DATARIAU.COM - Setiap kali musim kemarau tiba, masyarakat di Riau dan berbagai daerah rawan kebakaran hutan dan lahan kembali dihadapkan pada persoalan yang seolah terus berulang yakni kabut asap. Langit berubah kelabu. Aktivitas masyarakat terganggu. Sekolah dan tempat kerja mulai melakukan penyesuaian. Keluhan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan saluran pernapasan, menjadi perhatian. Media sosial pun dipenuhi informasi mengenai kondisi udara dan imbauan untuk menjaga kesehatan.
Namun, sebagai seorang tenaga Promosi Kesehatan, saya melihat bahwa persoalan kabut asap tidak seharusnya hanya dibicarakan ketika asap sudah menutupi langit. Ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: sudahkah kita benar-benar menempatkan perlindungan kesehatan masyarakat sebagai bagian utama dalam penanganan kabut asap?
Sebab kebakaran mungkin terjadi di suatu tempat, tetapi dampak asap dapat dirasakan oleh masyarakat yang jauh dari titik api. Asap tidak mengenal batas administrasi. Ia dapat masuk ke lingkungan tempat tinggal, sekolah, tempat kerja, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat. Karena itu, penanganan kabut asap tidak boleh hanya berorientasi pada bagaimana memadamkan api. Kita juga harus memikirkan bagaimana mencegah masyarakat menjadi korban dampak kesehatannya.
Masyarakat Jangan Hanya Menunggu Imbauan
Dalam situasi kabut asap, masyarakat sering berada pada posisi sebagai penerima informasi. Ketika kondisi memburuk, barulah muncul berbagai imbauan: kurangi aktivitas di luar ruangan, perhatikan kondisi kesehatan, lindungi kelompok rentan, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan.
Imbauan tersebut tentu penting. Namun, masyarakat seharusnya tidak hanya menjadi pihak yang menunggu informasi datang. Masyarakat perlu dibangun menjadi komunitas yang memiliki literasi kesehatan dan kesiapsiagaan.
Keluarga perlu memahami bahwa kualitas udara yang memburuk bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Orang tua perlu lebih peka terhadap kondisi anak-anak. Kelompok usia lanjut dan masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu juga membutuhkan perhatian lebih. Sekolah, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat harus memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya melindungi kesehatan saat terjadi gangguan kualitas udara.
Baca juga:Kemarau Panjang, DLHK Pekanbaru Intensifkan Penyiraman Tanaman hingga 252 Ribu Liter Air per Hari
Di sinilah promosi kesehatan memiliki peran penting. Promosi kesehatan bukan sekadar membuat poster atau menyampaikan slogan. Promosi kesehatan adalah proses membangun kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan masyarakat agar mampu mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi kesehatannya.
Dengan kata lain, masyarakat tidak cukup hanya diberi tahu “waspada kabut asap”. Masyarakat perlu memahami mengapa harus waspada, siapa yang paling rentan, apa yang harus dilakukan, dan kapan harus mencari pertolongan kesehatan. Informasi harus berubah menjadi pemahaman. Pemahaman harus berubah menjadi tindakan.
Pemerintah Perlu Menguatkan Komunikasi Risiko
Pemerintah tentu memiliki peran besar dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan, pengendalian, pemadaman, penegakan aturan, serta koordinasi lintas sektor merupakan bagian yang sangat penting. Namun, dari perspektif Promosi Kesehatan, ada satu aspek yang tidak boleh hanya menjadi pelengkap, yaitu komunikasi risiko kepada masyarakat.
Sering kali informasi kesehatan baru menjadi perhatian ketika kondisi sudah cukup serius. Padahal, komunikasi kepada masyarakat seharusnya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan perlu membangun sistem komunikasi yang mudah dipahami masyarakat. Informasi tidak harus selalu menggunakan bahasa teknis yang rumit. Dalam kondisi tertentu, masyarakat membutuhkan pesan yang sederhana, jelas, dan langsung menjawab kebutuhan mereka.
Baca juga:Kabut Asap Makin Menyengat, Ditlantas Polda Riau Bagikan Masker dan Dorong Warga Pakai SIGNAL
Misalnya: bagaimana kondisi udara saat ini? Kelompok mana yang perlu lebih berhati-hati? Aktivitas apa yang sebaiknya dibatasi? Apa yang dapat dilakukan keluarga untuk mengurangi paparan? Dan kapan seseorang perlu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti inilah yang sering kali lebih dibutuhkan masyarakat.
Di era digital, pemerintah juga memiliki peluang besar untuk memperkuat edukasi melalui media sosial dan berbagai kanal komunikasi lainnya. Informasi harus hadir di tempat masyarakat mencari informasi. Jangan sampai ketika masyarakat membutuhkan panduan, justru informasi yang paling cepat mereka temukan adalah informasi yang belum tentu benar.
Puskesmas Harus Menjadi Garda Edukasi Masyarakat
Puskesmas memiliki posisi yang sangat strategis dalam menghadapi dampak kesehatan akibat kabut asap. Selama ini, masyarakat sering memandang fasilitas kesehatan sebagai tempat datang ketika sudah sakit. Padahal, salah satu kekuatan utama pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah mencegah masyarakat jatuh sakit dan memberdayakan mereka untuk menjaga kesehatannya.
Dalam menghadapi kabut asap, Puskesmas dapat mengambil peran lebih aktif sebagai pusat edukasi dan komunikasi kesehatan. Promosi kesehatan dapat dilakukan jauh sebelum kondisi memburuk. Edukasi dapat diperkuat melalui kader kesehatan, pemerintah desa, sekolah, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, serta media lokal.
Baca juga:Kabut Asap Memburuk, Disdik Bengkalis Terapkan Pembelajaran Daring 26-29 Agustus 2026
Pesan-pesan kesehatan tidak harus menunggu kabut asap datang. Justru kesiapsiagaan harus dibangun ketika langit masih cerah. Bayangkan apabila sebelum musim kemarau, masyarakat sudah mendapatkan edukasi. Kader telah memahami informasi yang benar. Sekolah memiliki kesiapan dalam menghadapi gangguan kualitas udara. Keluarga mengetahui langkah dasar untuk melindungi anggota keluarganya. Media sosial Puskesmas juga secara konsisten menyampaikan edukasi dan informasi kesehatan. Ketika kabut asap datang, masyarakat tidak lagi memulai dari ketidaktahuan. Mereka sudah memiliki kesiapan.
Jangan Normalisasi Kabut Asap
Hal yang paling mengkhawatirkan dari persoalan kabut asap adalah ketika masyarakat mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. “Ah, Setiap tahun juga begini.” Kalimat sederhana ini sebenarnya menggambarkan persoalan yang lebih besar.
Ketika risiko kesehatan mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar, maka kewaspadaan dapat menurun. Masyarakat mungkin tetap beraktivitas seperti biasa meskipun kondisi lingkungan berubah. Anak-anak mungkin tetap terpapar tanpa perlindungan dan pemahaman yang cukup. Keluhan kesehatan pun kadang dianggap sebagai hal biasa yang akan hilang dengan sendirinya.
Baca juga:Surat Edaran Disdik Pekanbaru: Seluruh Pelajar Belajar di Rumah Karena Kabut Asap Semakin Parah
Kita tidak boleh membiarkan masyarakat terbiasa hidup dalam situasi yang sebenarnya berisiko terhadap kesehatan. Beradaptasi memang penting. Tetapi adaptasi tidak boleh berarti menyerah dan menerima keadaan sebagai sesuatu yang normal.
Pemerintah perlu terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran. Masyarakat juga harus mengambil peran dalam menjaga lingkungan dan mencegah tindakan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Di sisi lain, sektor kesehatan harus memastikan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melindungi dirinya. Karena kesehatan masyarakat bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Kesehatan adalah tanggung jawab bersama.
Dari Responsif Menjadi Preventif
Kita perlu mengubah pola pikir dalam penanganan kabut asap. Jangan hanya bergerak ketika langit sudah gelap oleh asap. Jangan hanya melakukan edukasi ketika fasilitas kesehatan mulai menerima peningkatan keluhan. Jangan hanya menyampaikan imbauan ketika masyarakat sudah merasa panik. Promosi kesehatan harus bergerak lebih awal.
Kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun sebelum risiko meningkat. Komunikasi risiko harus dilakukan secara konsisten. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, media, sekolah, pemerintah desa, komunitas, dan masyarakat harus diperkuat.
Baca juga:Kabut Asap Selimuti Bagan Batu, Warga Diminta Waspada ISPA
Sebagai tenaga Promosi Kesehatan, saya percaya bahwa keberhasilan menghadapi kabut asap bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat api dapat dipadamkan. Keberhasilan juga ditentukan oleh seberapa siap masyarakat menghadapi dampaknya.
Berapa banyak keluarga yang telah mendapatkan informasi yang benar? Berapa banyak masyarakat yang memahami risiko kesehatan? Seberapa cepat informasi yang akurat sampai kepada kelompok yang membutuhkan? Dan yang lebih penting, apakah masyarakat benar-benar memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya dan keluarganya? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menjadi bagian dari evaluasi kita bersama.
Saatnya Menempatkan Manusia sebagai Pusat Penanganan
Kabut asap adalah persoalan lingkungan, tetapi dampaknya adalah persoalan kemanusiaan dan kesehatan masyarakat. Di balik angka titik api, indeks kualitas udara, dan luas wilayah terdampak, ada anak-anak yang harus tetap menjalani hari, ada orang tua yang khawatir terhadap kesehatan keluarganya, ada pekerja yang harus beraktivitas, dan ada kelompok masyarakat rentan yang membutuhkan perlindungan lebih. Karena itu, penanganan kabut asap harus menempatkan manusia sebagai pusat perhatian.
Pemerintah harus terus memperkuat kebijakan dan langkah pencegahan. Fasilitas kesehatan harus memperkuat kesiapsiagaan dan edukasi. Media harus membantu menyebarkan informasi yang akurat. Dan masyarakat harus mengambil peran aktif dalam melindungi diri, keluarga, serta lingkungan.
Kabut asap mungkin menjadi persoalan yang berulang. Tetapi kesalahan yang sama tidak boleh terus berulang. Jangan menunggu asap datang untuk mulai peduli. Jangan menunggu masyarakat sakit untuk mulai mengedukasi. Dan jangan menunggu bencana membesar untuk mulai membangun kesiapsiagaan.
Sebagai tenaga Promosi Kesehatan, saya meyakini bahwa masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang memiliki akses untuk berobat. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan untuk melindungi kesehatannya sebelum penyakit dan dampak buruk terjadi. Maka, menghadapi kabut asap bukan hanya tentang memadamkan api. Ini juga tentang menyalakan kesadaran.
Sebab ketika pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat bergerak bersama, kita tidak hanya sedang menghadapi kabut asap. Kita sedang membangun masyarakat yang lebih siap, lebih peduli, dan lebih berdaya untuk menjaga kesehatannya.***
*) Penulis merupakan Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku Ahli.