Anak Terlibat Prostitusi Online, Degradasi Moral Akut Sistem Sekuler Kapitalisme

datariau.com
675 view
Anak Terlibat Prostitusi Online, Degradasi Moral Akut Sistem Sekuler Kapitalisme

DATARIAU.COM - Di era revolusi industri 4.0, masifnya perkembangan teknologi informasi digital malah menjadi pintu masuk utama bagi konten-konten yang bersifat amoral dan destruktif. Ironisnya lagi, prostitusi online saat ini telah menjadi bisnis trendy yang bukan kaleng-kaleng sehingga banyak menciptakan modus-modus kejahatan yang semi transparan dari berbagai aplikasi yang ada di pelantar digital seperti aplikasi X, Tinder, Telegram, We Chat, Instagram, Web Cam, Facebook, Line, dan media sosial lainnya.

Degradasi moral akut seperti tindak kekerasan, cyber bullying, perilaku hedonistik, seks bebas, prostitusi online, pornoaksi, kejahatan seksual, pornografi, penyimpangan seksual, aborsi, dan narkoba yang terjadi di kalangan generasi saat ini (Gen Z), sebagian besar diakibatkan oleh tergerusnya nilai-nilai pendidikan keimanan dan ketakwaan yang seharusnya ditumbuh-kembangkan dengan agama dari lingkungan institusi masyarakat yang terkecil yaitu keluarga.

Era disrupsi telah melahirkan gen Z yang salah kaprah dalam gaya hidup dan pergaulan. Mereka lebih rela untuk memfasilitasi dan membeli gaya hidup daripada kebutuhan yang lebih krusial untuk hidup, seperti handphone edisi terbaru, hang out di cafe yang lagi hits, fashion yang trendy, serta flexing via share story ke tempat-tempat viral yang lewat di beranda pelataran digitalnya. Gen Z lebih sering merasa insecure dan Fear Of Missing Out (FOMO), terhadap suatu trend yang up to date sehingga menjadikan mereka memiliki style dan selera konsumtif yang lumayan tinggi.

Bahkan gaya hidup barat yang liberal malah jadi trend dan kebanggaan bagi mereka. Seperti budaya seks bebas via pelantar digital, relationship Friend With Benefit (FWB). FWB merupakan relationship antar teman dengan manfaat-manfaat yang romantis, melakukan hubungan fisik secara intim tanpa ikatan dan komitmen dengan cara apapun. Gaya hidup inilah yang menjadi trigger pada anak atau gen Z untuk terjebak praktik prostitusi online.

Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan ada 130.000 lebih transaksi yang melibatkan 24.000 lebih anak (10-18 tahun), yang terindikasi terlibat dengan praktik prostitusi dan pornografi anak. www.rri.co.id, (26/7).[1]

Sementara itu, Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri telah berhasil membongkar sindikat kasus prostitusi online yang mempromosikan para pekerja seks komersil kepada para membernya via platform aplikasi X dan Telegram. Sindikat ini menawarkan sekitar 1.962 perempuan dewasa dan 19 anak dibawah umur dalam bentuk katalog. www.inews.id, (25/7).[2]

Begitulah dampak nyata chaosnya kebobrokan moral yang terjadi dalam masyarakat bahkan keluarga. Miris memang ketika aktivitas seksual yang salah dilakukan oleh anak dan diketahui oleh orangtuanya namun orangtua terkesan melakukan pembiaran. Fatalnya lagi, orangtua sudah tidak berperan sebagai edukator dan pengayom dalam institusi keluarga serta menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Bahkan sudah tak mampu untuk bersikap tegas dan transparan menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Na'udzubillahimindzalik!

Hal pertama yang harus dilakukan oleh orangtua dalam mendidik anak adalah memperbaiki diri sendiri, karena mata anak menyaksikan dan telinga mereka mendengarkan (peniru ulung). Sesuatu yang dianggap baik oleh orangtua, akan dianggap baik juga oleh anak. Sesuatu yang dianggap buruk oleh orangtua, akan dianggap buruk juga oleh anak.

Secara umum ada beberapa faktor yang menjadi trigger seseorang terlibat dalam prostitusi online, antara lain:

1. Ekonomi
2. Teknologi
3. Pergeseran Budaya
4. Atensi Keluarga
5. Trauma masa lalu

Sedangkan menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ada enam faktor yang dikutip dari www.kpai.go.id,[3] yaitu:

1. Eksploitasi oleh mucikari
2. Berpikir instan tanpa pertimbangan
3. Keterpaksaan karena diperbudak oleh seseorang atau kelompok
4. Pengaruh lingkungan atau teman sebaya
5. Pengaruh gaya hidup
6. Trauma masa lalu/frustasi

Berikut adalah 5 kota di Indonesia yang memiliki level tindakan seks bebas tertinggi yang dikutip dari www.viva.co.id,[4] yaitu:

1. Jakarta
2. Malang
3. Yogyakarta
4. Surabaya (Seks bebas terbesar di Asia Tenggara)
5. Bandung

dan 5 negara dengan angka prostitusi anak level tertinggi di dunia yang dikutip dari www.merdeka.com[5] yaitu:

1. Sri Lanka
2. Thailand
3. Brasil
4. Amerika Serikat
5. Kanada

Agama Pondasi Fundamental Kehidupan


Pada dasarnya agama merupakan pilar-pilar aturan dan hukum bagi seseorang untuk berperilaku dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Sebab agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, norma-norma sosial, attitude, dan moral. Agama Islam sendiri malah lebih spesifik mengajarkan bahwa untuk memahami makna kehidupan ini, maka ada tiga hal krusial yang harus kita cari tahu dulu jawabannya, yaitu:

• Darimana kita berasal?
• Untuk apa kita hidup?
• Kemana kita akan kembali?

Jika kita sudah menemukan semua jawabannya, maka kita akan mengerti boundaries dalam circle kehidupan serta persepsi kehidupan dalam sistem Islam.

Namun realitasnya, sistem kehidupan yang kita jalani saat ini masih berada dalam lingkaran sistem sekuler kapitalisme. Dimana dalam konsep kapitalis yang menjunjung tinggi nilai materi, sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) adalah merupakan aqidahnya. Yang kemudian melahirkan opini bahwa tidak ada relevansinya antara agama dengan dunia, negara dan dalam urusan pemerintahan sehingga agama itu seharusnya menjadi konsumsi pribadi, dimana manusia berhak untuk membuat peraturan sendiri dalam hidupnya.

Dampak dari dasar paham sekuler ini kemudian sangat berkontribusi menciptakan Gen Z dan regenerasi yang berkepribadian sekuler, liberal dalam beratitude dan beragumentasi serta keropos dalam akhlak dan adab. Menjadi individu yang melakukan sesuatu hanya berdasarkan pada hawa nafsu dan logikanya semata, bukan mengikuti dasar aturan Sang Khalik yang menciptakannya.

Sejatinya agama tidak hanya dipandang sebagai ibadah ritual semata namun harus berkorelasi dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat setiap individu dan antar individu. Islam secara spesifik telah mengatur bagaimana tata cara pergaulan melalui syariatnya dengan berlandaskan pada Al-Qur’an, hadits dan ijtihad serta memiliki sistem punishment yang tegas sehingga mampu mencegah terjadinya prostitusi apapun istilah, nama dan bentuknya.

Sesungguhnya agama itu mengajarkan keyakinan mengenai sebuah ajaran kebaikan yang menuntun manusia kembali kepada hakekat kemanusiaannya. Maka seyogyanya kita sebagai individu, hiduplah dengan menggunakan siklus hidup manusia dan bukan sebaliknya menggunakan siklus hidup binatang yang hanya tahu aktivitas makan, tidur dan seks.

"Bagi orang yang memiliki keyakinan, tidak diperlukan penjelasan. Bagi seseorang yang tidak memiliki keyakinan, tidak ada penjelasan yang mungkin." (Anonim)

Wallaahualam bissawab. ***

Penulis: Awiet Usman (Pegiat Literasi Dumai-Riau)


Footnote:

[1] https://www.rri.co.id/nasional/857058/ppatk-catat-puluhan-ribu-anak-terlibat-prostitusi-pornografi/

[2] https://www.inews.id/news/megapolitan/miris-19-anak-jadi-pekerja-seks-online-orang-tuanya-ternyata-tahu

[3] https://www.kpai.go.id/publikasi/6-penyebab-prostitusi-marak-versi-kpai

[4] https://www.viva.co.id/amp/gaya-hidup/inspirasi-unik/1519904-5-kota-indonesia-dengan-level-seks-bebas-tertinggi-ada-kotamu?page=all

[5] https://www.merdeka.com/dunia/lima-negara-dengan-angka-prostitusi-anak-tertinggi-sejagat.html?page=3

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)