PEKANBARU, datariau.com - Para orang tua siswa SMAN 4 Pekanbaru dikejutkan dengan telepon dari anaknya yang mengatakan bahwa tidak bisa membawa sepeda motor mereka pulang. Sebab, motor mereka ditahan pihak AURI.
Seperti disampaikan salah seorang orangtua siswa SMAN 4 Pekanbaru kepada datariau.com, pada Rabu (18/10/2016) sore dirinya ditelepon anaknya dari sekolah menjelaskan bahwa anaknya tidak bisa membawa pulang sepeda motor karena tidak memiliki SIM.
Orangtua ini pun bergegas ke sekolah dan ternyata bukan satu anaknya saja yang ditahan motornya, melainkan seluruh anak yang tidak memiliki SIM, tidak diperbolehkan mengambil sepeda motornya kecuali dijemput orangtua.
Sekolah yang berada di Komplek AURI ini ternyata sore itu ada razia. Dimana pihak AURI menahan sepeda motor murid yang tidak membawa SIM. "Seluruh motor tidak boleh keluar karena tidak ada SIM. Anak-anak ini kan tak mungkin ada SIM, kalau kebijakan kepala sekolah kan harusnya berunding dulu," kata seorang orantua murid yang meminta namanya tidak disebutkan.
Lagi pula, kata dia, kewenangan menanyakan SIM ada pada pihak kepolisian lalu lintas jalan (Polantas). Namun menurutnya, karena ini kebijakan sekolah bekerjasama dengan pihak AURI, maka para murid yang membawa motor ditanyai satu persatu kelengkapan kendaraannya. Jika tidak bisa menunjukkan SIM, dan tidak kunjung dijemput orangtuanya, maka sepeda motor diangkut ke Pos AURI.
"Di dalam itu tidak ada ojek ataupun angkot, bagaimana anak-anak ini sekolah, tidak semua orangtua bisa antar jemput. Maka harusnya ada solusi, ini komplek AURI tidak ada angkutan umum. Kalau memang tidak boleh bawa motor, harusnya semua sekolah lah tidak boleh, mengapa di SMAN 4 saja, kalau sulit, pindahkan saja sekolah dari sana (Kompleks AURI)," keluhnya.
Kata orangtua siswa ini, dirinya sempat juga menanyakan persoalan ini kepada pihak AURI saat menahan motor anak-anak SMAN 4 tersebut. "Auri bilang kebijakan kepala sekolah, katanya banyak anak-anak yang kecelakaan. Kalau memang banyak kecelakaan, bukan seperti ini, ini bukan solusi," terangnya lagi.
Menurutnya, dengan tidak diperbolehkan lagi anak-anak membawa motor ke sekolah, maka sekolah dinilai tidak adil karena tidak semua sekolah yang tidak boleh, banyak sekolah yang juga menyediakan lahan parkir untuk murid yang membawa motor ke sekolah.
"Kita sudah beli stiker masuk ke kompleks AURI, memang harganya Rp20 ribu. Kemudian anak-anak parkir di depan sekolah. Rupanya kena tahan juga. Ini kan menyusahkan orangtua, tak mungkin anak kita pakai SIM, kecuali kalau SIM tembak. Arogan sekali kepala sekolahnya kalau ini memang kebijakan sekolah," pungkasnya.
Kepala SMAN 4 Pekanbaru, Hj Nurhafni MSi saat dikonfirmasi datariau.com melalui selulernya, Kamis (19/10/2016) menjelaskan, bahwa memang setiap tahun AURI mengadakan razia terhadap pengguna kendaraan yang masih dibawah umur dan itu bukan tanggung jawab sekolah, karena yang menjadi tanggung jawab sekolah hanya yang ada di dalam pagar sekolah.
Sementara selama ini, kata Nurhafni, pihaknya kewalahan menyediakan lahan parkir di dalam perkarangan sekolah untuk menampung kendaraan siswa. Dan sejak awal dulunya siswa masuk sekolah telah disampaikan bahwa yang tidak memiliki SIM agar tidak membawa motor ke sekolah.
"Aturannya kan menggunakan kendaraan harus ada SIM. Tujuan kebijakan ini untuk menyelamatkan anak-anak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka mari sama-sama menjaga anak-anak terutama orangtua, kan belum bisa itu dibiarkan pakai motor, masih dibawah umur, masih labil, mereka belum berhak membawa kendaraan," kata Nurhafni.
Solusinya, kata Nurhafni, anak-anak diminta menggunakan sepeda ke sekolah terutama anak-anak tempatan. Karena menurutnya, di SMAN 4 ini hampir 50 persen siswanya adalah anak tempatan yang jarak antara rumah dan sekolah hanya paling jauh 500 meter.
"Yang bukan akan tempatan, tentu orangtua sesibuk apapun, luangkanlah waktu untuk antar jemput anak kita ke sekolah. Kalau kita membiarkan mereka mengendarai sepeda motor, tentu ini tandanya kita tidak sayang sama anak, kalau kenapa-napa anak di jalan, tentu kita juga yang kena," terangnya.
Karena sekolah berada dalam kompleks AURI, lanjut Nurhafni, maka memang mau tidak mau pengendara yang melintas harus mengikuti aturan dari pihak AURI. Dan kebijakan razia anak-anak yang tidak miliki SIM ini merupakan kegiatan rutin AURI.
"Selama saya di sini, setiap tahun ada razia dari AURI. Nanti mereka (AURI) mengirim surat ke kita nama-nama murid yang tidak memiliki SIM agar kita larang bermotor ke sekolah," terangnya.
Pasca razia tersebut, tambah Nurhafni, pagi tadi para anak-anak tidak ada lagi menggunakan kendaraan bermotor sendiri ke sekolah. Dengan demikian, lingkungan sekolah pun tampak luas dan tidak dipenuhi kendaraan motor lagi.
"Senang saya melihatnya, anak-anak bisa bermain di bawah pepohonan yang rindang yang biasanya selama ini dipenuhi sepeda motor. Rencana mau dibuat bangku-bangku di sana untuk tempat anak-anak belajar di luar kelas," pungkasnya.