KEPULAUAN MERANTI, datariau.com - Dikutip dari video Youtube yang baru-baru ini dimuat oleh akun Dompet Dhuafa, dalam beberapa bulan ini sering dibagikan netizen di Sosial Media, video tersebut berisikan tetang perjuangan guru di wilayah terpencil di Dusun Bandaraya, Desa Sokop Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pantauan datariau.com, Senin (1/7/2019), dalam video tersebut menjelaskan tentang infrastruktur yang buruk serta listrik yang belum ada, membuat anak-anak tidak dapat mengeyam pendidikan yang layak, selain dari itu isi keterangan dalam video tersebut tentang perjuangan seorang guru, yang bernama Riyati seorang guru relawan yang juga transmigran dari pulau jawa yang mengajar di kelas jauh SDN 12 Sokop yang terletak di Dusun Bandaraya Desa Sokop Kabupaten Kepulauan Meranti, datang dari jauh untuk mendampingi anak-anak suku akit belajar.
Ibu Riyati juga membuat sekolah sore di gubuk kecil disamping rumahnya untuk anak-anak suku akit, tak hanya anak-anak orang dewasa juga membutuhkan pendidikan untuk kehidupan sehari-hari, pada tahun 2016 Dompet Dhuafa hadir tidak hanya memberikan bantuan bangunan sekolah tetapi pendampingan guru dan program.
Karena hampir seluruh warga dusun bandaraya buta aksara yang mempegaruhi kemajuan hidupnya, buta aksara menjadi penghabat berkembangnya suku akit pendalaman disusun bandaraya, dengan adanya pendidikan yang layak maka terjadi peningkatan sikap sosial dan kesejahteraan ekonomi Suku Akit.
"Mendidik dengan hati dari dia ngak bisa ngomong sehingga dia bisa ngomong, dari dia pegang pensilnya gemetaran, pegang pensil aja mengigil apa lagi untuk menulis," ungkap Riyati, Guru Transmigran.
"Desa Sokop ini khususnya Bandaraya ini terdapat warganya itu sebanyak 63 KK dan kebetulan yang muslim itu cuman 2 KK," kata Munzir, Konsultan Sli Dompet Dhuafa.
"Selang-selang waktu sore saya jalan di pingiran jalan, saya lihat ada anak-anak Suku Akit yang bermain di lapangan, dia nulis-nulis di tanah redang terlihat bentuknya seperti bintang-bintang nggak jelas gitu, mungkin kalau dia sekolah menjadi sebuah angka atau huruf, warga Suku Akit bahwasanya mereka itu tidak bisa ngitung uang, misalnya uangnya 10.000 habis belanja 1 barang 3.000 dipulangi uangnya 7.000 baru mereka beli lagi kalau mereka beli 5 barang itu transaksi 5 kali, dari situ saya terpikir andai mereka sekolah pasti mereka bisa membeli barang dengan sekali ngomong, sekali bayar dan sekalian dihitung," ungkap Riyati, Guru Transmigran.
"Dari awalkan buk Riya mengajar di desa sebelah dan ada waktu pula di sini ngajar di sini awalnya dari sana, jadi selama mengajar ada yang membantu kami mencari tempat untuk dibagun sekolah, urusan itupun ibu Riyati yang menangani berusaha untuk anak-anak supaya bisa belajar," ungkap Nardi, Mantan Kadus Bandaraya.
"Ketika itu Dompet Dhuafa datang ke Meranti, untuk mencari sekolah yang layak didampingi Dompet Dhuafa, ketika itu pemerintah kabupaten Kepulauan Meranti menujukkan sekolah SDN 12 Sokop Lokal Jauh Dusun Bandaraya, ketika itu saya sedang mengajar datang konsultan Dompet Dhuafa dari Bogor katanya ingin membantu ruangan belajar juga guru konsultan," ungkap Riyati.
"Pertama saya datang ke sini banyak ibu-ibu yang buta huruf atau buta aksara, sehingga saya mendirikan kelas aksara di Dusun Bandaraya ini supaya ibu-ibu bisa membaca dan menulis, saya memberikan sebuah training bagaimana seorang guru atau pimpinan sekolah bisa memberikan hal yang terbaik untuk anak-anaknya, istilahnya guru guru disini bisa bersaing dengan guru-guru yang berada di kota, walaupun kita berada di pedalaman istilahnya kita tidak kalah saing walaupun dengan keterbatasan," ungkap Munzir, Konsultan Dompet Dhuafa.
"Mereka sudah bisa transaksi jual beli bahkan sudah kreatif bisa bikin es dan kue, bahkan dari hasil panen nanasnya dari dulu sampai matang nanasnya tak ada yang beli, kalau sekarang belum mantang mereka sudah panen dan masukan kedalam goni kemudian diantaranya ke Dusun Tebun, tidak butuh orang mencari tapi mereka sudah bisa menjual sudah percaya diri keluar kesana," ungkapnya Riyati.
"Bahkan Dompet Dhuafa membantu kita untuk melanjutkan sekolah anak-anak Suku Akit yang mualaf yang berada di Dusun Bandaraya ini, anak-anak yang ada disini dikirim ke bogor (sekolah Smart Ekselensia) ke Banten mudah-mudahan suatu saat nanti-anak yang pergi sekolah itu mereka pulang membawa segudang ilmu untuk membagun negeri mereka," tutup Riyati. (put)