Mengembalikan Misi Pesantren: Melahirkan Generasi Pembangun Peradaban Islam

Oleh: Nining Sudiar
datariau.com
161 view
Mengembalikan Misi Pesantren: Melahirkan Generasi Pembangun Peradaban Islam
Ilustrasi. (Gambar: Open AI)

DATARIAU.COM - Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional untuk mengenang kontribusi santri dan pesantren dalam kehidupan berbangsa sekaligus meneguhkan peran strategisnya bagi masa depan umat. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia per 4 Oktober 2026, sebanyak 4.634.406 santri telah terverifikasi melalui pendataan by name by address (BNBA). Jumlah ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki basis pendidikan yang besar dan jangkauan pembinaan generasi sekaligus menunjukkan besarnya potensi pesantren dalam membina generasi penerus.

Potensi tersebut semakin relevan dengan tema Hari Santri Nasional 2026 yang diusung Kemenag RI, yaitu “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, serta tema Nahdlatul Ulama, “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”. Kedua tema ini menekankan pentingnya menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus memperkuat kontribusi santri dalam kehidupan berbangsa.

Santri diharapkan tidak hanya menjadi pewaris ilmu dan tradisi Islam, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mandiri secara ekonomi, serta memiliki kepedulian sosial. Namun, besarnya jumlah santri dan luasnya peluang kontribusi tersebut perlu disertai kejelasan arah pendidikan.

Idealisnya pesantren tidak cukup hanya mencetak lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga perlu melahirkan generasi berkepribadian Islam yang mendalam pemahaman agamanya, kokoh akidahnya, dan mampu membimbing umat menghadapi persoalan kehidupan. Sehingga, penguatan peran santri dalam pembangunan bangsa harus berjalan seiring dengan pengembalian misi mendasar pesantren, yakni melahirkan generasi berilmu dan berakhlak yang mampu berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.

Namun apakah misi pesantren sesuai dengan harapan? Untuk mengembalikan misi pesantren berarti memperkuat kembali orientasi pendidikan untuk melahirkan generasi pembangun peradaban Islam. Santri harus dipersiapkan bukan hanya menjadi individu yang sukses, melainkan juga menjadi kader ulama, pendidik, pemikir, dan penggerak perubahan yang mampu memberikan kontribusi bagi umat. Keberhasilan pesantren tidak cukup diukur dari banyaknya lulusan, tingginya prestasi akademik, atau luasnya lapangan kerja yang dapat dimasuki, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan generasi yang berilmu, berintegritas, dan sanggup membimbing umat menghadapi tantangan zaman. Dengan misi yang jelas dan pendidikan yang terarah, pesantren dapat terus menjaga warisan keilmuan Islam sekaligus menyiapkan generasi yang berperan aktif dalam membangun peradaban Islam.

Pergeseran Orientasi Pendidikan Pesantren


Dorongan agar santri berperan aktif dalam pembangunan bangsa perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak mengaburkan misi utama pesantren. Santri tentu tidak boleh menjadi kelompok yang terasing dari persoalan masyarakat. Namun, menjadikan santri sebagai motor pembangunan tanpa memperjelas orientasi keilmuannya berisiko mereduksi peran pesantren menjadi lembaga pencetak tenaga kerja dan sumber daya manusia yang siap memenuhi kebutuhan pembangunan. Padahal, pesantren memiliki tanggung jawab strategis untuk melahirkan kader ulama, yakni generasi yang mendalam pemahaman agamanya, kuat kepribadian Islamnya, dan mampu membimbing umat berdasarkan ilmu. Santri tidak cukup hanya dipersiapkan agar produktif, terampil, dan kompetitif, tetapi juga harus dibekali pemahaman Islam yang kokoh agar mampu menilai arah pembangunan, mengkritisi ketidakadilan, serta menawarkan solusi berdasarkan nilai-nilai Islam.

Persoalan berikutnya, peringatan Hari Santri berisiko kehilangan makna substantif ketika lebih menonjolkan seremoni, perlombaan seni dan olahraga, serta kompetisi keterampilan. Berbagai kegiatan tersebut tidak keliru, bahkan dapat menjadi sarana mengembangkan bakat, kedisiplinan, dan kebersamaan. Namun, peringatan Hari Santri menjadi dangkal apabila keberhasilannya hanya diukur dari kemeriahan acara, jumlah perlombaan, atau banyaknya peserta yang meraih penghargaan. Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kontribusi pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, membentuk kepribadian santri, dan melahirkan ulama yang mampu menjawab tantangan zaman. Tanpa refleksi tersebut, peringatan Hari Santri hanya akan menjadi agenda tahunan yang ramai dalam pelaksanaan, tetapi minim perubahan dalam orientasi pendidikan pesantren.

Selain itu, penggabungan nilai agama dan kebangsaan perlu dimaknai secara kritis agar tidak berhenti pada pembentukan nasionalisme spiritual yang sempit. Nasionalisme spiritual menjadi sempit ketika kecintaan kepada tanah air hanya diekspresikan melalui simbol, seremoni, slogan persatuan, dan kepatuhan terhadap agenda negara, tanpa disertai keberanian moral untuk mengoreksi kebijakan yang bertentangan dengan keadilan dan kemaslahatan umat. Pengamalan agama tidak semestinya dipersempit menjadi legitimasi bagi kepentingan nasional, sebagaimana kecintaan kepada tanah air tidak seharusnya meniadakan sikap kritis terhadap persoalan umat. Bagi pesantren, nilai agama harus menjadi landasan moral untuk membela kebenaran, menolak kezaliman, memperjuangkan keadilan, dan mengabdi kepada umat.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)