DATARIAU.COM - Siapa sangka negara seperti Iran mampu meruntuhkan kesombongan sang adidaya Amerika selama ini? Sejak awal serangan sekutu abadinya Israel pada 28 Februari 2026 lalu di sejumlah lokasi di Teheran, pihak Iran seolah tak henti memperagakan pertunjukan 'kembang api' nya pada dunia. Kejadian ini layaknya memuaskan mata masyarakat dunia yang selama ini mengutuk tindakan genosida yang dilakukan dengan bebas oleh Israel terhadap warga Gaza di Palestina tanpa mampu bertindak apapun.
Sejumlah amunisi sudah dilontarkan Amerika untuk membantu Israel, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford. Kapal perang yang diklaim paling canggih milik mereka bahkan dipaksa mundur oleh Iran. Sejumlah jet tempur juga telah dikerahkan. Iran berhasil melumpuhkan jet tempur musuh hanya seperti menangkap nyamuk terbang. Salah satu pesawat tempur bahkan terpaksa ditembaki oleh Amerika sendiri agar kecanggihan teknologinya tidak bisa ditiru pihak Iran. Hebatnya, saat seorang pilot pesawat tempur Amerika selamat dari penembakan dan tertangkap, Iran menjadikannya tawanan dan barang barter untuk ditukar dengan pembebasan 10.000 tahanan Gaza di Tel Aviv. Luar biasa!
Ditengah kondisi Amerika dan Israel yang sedang sekarat demi mendanai keberlangsungan perang, negara-negara sekutu mereka justru hanya menjadi penonton. Tidak ada satupun negara yang bergerak membantu mereka untuk berperang melawan Iran. Kesannya malah cari aman. Prancis, Inggris, Spanyol, dan Jepang hanya diam membisu. Justru beberapa negara diantara mereka mengakui keberadaan negara Palestina, seperti Spanyol dan Britania Raya. Disamping gelombang pengakuan dari negara-negara Eropa lainnya seperti Irlandia, Portugal, Swedia, Islandia, Norwegia, Slovenia, Polandia, Bulgaria, Rumania, Slovakia, Siprus, Australia, dan Kanada (Metrotvnews, 22/9/2025).
Dan bagian plot twist yang mengejutkan dari rangkaian peristiwa perang ini adalah adanya sejumlah pemimpin negeri muslim yamg menjadi sekutu Amerika dan Israel. Tentu saja sebagai sekutu, yang mereka bantu habisi adalah kaumnya sendiri, yaitu kaum muslim. Diantara negara Timur Tengah yang menjadi sekutu AS dalam perang dengan Iran adalah Arab Saudi, Qatar, UAE, Yordania, dan Bahrain. Para pemimpin negeri muslim ini malah menyediakan pangkalan militer AS di negeri mereka sendiri. Sungguh memalukan!
Dari rangkaiian peristiwa perang yang dunia saksikan hari ini, faktanya AS dan sekutunya Israel tidaklah se-adidaya yang digembar-gemborkan selama ini. Iran telah membuktikan pada dunia global, meski negara ini sudah diembargo AS sejak tahun 1979 pasca lengsernya kaki tangan AS sebagai pemimpin Iran, yaitu Shah Mohammad Reza Pahlavi, dan berganti kepada Revolusi Islam di tangan Ayatullah Khomeini, mereka tetap mampu bertahan hidup sebagai sebuah negara yang mandiri. Mereka mampu memperkuat pertahanan negaranya dengan membuat senjata yang mumpuni. Sehingga mereka tidak takut untuk tidak mematuhi titah sang adidaya. Iran menolak mentah-mentah tawaran posisinya sebagai agen Amerika. Iran hanya cukup memblokade Selat Hormuz, sebagai keuntungan letak astronomi negaranya. Dan hal itu sudah sangat memukul lawannya hingga hilang akal untuk menundukkannya.
Namun di lain sisi, negara-negara sekutu Amerika-Israel justru menunjukkan sikap yang berbeda. Walaupun mereka berada di satu kubu, bukan berarti mereka saling dukung. Saat Selat Hormuz diblokade Iran dan pasokan energi minyak bumi Amerika terganggu, Trump meminta bantuan Inggris dan Prancis untuk mengarahkan kapal perang mereka demi mengawal kapal-kapal minyak menuju Amerika. Sayangnya permintaan ini tidak ditanggapi oleh sekutunya. Saking hilangnya akal, Trump malah meminta China, sebagai sekutu Iran, untuk melakukan hal yang sama. Langkah Trump ini malah hanya mendapatkan cemoohan dari senator AS dari Partai Demokrat, Chuck Schumer sebagai bahan candaan Trump (Kompas.com, 17/3/2026).
Sikap yang ditunjukkan oleh Inggris dan Prancis yang tidak menanggapi permintaan Amerika adalah wajar. Sebab dalam kancah kapitalisme, sejatinya tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang bersifat permanen hanyalah kepentingan masing-masing. Saat kepentingan datang ia menjelma sebagai kawan. Begitu kepentingan hilang, ia bertransformasi sebagai lawan.
Sementara di tempat berbeda, pengkhianatan para pemimpin muslim dengan menjadi sekutu bagi AS-Israel adalah penyebab lemahnya persatuan umat. Apalagi umat telah terpecah dalam konsep negara-bangsa, sehingga ketika mereka mentaati kebijakan pemimpin negeri mereka masing-masing, umat islam sudah beranggapan hal tersebut sudah sesuai dengan syariat untuk taat kepada ulil amri. Padahal mengadakan kerjasama dengan kaum muharibun fi'lan adalah haram hukumnya. Apalagi jauh sampai menyediakan tempat untuk pangkalan militer musuh.
Logikanya, bukan tidak mungkin umat Islam ini bersatu untuk meruntuhkan hegemoni Barat atas dunia Islam. Satu negara Iran saja AS-Israel sudah kewalahan menghadapinya sampai minta gencatan senjata. Bayangkan bila seluruh negara-negara Timur Tengah saja menyerang Tel Aviv secara bersamaan. Tak lewat satu jam dipastikan negara Israel dihapus dari dalam peta.
Maka dari itu, kunci terlepasnya umat ini dari penjajahan adalah adanya kesadaran untuk bersatunya seluruh Umat Islam dari Maroko hingga Merauke. Tentu saja kesadaran ini tidak mungkin dibangun diatas pondasi nasionalisme, kesukuan, atau ras. Karena faktanya pondasi sejenis ini sangat rapuh, sebab sifatnya yang temporal dan sesuai kepentingan. Lebih jauh lagi, konsep-konsep seperti ini memang hasil ciptaan Barat untuk memecah persatuan umat Islam, sehingga memang tidak layak untuk dipakai. Persatuan hanya bisa diraih bila umat ini diikat dengan satu perasaan, satu pemikiran, dan satu peraturan yang sama, yakni akidah Islam.
Oleh karenanya, keberadaan satu institusi yang mampu menyatukan umat Islam dalam satu komando menjadi sangat penting dan genting. Mengingat keterjajahannya sepanjang dihapuskannya institusi penjaga dan pelindung terakhir umat ini pada masa Daulah Ustmaniyyah di Turki. Bila kekuatan umat ini berubah menjadi sebuah institusi dalam totalitas Islam, inilah lawan yang seimbang untuk melawan dan menghapuskan hegemoni Barat penjajah dari dunia pada umumnya dan khususnya pada pemikiran kaum muslim. Ibarat komputer, akidah itu adalah software-nya. Software hanya bisa dirasakaan manfaat dan kecanggihannya bila terpasang dalam sebuah hardware. Dan hardware nya umat Islam adalah Khilafah, sebagai pembela dan pelindung setiap satu nyawa yang dirampas tanpa hak.
Wallahu a'lam bishowwab.***