Oleh : Sarmi Julita, SP

Keluarga Muslim Dalam Ancaman Arus Global Liberalisasi Seksual

Admin
557 view
Keluarga Muslim Dalam Ancaman Arus Global Liberalisasi Seksual
Sarmi Julita.

DATARIAU.COM - Liberalisasi menurut KBBI online artinya proses (usaha dan sebagainya) untuk menerapkan paham liberal dalam kehidupan (tata negara dan ekonomi). Sedangkan liberal sendiri berarti bersifat bebas atau berpandangan bebas. Liberalisasi seksual berarti memiliki pandangan yang bebas atau adanya kebebasan dalam seksual. Dimana urusan seksual, baik buruknya ditentukan oleh masing-masing individu sebagai sebuah hak asasi.

Liberalisasi seksual bukanlah perkara baru. Tetapi sebuah pemahaman yang tengah mengepung bahkan sudah diadopsi oleh keluarga kaum muslimin. Pemahaman yang bukan hanya meracuni generasi tetapi juga pemikiran para orang tua. Orang tua yang seharusnya menjaga fitrah Islam anak, tetapi malah teracuni pemahaman liberal ini.

Hal ini terlihat dari ungkapan seorang publik figur dalam sebuah wawancara menjawab bahwa dirinya tidak mau menjadi orangtua yang kolot dan berpikiran terbuka. Sehingga dia memilih mendampingi anak-anak melihat konten porno dalam rangka pembelajaran seks sejak dini (Detik.com, 26/06/2021).

Bukan hanya itu saja, adanya liberalisasi seksual hampir menyusup dalam semua lini kehidupan. Segala hal mesti dikaitkan dengan unsur seks untuk menarik perhatian. Iklan yang menampilkan wanita mengumbar aurat, lowongan kerja dengan syarat wanita berpenampilan menarik, dan lain-lain. Bahkan acapkali urusan seks menjadi candaan sehari-hari baik di kalangan orangtua hingga di kalangan remaja. Miris !

Racun Liberalisasi Seksual

Ketua KPAI, Susanto menjelaskan bahwa konten porno merupakan konten yang berbahaya dan memiliki dampak negatif yang serius bagi anak-anak. Konten ini tidak boleh ditonton baik diawasi maupun dengan ditemani (Detik.com, 26/06/2021).

Diantara dampak buruk melihat konten porno yakni merusak otak, sehingga konsentrasi menurun, kesulitan memahami benar dan salah, sulit merencanakan masa depan, dll. Selain itu juga menimpulkan kecanduan disebabkan adanya rasa penasaran, keinginan mencoba dan meniru dan mulai melakukan tindakan seksual hingga merusak mental (Tempo.co, 03/07/2021).

Hal ini tentu saja akan memiliki efek yang sangat berbahaya. Seperti munculnya pelecehan seksual hingga pemerkosaan, seks pranikah, pedofili, LGBT, bahkan generasi menjadi lemah sebab otaknya diracuni oleh pemikiran porno, dan lain-lain. Bisa kita bayangkan, mau dibawa kemana negeri ini di masa depan ?.

Paham liberal dalam urusan seksual adalah racun yang menggerogoti pemahaman kaum muslimin. Sebuah pemahaman yang menjadikan mereka semakin jauh dari Islam. Tidak lagi menjadikan Islam sebagai tolak ukur berpikir dan berbuat. Tidak memperhatikan halal dan haram. Tetapi menjadikan kepuasan seksual seolah arti bahagia dalam kehidupan.

Islam Melarang Mendekati Zina

Islam sebagai sebuah ideologi, aqidah yang lahir darinya peraturan dalam kehidupan. Islam diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Sang Pencipta alam semesta beserta isinya pasti Maha Mengetahui segala sesuatu tentang kebutuhan manusia.

Dalam Islam, naluri seksual adalah fitrah yang bertujuan agar manusia bisa memiliki keturunan sehingga melestarikan manusia di muka bumi. Tetapi, tentu saja dipenuhi dengan cara yang benar sesuai petunjuk Islam. Karena itu, adanya syariat pernikahan menjadi solusi naluri seksual.

Urusan seksual dibahasakan dengan cara yang santun, tidak boleh mengumbarnya di kehidupan umum. Seperti adanya larangan menceritakan urusan ranjang, larangan berkhalwat dengan non mahram, larangan campur baur laki laki dan perempuan tanpa alasan syar’i, anjuran menikah, kewajiban menutup aurat dan menjaga pandangan, dan lain-lain.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S Al Isra : 32)

Rasulullah Shollallaahu ‘Alayhi Wasallam juga sudah menyampaikan peringatan kepada kita, “Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Islam menegaskan bahwa zina adalah sebuah perbuatan keji dan jalan yang buruk. Karena itu, kaum muslimin sebagai individu, masyarakat hingga bernegara mesti sepakat menolak adanya liberalisasi seksual ini. Sebab kita tentu tidak mau mendatangkan murka Allah ‘Azza Wa Jalla.

Liberalisasi Seksual Adalah Arus Global

Adanya liberalisasi seksual ini tak lepas dari ideologi yang tengah mendominasi hari ini. Yakni ideologi sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sadar atau tidak, ideologi ini sengaja dijajakan oleh kafir barat dan dikampanyekan ke tengah kaum muslimin, agar mereka semakin jauh dari agamanya. Merusak cara pandang orang tua dalam mendidik anak. Sehingga lahirlah generasi muslim namun memiliki gaya hidup barat.

Adanya pengarusan secara global ini terlihat dari arahan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) bahwa setiap negara di dunia untuk menerapkan pendidikan seksual yang komprehensif, termasuk Indonesia. Rekomendasi ini berdasarkan pada kajian terbaru dari Global Education Monitoring (GEM) Report, UNESCO (CNNIndonesia.com, 14/6/2019).

Negara yang berseberangan dengan arus ini, akan mendapatkan sanksi moral berupa pengucilan, seperti yang menimpa Hungaria. Negara Hungaria dikecam oleh para pemimpin Uni Eropa, karena parlemen Hungaria meloloskan rancangan undang-undang yang melarang konten isu lesbian, gay, biseksual dan transgender di sekolah (CNNIndonesia, 26/06/2021). Bahkan UU yang disahkan oleh Hungaria itu dinilai sebagai sebuah pandangan yang primitif dan hukum yang memalukan (Kumparannews, 25/06/2021).

Saran dari UNESCO tentang pendidikan seksual bagi anak sejak usia dini, tentu saja sesuai dengan cara pandang dan gaya hidup barat, yakni liberalisasi. Sebuah pemahaman yang sangat bertentangan dengan Islam. Sebuah peradaban rusak yang seharusnya kita tolak.

Karena itu, kita membutuhkan kekuatan besar untuk menghentikan arus ini. Tidak bisa hanya dalam tataran individu atau masyarakat. Tetapi membutuhkan peranan institusi yakni negara. Sebuah negara yang menerapkan sistem Islam. Sebab hanya Islam yang memiliki konsep pengaturan sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Sistem sosial dibangun berlandaskan akidah Islam mewujudkan tata pergaulan yang menentramkan, menjaga kehormatan manusia dan nasab yang jelas. Pemenuhan naluri seksual pun dalam rangka ketaatan kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala, bukan hawa nafsu semata.

Sistem pendidikan Islam, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam dalam mendidik anak mampu mewujudkan generasi yang berkepribadian Islam dan berkarya untuk umat. Segala hal yang merusak pemikiran umat akan dihilangkan, seperti konten porno, miras, dan lainnya.

Sistem sanksi Islam, menjamin tegaknya aturan Islam secara adil. Sebagai penebus dan memberikan efek jera bagi pelaku serta mencegah orang lain melakukan kemaksiatan yang sama.

Negara yang menerapkan sistem Islam akan mewujudkan masyarakat yang diliputi suasana ketaqwaan. Seperti yang pernah diterapkan pada masa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan para Khalifah sesudahnya. Wallaahu A’lam.