Mendudukkan Persoalan Perang AS-ISRAEL vs Iran dan Pengaruhnya Terhadap Geopolitik Global

Oleh: Alfiah, S.Si
datariau.com
251 view
Mendudukkan Persoalan Perang AS-ISRAEL vs Iran dan Pengaruhnya Terhadap Geopolitik Global

DATARIAU.COM - Sudah hampir memasuki 2 bulan perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, akhirnya kedua belah pihak (kecuali Israel) bernegosiasi pasca gencatan senjata dua pekan di Islamabad. Meski pada akhirnya tidak tercapai kesepakatan. Iran menawarkan 10 poin syarat gencatan senjata yang ditolak AS. Tentu saja batalnya kesepakatan menandakan perang yang akan terus berlanjut. Tentu saja konsekuensi perang berdampak pada kedua belah pihak.

Di Iran sendiri, serangan brutal koalisi AS-Israel telah menghancurkan banyak fasilitas publik dan telah menelan korban sedikitnya 1.900 orang tewas dan 20.000 orang terluka. Berdasarkan laporan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, serangan menyasar 105.325 unit sipil, 83.351 unit pemukiman di provinsi, 39.508 unit pemukiman dan komersial, 295 fasilitas medis dan kesehatan, 600 sekolah. Angka-angka ini akan terus bertambah mengingat perang masih akan terus berlanjut.

Sementara di pihak AS-Israel, AS kehilangan hampir dua miliar dolar AS (sekitar Rp 33 triliun) dalam bentuk peralatan militer hanya dalam empat hari pertama operasi serangan terhadap Iran, setelah sejumlah pangkalan dan fasilitas militernya di Timur Tengah menjadi sasaran serangan balasan Teheran. (aa.com.tr). Israel juga mengalami kerugian yang besar. Namun jurnalis tidak diizinkan mengakses rumah sakit yang menampung jenazah atau merekam lokasi kehancuran. Beberapa rudal menghantam tanpa sirene peringatan, bertentangan dengan jaminan resmi pemerintah. Warga sipil bahkan meninggal di tempat perlindungan meskipun pemerintah Israel menjamin fasilitas tersebut aman.

Sesungguhnya Iran berhak dan pantas membalas serangan dengan serangan. Apalagi Iran merasa dikhianati oleh Amerika Serikat mengingat sebelum serangan terjadi, tengah berlangsung negosiasi antara Iran dan AS terkait program nuklir Iran yang dimediasi oleh Oman. Pengkhianatan berulang Amerika Serikat (AS) membuat Iran kehilangan kepercayaan untuk melanjutkan diplomasi. Anehnya, tanpa rasa malu dan bersalah, saat AS gagal dalam melumpuhkan Iran meski telah melakukan serangan lewat laut dan udara, Trump akhirnya menawarkan negosiasi dengan Iran dengan syarat yang menguntungkan AS, namun ditolak mentah-mentah oleh Iran.

AS sebagai negara yang berideologi kapitalisme dengan menjadikan penjajahan sebagai thariqah (metodenya), jelas akan memilih melanjutkan perang meski di dalam negerinya gelombang protes masyarakat menjalar hampir di seluruh negara bagian AS. Trump dihadapkan oleh kemarahan rakyat yang menolak keputusan perang. Hampir 10 juta massa turun ke jalan dalam aksi "No King". Mereka marah karena besarnya biaya perang dan dampaknya bagi stabilitas dalam negeri. Kongres AS menyebut pemakzulan Trump mencapai 73 % suara. Para tentara AS bahkan banyak yang menolak berperang karena tujuan perang yang tidak jelas.

Meski dihadapkan pada kemarahan rakyat AS, Pentagon (Markas Besar Departemen Pertahanan AS) justru telah mematangkan rencana untuk meluncurkan operasi darat di Iran. Iran merespons kabar ini dengan nada menantang. Bahkan pasukan Iran sedang menunggu kedatangan tentara Amerika untuk membakar mereka dan memberikan hukuman abadi bagi mitra regional mereka. Iran juga tengah memperluas medan tempur. Iran bahkan siap membuka front baru di Laut Merah melalui Selat Bab Al Mandeb dengan bantuan Houthi dari Yaman jika pulau-pulau atau wilayah darat Iran diganggu.

Perang AS-Israel melawan Iran nyatanya tak hanya mengguncang negara yang sedang berperang, namun juga mengguncang negara-negara di sekitar kawasan. Bahkan pengaruhnya berdampak global terhadap negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Studi terbaru dari United Nations Development Programme (UNDP) memperingatkan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi mengguncang ekonomi negara-negara Arab secara luas. Studi tersebut memproyeksikan ekonomi negara Arab dapat menyusut antara 3,7 persen hingga 6 persen. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai USD 120 miliar hingga USD 194 miliar, atau setara Rp 1.900 triliun hingga Rp 3.100 triliun.

Dampak tersebut tidak hanya berasal dari konflik militer, tetapi juga gangguan pada perdagangan, energi, dan sistem keuangan kawasan. UNDP menilai ketidakpastian akibat konflik akan membuat investasi terjun bebas. Selain itu, aktivitas ekspor dan impor diperkirakan melemah akibat gangguan jalur pengiriman dan meningkatnya biaya transportasi. Selain dampak ekonomi makro, dalam skenario konflik intensitas tinggi, hampir empat juta orang tambahan berpotensi jatuh ke dalam kemiskinan. Tak hanya itu, angka pengangguran juga diprediksi meningkat drastis. Sekitar 2,5 juta hingga 3,5 juta orang diperkirakan kehilangan pekerjaan akibat perlambatan ekonomi.

Kondisi kian tak menentu saat Iran mengambil langkah penutupan Selat Hormuz terhadap kapal AS, Israel dan sekutu-sekutunya. Iran memberlakukan aturan yang ketat terhadap boleh tidaknya kapal-kapal dari negara lain melewati Selat Hormuz. Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz adalah tempat strategis karena menjadi satu-satunya jalur maritim yang menghubungkan negara-negara Teluk Arab ke samudra terbuka, dari sana ke seluruh dunia. Kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan penting seperti Basra di Irak, terminal ekspor di Kuwait, pelabuhan Ras Tanura dan Jubail di Arab Saudi, dan fasilitas ekspor di UEA, Qatar, dan Iran harus melewati jalur air wajib ini, sebelum mencapai Teluk Oman dan kemudian Samudra Hindia.

Penutupan Selat Hormuz jelas akan menyebabkan guncangan pada pasar global dan peningkatan tajam dalam biaya pengiriman dan biaya hidup. Bank sentral di seluruh dunia akan menghadapi risiko stagfalasi karena inflasi akan meningkat tajam, memaksa mereka untuk menaikkan suku bunga yang akan menghambat pertumbuhan dan menyebabkan resesi yang dalam.

Tujuan Iran melalui ancaman penutupan Selat Hormuz adalah untuk mengubah krisis internalnya menjadi krisis global guna menekan Amerika Serikat (AS). Meskipun Trump mengatakan bahwa AS tidak lagi membutuhkan minyak Teluk, justru AS akan menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan melalui kehilangan prestise internasional, meningkatnya perpecahan internal dan keretakan di dalam blok Barat, juga harga energi domestik yang lebih tinggi karena keterkaitannya dengan harga global yang akan meningkatkan biaya manufaktur di AS.

Perang saat ini telah menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa satu negara negeri muslim nyatanya mampu mengguncang dunia. Kalaulah saja negeri-negeri muslim bersatu, melepaskan ketundukan mereka terhadap AS, tentu kesombongan AS dan Israel akan bisa diakhiri. Kebutuhan mendesak akan tatanan dunia baru dimana ideologi Islam yang memimpin dunia. Sesungguhnya umat Islam lebih layak memimpin transformasi tatanan dunia baru dengan sistem Islam yang diwahyukan secara Ilahi yang membawa manusia keluar dari kesempitan keserakahan dan ketamakan materi, menuju keadilan Islam dan keluasan rahmat-Nya.

Sebagai negeri muslim yang berdiri melawan kesombongan AS-Israel, kita tentu berharap perang ini dimenangkan oleh Iran. Namun tak cukup itu, kita tentu berharap kemenangan yang diperoleh, adalah kemenangan yang hakiki, yang kemenangan ini hanya akan terwujud jika negeri-negeri kaum muslimin bersatu menghadapi kesombongan AS-ISRAEL. Wallahu a'lam.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)