MDI Pekanbaru Tegaskan Umat Islam Haram Ikut Rayakan Valentine

1.550 view
MDI Pekanbaru Tegaskan Umat Islam Haram Ikut Rayakan Valentine
Tarmizi Muhammad. (foto: riki)
PEKANBARU, datariau.com - Pelaksanaan hari Valentine Day atau yang lebih dikenal dengan hari kasih sayang yang biasa digelar setiap tanggal 14 Februari, merupakan perayaan umat yahudi dan nasrani. Umat Islam dilarang ikut-ikutan dan haram hukumnya.

Hal ini ditegaskan Ketua Majelis Dakwah Indonesia (MDI) Kota Pekanbaru Tarmizi Muhammad, saat berbincang dengan datariau.com di ruang kerjanya di DPRD Kota Pekanbaru, Selasa (10/2/2015). Menurut Tarmizi, umat Islam harus tahu sejarah valentine tersebut terkhusus kaula muda yang sering terjebak.

"Masalah hari kasih sayang itu atau dikenal dengan hari valentine tidak dibenarkan dilakukan oleh orang Islam, karena itu ajang maksiat antara dua pasang yang bukan muhrim," sebut Tarmizi yang juga Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru yang membidangi sosial ini.

Di dalam ajaran Islam, kata Tarmizi, kasih sayang yang dilakukan oleh sepasang insan di hari valentine dengan melakukan berbagai hal yang bernilai negatif itu sama saja dosa besar, apalagi sampai-sampai perbuatan zina, terutama orang yang kumpul kebo. Maka kepada Pemerintah Kota Pekanbaru diminta agar tegas dalam mengawasi kaula muda terlibat maksiat dalam valentine days ini.

"Bukan pasangan muda mudi saja, bagi yang sudah berkeluarga juga kita menghimbau agar tidak melakukan hari kasih sayang di saat perayaan tersebut, sebenarnya kalau orang yang sudah berkeluarga tiap hari sudah melakukan kasih sayang kepada istri atau suami serta keluarganya," papar Politisi Golkar ini.

Sebagai agama yang sempurna, jelas Tarmizi, Islam telah mengatur semuanya dengan bijaksana dan tidak bertentangan dengan kodrat manusia. Berkasih sayang juga diatur dalam Islam, kasih sayang tidak hanya hari tertentu melainkan setiap hari.

"Artinya kita perlu memberikan kasih sayang kepada keluarga setiap hari, sehingga terbentuklah keluarga yang sakinah, mawadah dan maromah. Tanpa hari valentine sebuah keluarga sudah melakukan kasih sayangnya sendiri," ujar Tarmizi Muhammad.

Jika dipelajari, sejarah hari valentine tersebut berawal dari kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M.

Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa.

Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

"Maka ketika umat Islam ikut-ikut merayakannya, secara tidak langsung mereka telah mengkuti cara ibadah orng yahudi dan nasrani," pungkasnya. (mys/umm)
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)