Klarifikasi Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani: Saya Difitnah!

Admin
3.347 view
Klarifikasi Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani: Saya Difitnah!
Foto: Ist.
Surat Perjanjian.

TAMBANG, datariau.com - Pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rummani, Eshamadi Durahman, memberikan klarifikasi terkait dilaporkannya dirinya ke polisi oleh keluarga santri atas kasus pengrusakan handphone.

Kepada datariau.com melalui selulernya, Selasa (12/6/2018) Eshamadi menerangkan kronologis pengrusakan smarphone yang dipegang salah seorang santri bernama Diki tersebut. Saat itu Kamis (24/5/2018) sore dilaksanakan kegiatan gotong royong di pondok yang beralamat di Jalan Bupati Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar tersebut.

Baca: Pimpinan Pondok Pesantren di Desa Tarai Bangun Kampar Ini Dilaporkan ke Polisi

"Ternyata ibu Diki datang, saya tidak tahu karena mereka tidak ada melapor kalau datang, dipinjamkan hp, Diki nonton sama 14 santri lainnya di belakang asrama, di sana agak semak-semak, salah seorang santri melapor ke saya, saya perintahkan guru tangkap hp itu, namun Diki dan kawannya lari ke samping, kebetulan saya gotong royong di samping langsung menagkapnya, menanyakan hp, tak mau kasih, saya periksa dan langsung saya banting hpnya ke tanah, saya pergi tak tahu kalau hpnya hancur seperti itu," jelas Eshamadi.

Diterangkan lagi, bahwa memang setiap santri yang masuk ke Ponpes Ar-Rummani Boarding School tidak diperbolehkan membawa handphone jenis apapun, dan itu dituangkan dalam perjanjian diteken oleh orangtua santri, termasuk orangtua Diki.

"Namun belakangan orangtua Diki tidak mengakui pernah menandatangani perjanjian itu. Saya difitnah, tidak ada saya banting hp di depan orangtua Diki maupun keluarganya, yang ada saat itu anak-anak santri, saya emosi," sebut Eshamadi lagi.

Atas kejadian itu, Eshamadi juga mengakui bahwa pada sore Sabtu keluarga Diki datang, namun menurutnya bukan untuk mencari solusi melainkan menyerang dan meminta segera ganti rugi hp yang rusak. Terjadi adu mulut akhirnya keluarga Diki melaporkan dia ke Polsek Tambang.

"Sabtu berikutnya atau seminggu setelah keributan itu saya dipanggil polisi, saya ditanya soal pengrusakan handphone, saya perlihatkan surat perjanjian, polisi akhirnya mengerti dan tidak bisa melanjutkan laporan keluarga Diki itu, karena mereka sudah ada perjanjian," terangnya lagi.



Eshamadi mengaku akan melaporkan balik keluarga Diki jika terus menyerang pondok pesantrennya dan memburukkan nama baiknya sebagai pimpinan pondok. "Padahal Diki ini anak pindahan, dia santri ternakal terbandel di sini, 14 anak sudah dipengaruhinya, dia juga tidak ikut ujian. Jika memang ini mau berlanjut, saya akan buat laporan polisi juga di polsek," katanya.

Karena menurut Eshamadi, selama ini kedatangan keluarga Diki tidak pernah menanyakan solusi, melainkan menyerang dan memancing emosi. "Jika datang dengan baik, agama mengajarkan kita mencari solusi, namun kalau datang menyarang, agama juga mengajarkan kita untuk mempertahankan," paparnya.

Terkait Diki yang dikeluarkan dari pesantren, Eshamadi mengaku tak pernah mengeluarkan Diki. Sejak kejadian Kamis saat gotong royong itu, pada Malam Jumat dirinya menasehati Diki dengan baik agar segera bertobat, Diki saat itu juga mengaku menyesal dan bertobat.

Akan tetapi pada Sabtu saat keluarga datang marah-marah, akhirnya terlontar dari mulut Eshamadi agar Diki dibawa saja pulang.

"Saya dikatakan teroris, mengajarkan kekerasan, itu saya emosi sekali, saya suruh bawa Diki pulang, karena mereka menganggap sekolah kita mengajarkan kekerasan, menganggap saya teroris," papar Eshamadi.

Ditanyakan apakah benar Diki melihat film tidak senonoh alias porno, Eshamadi mengaku telah meminta keterangan Diki dan teman-temannya. "Katanya film horor, buka facebook, namun kita kan tahu film merusak. Saya pengalaman 15 tahun pimpin pondok di Lipat Kain, anak-anak main handphone untuk nonton film porno, makanya kita ketat dalam hal handphone ini," urainya.

Karena, tambah Eshamadi, jika pikiran santri sudah dikotori dengan tontonan buruk, matanya melihat maksiat, maka ilmu agama akan sulit masuk, akan kesulitan menghafal Al Qur'an.

"Karena kita di sini fokus hafidz Qur'an dan kitab kuning, makanya anak-anak harus fokus, kita ketat tidak boleh ada hp, radio dan sejenisnya," terang Eshamadi.

Ada 40 santri di Ponpes Ar-Rummani Boarding School yang baru berdiri 1 tahun ini, kelas 1 ada 27 santri yang saat ini rata-sata hafal 2 juz dari target 3 juz, kemudian kelas 2 sebanyak 13 orang rata-rata sudah hafal 4 juz Qur'an dari target 6 juz. (rik)

Tag: