RENGAT, datariau.com - Kantor Desa Perkebunan Sei Parit saat dikunjungi datariau.com pada Selasa (30/5/2017) tampak sangat memprihatinkan. Kondisi kantor yang ditumbuhi rumput liar dan sepi seperti tanpa penghuni.
Sejak kondisi kantor ini diangkat menjadi sebuah laporan berita, berbagai respon masyarakat disampaikan kepada datariau.com memalui sambungan seluler maupun chatting media sosial. (Baca: Memprihatinkan, Kantor Desa Perkebunan Sei Parit Inhu Ditumbuhi Rumput Liar dan Sepi Seperti Tidak Dihuni)
"Kantor desa kosong bukan kali itu saja, sering kali kantor desa kosong tidak ada pegawai dan banyak masyarakat yang berurusan langsung ke rumah kades atau sekdes," sebut seorang warga melalui selulernya, Kamis (1/6/2017).
Atas kondisi kantor yang seperti tidak terurus ini, akfitis Lembaga Swadaya Masyarakat Topan-Ri Jumadi meminta Bapemades dan Inspektorat untuk dapat memberikan teguran terhadap kades dan pegawai lainnya di Desa Perkebunan Sei Parit.
"Selain itu juga kita minta penegak hukum dapat menyelidiki tugas dan honor di Desa Perkebunan Sei Parit. Karena sesuai aturan maupun UU, setiap orang yang menerima honor atau gaji dari pemerintah wajib disipiln dan tatat pada aturan," pintanya.
Data yang berhasil dirangkum datariau.com, sebanyak 13 orang yang bertugas di Kantor Desa Perkebunan Sei Parit diantaranya adalah Kades, Sekdes, Kaur 3 oranng, Kadus 4 orang, Operator 1 orang, Staf 2 orang dan Bendahara 1 orang, ke 8 orang tersebut setiap bulan terima honor dari pemerintah daerah Pemkab Inhu melalui APBD.
Mengingat jumlah petugas di kantor desa itu sebenarnya cukup ramai yakni belasan orang, maka sangat tidak masuk di logika jika kantor tersebut sepi di hari dan jam kerja, diperparah kondisi kantor yang ditumbuhi rumput liar, membuat kantor ini seolah-olah benar-benar tidak berpenghuni.
Sekdes Desa Perkebunan Sei Parit Suprayogi yang dikonfirmasi ulang datariau.com pada Rabu (31/5/2017) kemarin membantah jika kantornya itu kosong, karena setiap hari ada 3 orang pegawai yang bertugas atau standby di kantor, meskipun kades atau sekdes keluar untuk sebuah urusan, kantor dipastikannya tetap ada yang huni dan melayani masyarakat.
"Setiap hari di kantor ada 3 orang pegawai yang bertugas, dan setiap harinya bergantian yang bertugas di kantor. Di waktu pagi itu saya mau pergi ada 2 orang di kantor desa. Saya pergi karena ada urusan di kantor camat dan pegawai yang 1-nya lagi antarkan undangan," jelas Suprayogi.
Ditanya berapa honor dan berapa jumlah pegawai yang ada di Kantor Desa, Suprayogi menjelaskan bahwa jumlah pegawai ada 13 orang terdiri dari Kades, Sekdes, Kaur 3 orang, Kadus 4 orang, Operator 1 orang, Staf 2 orang dan Bendahara 1 orang.
Masing-masing mendapat honor, Kades perbulannya Rp.2.500.000, Sekdes perbulannya Rp.1.600.000, Kaur satu orangnya perbulan Rp.1.250.000, Kadus satu orangnya perbulan Rp1.050.000, Operator perbulannya Rp.750.000, Staf satu orangnya Rp.700.000 dan Bendahara perbulannya, Rp.700.000.
Jika demikian, mengapa pada hari Selasa (30/5/2017) pukul 10.00 Wib saat datariau.com mampir di kantor ini karena melihat kondisi kantor yang semak dan sepi, ternyata tidak ada seorang pun di dalam kantor tersebut, Suprayogi tampak keberatan dengan pertanyaan ini.
"Kalau mau ke Sei Parit kan melewati beberapa desa, coba saja perhatikan kantor-kantor desa lainnya, apakah mereka buka, banyak kantor desa yang tutup, tapi tidak diributkan. Mungkin pas waktu sampai di kantor desa Perkebunan Sei Parit pegawai sedang ada keperluan sebentar, maka pintu ditutup," ulasnya menerangkan.