperlihatkan sikap arogan, tetap bersikukuh mengatakan Diki melanggar dan tak mau mengganti smartphone yang rusak," terang Wulan yang mengaku bahwa smartphone itu baru dia beli, seharga Rp.3 jutaan.

 

 

Diterangkan Wulan lagi, bahwa kejadian ini berawal saat dia dan ibunya mengantarkan makanan untuk adiknya di Ponpes Ar-Rummani pada Kamis (24/5/2018), saat itu Yuni Wulandari bersama orangtuanya mengunjungi adiknya di Ponpes Ar-Rummani mengantarkan makanan untuk berbuka puasa, pada pukul 16:40 WIB tiba di ponpes. Saat di pondok, Diki meminjam smartphone milik Wulan dan menggunakannya, namun tetap terlihat oleh Wulan dan ibunya.

 

 

Akan tetapi, kata Wulan, seorang guru yang melihat Diki memegang smartphone itu langsung melaporkan ke pimpinan pondok, kemudian pimpinan pondok tersebut dengan amarah mendatangi Diki yang posisinya dekat keluarganya dan teman-teman, smartphone itu sudah berada di saku, pimpinan pondok merampas smartphone itu dan membantingnya disaksikan keluarga dan para santri lainnya.

 

Melihat situasi ini, pihak keluarga kaget bukan main, kemudian mempertanyakan kepada pimpinan pondok tersebut apa yang terjadi sehingga smartphone itu dirusak, dengan emosi dan arogan, kata Wulan, pimpinan pondok menegaskan bahwa Diki melanggar.

 

"Dia bilang ini aturan, handphone tak boleh masuk pondok, silahkan kalian mau melaporkan kemana saja saya tidak takut, bawak sajalah pulang anak kalian itu," kata Wulan menirukan perkataan pimpinan pondok saat menjawab pertanyaan keluarga Diki, kemudian berlalu meninggalkan keluarga Diki.

 

Tak merasa tenang akan perbuatan pengurus ponpes Ar-Rummani, pihak keluarga Diki Pratama kembali mengunjungi Ponpes Ar-Rummani untuk musyawarah, didampingi tim DataRiau.com pada hari Ahad (27/5/2018) sekitar pukul 15:00 WIB, saat mediasi di ruangan pimpinan Ponpes Ar-Rummani, pihak keluarga Diki Pratama kembali mempertanyakan atas pengrusakan handphone milik Yuni Wulandari, pimpinan pondok mengakui merusak smartphone itu karena aturan pondok.

 

"Karena handphone tidak boleh masuk Ponpes apapun alasannya siapapun orangnya, jadi ini hak saya," kata Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani, Eshamadi.

 

 

Terkait handphone itu hanya dipakai Diki saat keluarga sedang berada di pondok dan handphone itu bukan milik Diki, melainkan milik kakaknya bernama Wulan, juga masih di dekat keluarga, Eshamadi mengaku tidak berlaku alasan itu.

 

"Saya tak kenal orangtuanya, siapapun orangnya yang masuk di Ponpes Ar-Rummani ini akan menjadi hak saya, mau saya hancurkan itu hak saya karena menurut saya handphone adalah perusak, tidak ada alasan apapun, terserah kalau tidak senang kalian mau melaporkan kemana saja saya sudah siap," tantangnya.

 

 

Bahkan terjadi keributan hebat antara keluarga Diki dengan pimpinan pondok. Karena sudah tidak terkendali, maka pihak keluarga memilih keluar dari ruangan itu. Saat keluarga keluar, pimpinan pondok meminta keluarga membawa Diki pulang. Hal ini membuat keluarga semakin terpukul, sebab anaknya sudah membayar lunas biaya sekolah di pondok itu, saat diminta uang dikembalikan, pihak pondok mengaku belum bisa.

 

Karena merasa dirugikan, musyawarah juga tidak membuahkan hasil, sore itu juga keluarga bertolak ke Mapolsek Tambang untuk membuat laporan.

 

 

Laporan diterima oleh pihak kepolisian Polsek Tambang dengan nomor laporan polisi, Nomor: Lapdu/115.b/V/2018/RIAU/Res Kpr/Sek Tbg. Pihak keluarga berharap persoalan ini bisa diusut tuntas, karena mereka merasa sudah dirugikan atas pengrusakan smartphone. (irw/win)

Baca: Klarifikasi Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani: Saya Difitnah!

Penulis
: Irwansyah/Windy