Menimbang Sikap Oposisi Rocky Gerung

datariau.com
576 view
Menimbang Sikap Oposisi Rocky Gerung

DATARIAU.COM - "No rocky, No Party”, demikian jargon dalam memperkenalkan peranan sosok yang dikenal membawa warna berbeda dalam kontestasi ide, warna nasional budaya bahkan religius, khususnya populer di kalangan media beberapa tahun terakhir. Dikatakan berbeda tidak lain dari langkah yang ditempuh Rocky, panggilan dari nama lengkap Rocky Gerung yang frontal dari sikap oposisi terhadap pemerintah.

Satu sisi yang menarik adalah sikap yang ditempuh adalah perlawanan secara ide terhadap penguasa sebagai suatu lembaga yang mengorganisir masyarakat berupa negara, siapun penguasanya. Demikian posisi Rocky dari masa ke masa jabatan setiap pemimpin, yaitu Presiden Republik Indonesia.

Setiap sikap yang diambil dalam setiap langkah terdapat konsekuensi yang harus diterima, kiranya demikian yang hukum berpikir (logika) yang sedang dialaminya, dan nampaknya kali ini Rocky akan kesulitan memberikan perlawanan logika terhadap apa yang sedang dialaminya.

Menggambarkan Ruang Ideal


Bukan jalan baru bagi sosok yang mengambil posisi oposisi pemerintah sekawakan Rocky. Era kepemimipinan Susilo Bambang Yudhoyono, selama rezim kepemimpinannya, berbagai isu diangkat Rocky, terutama agama. Dalam suatu kesempatan, kritiknya terhadap kebijakan pembangunan rumah ibadah, dimana presiden kala itu berkomentar terhadap kebijakan yang dirasa berbeda oleh berbagai kalangan, keberatan Rocky berupa penggunaan kata dalam simbol keagamaan menurutnya tidak berkesusaian presideb sebagai pemimpin agama. Presiden menurutnya tidak pantas bicara agama sebagai keyakinan yang berbeda dalam realita berupa simbol-simbol.

Nampaknya Rocky mengidealkan pembedaan wewenang antara presiden sebagai kepala negara dengan agama sebagai ranah yang otoritasnya berbeda. Maka sosok presiden menurutnya bahkan tidak pantas bicara tentang simbol-simbol agama, terkhusus terkait kebijakan.

Berpikir Kritis dan Bersikap Bijak


Dalam kesempatan lain, Rocky juga melakukan demonstrasi sebagai aksi. Tidak hanya sekali, beberapa kali ia “turun ke jalan” menyuarakan perlawanan terhadap kebijakan yang ditetapkan pemerintah, seperti kebijakan terkait BBM (Bahan Bakar Minyak). Demikian sikap oposisi Rocky terhadap pemerintah, bahkan terhadap setiap kebijakan bahkan yang populer sekalipun.

Namun di sisi lain, meski Rocky juga mengkritik kebijkan pemerintah terkait keagamaan, namun yang dikenal begitu dekat dengan orang-orang beragama yang terkesan garis keras, bahkan dalan berbagai kesempatan ia mengambil posisi pro/membela. Mungkinkah sikap tersebut hanya kebetulan saja, katakanlah bersebarang dengan pemerintah, atau memiliki kesamaan misi untuk membangun negeri ini, kemungkinan lain bisa juga berupa ketundukan logika pada otoritas suci.

Di luar kontroversi yang ada, sosok Rocky telah membawa semangat untuk berpikir di satu sisi dan di sisi lain ketidakpopuleran sikap yang cenderung berbeda dengan ide berpikir dengan warna filosofis. Sisi pertama sebagai cerminan dari corak pemikiran yang menjadi paradigma berpikir yang berkembang dari lingkungan akademik kemudian bertemu dalam kontestasi dengan cara pikir yang telah ada lebih dulu di masyarakat.

Sebagai akademisi, Rocky tentu paham betul teori orasi, pemilihan kata-kata, bahkan intonasi penyampaian dalam berpendapat, tanggungjawab kiranya sudah menjadi pertimbangan sebagai konsekuensi dari sikap yang diambil sebagai oposisi. (*)

Oleh: Nazwar SFil I MPhil (Penulis Lepas Yogyakarta)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)