DATARIAU.COM - Berjangkitnya wabah covid-19 hampir di seluruh negeri nyatanya tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan semata. Namun, juga turut mengekor hampir di semua lini kehidupan. Mulai dari seretnya ekonomi, meningkatnya angka pengangguran, pembatasan aktivitas sosial, maraknya tindakan kriminal, masyarakat yang tak patuh protokol kesehatan, polemik soal pelaksanaan pilkada hingga masalah pendidikan. Benar-benar negeri ini dihadapkan musibah yang membuat banyak orang mengeluskan dada.
Kegalauan luar biasa pun kerap dialami kaum ibu-ibu tatkala menghadapi anak-anak mereka beralih ke belajara Jarak Jauh selama pandemi covid-19 ini. Khususnya ibu-ibu berkarir dan yang minim akan pendidikan akademik. Berbagai curhatan, keluhan, aduan pun kian membanjiri laman-laman media sosial dengan beragam alasan. Alasan tersebut diantaranya Ketidakmampuan dalam mengajar, minimnya pengetahuan, ketidakpahaman mengakses perangkat, kesibukan kerja diluar, sampai curhatan emosi yang berkalut setiap kali anak sulit dikendalikan.
Seperti salah satu kisah orangtua yang mengeluh kepada guru. Kisah ini mendadak viral setelah hasil tangkapan layar isi pesan Whatsapp antara orangtua murid dan penerima pesan yang kemungkinan adalah seorang guru diunggah oleh salah satu pengguna twitter. Dilansir dari suara.com, dalam isi pesan tersebut, ibu dari sang anak meminta agar keluhannya disampaikan kepada guru yang bersangkutan jangan lagi memberikan tugas yang terlalu berat kepada anaknya. ?Titip tolong sampaikan ke guru yang bersangkutan? tulis orangtua murid. ?Oke Mom. Mom, coba pakai laptop dan google chrome mom,? jawab penerima pesan ?saya sudah mau banting laptop saya ini. Lama-lama saya minta biaya terapi psikiater ke sekolah. Kalau saya masih dibikin susah, saya nggak mau urusin semua tugas-tugas sekolah. Yang sekolah anak saya, kok saya yang repot,? tulis orangtua murid itu lagi (suara.com). Berangkat dari ketidakpahaman ini, alhasil banyak pihak kemudian mendesak untuk segera diberlakukan kembali BBJ (Belajar Tatap Muka) tanpa berpikir panjang bahwa kondisi sedang dalam pandemi saat ini.
Pemerintah pun tak tinggal diam. Menindaklanjuti tuntutan tersebut Mendikbud Nadiem Makarim kemudian meluncurkan kebijakan barunya untuk membuka kembali sekolah tatap muka bagi SMK dan Perguruan Tinggi yang melakukan praktek dilapangan. Selain itu Mendikbud juga memberlakukan hal yang sama tentang kebolehan tatap muka bagi sekolah-sekolah yang berada di zona hijau dan kuning. Dikutip dari GridHITS.id- Mendikbud Nadiem Makarim dalam pidato konferensi pers secara virtual (7/8/20200) mengumumkan bahwa SMK dan Perguruan Tinggi diseluruh zona sudah diperbolehkan untuk melakukan sekolah secara tatap muka. ?untuk SMK maupun perguruan tinggi semua tempat boleh melakukan praktik di sekolah, yaitu pembelajaran produktif yang menerapkan protokol.? Kata Nadiem. Sementara untuk jenjang SD, SMP, SMA yang di zona kuning dan hijau juga diberlakukan belajar tatap muka dengan sistem rotasi menggunakan ketentuan maksimal 18 murid. ?kapasitas itu harus dilakukan. Mau tidak mau dilakukan shifting SD, SMP, SMA 50 persen. Jadi harus menggunakan sistem rotasi,? tambahnya.
Kebijakan tersebut sempat mendapat kritikan dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia. Ketua KPAI Arist Merdeka Sirait menilai keputusan dari Kemendikbud belum tepat waktunya, menigngat risiko penularan masih ada terlebih di zona kuning. Dirinya juga menegaskan bukannya tidak percaya pada protokol kesehatan yang digalakkan pemerintah dan sekolah, namun menurutnya lebih melihat pada sudut pandang siswa, khususnya bagi anak-anak Sekolah Dasar. (Tribunnews.com)
Selain itu, Mendikbud juga menyebutkan akan ada subsidi pendidikan bagi guru dan murid berupa kuota gratis yang diambil dari Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). ?100 persen dana BOS diberikan fleksibilitas untuk membeli pulsa atau kuota internet untuk anak dan orangtuanya. Bisa itu, sudah kita bebaskan. Dimasa darurat covid ini boleh digunakan untuk pembelian pulsa guru, sekolah dan orangtua untuk anak,? ucap Nadiem (30/7/2020) (GridHITS.id).
Dari sederatan fakta kebijakan diatas Lalu, bagaimana Islam memandang hal ini?
Masalah keruwetan ibu-ibu saat membimbing anak Belajar Jarak Jauh (BBJ) sesungguhnya adalah tindakan yang tidak benar. Sebab, orangtua adalah sekolah pertamanya anak. Sebagaimana kata-kata hikmah bahasa Arab yang sering kita dengarkan ?Al-Ummu madrasah-al-ula? (ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya). Berbeda dengan sekolah umum. Sekolah umum hanyalah sebagai wadah atau fasilitator dari negara maupun swasta untuk meneruskan didikan orangtua dengan mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan yang mungkin tidak sepenuhnya didapat dari rumah. Ilmu-ilmu tersebut seperti ilmu sains, sosial, teknologi, kedokteran dan sebagainya. Maka tidaklah benar apabila orangtua melimpahkan semua kewajiban utama mendidik anak mereka seratus persen mutlak kepada sekolah. Tentu, Ini adalah paradigma berpikir yang keliru. Mendidik dan membentuk anak agar menjadi anak yang baik haruslah menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi. Jauh sebelum itu, pada saat pra-pernikahan masing-masing calon pasangan suami istri harus terlebih dahulu memegang kuat pondasi aqidah. Tatkala pondasi ini telah dipegang dengan kuat, tentu akan dilahirkanlah generasi shalih shalihah yang akan membangun sebuah peradaban Islam yang agung sebagaimana yang telah didapati sebelumnya. Wallahu?alam Bisshowab. (*)
*) Penulis adalah muslimah pemerhati generasi.