DATARIAU.COM - Indonesia baru saja menyelasaikan pesta demokrasi pada April 2019 kemarin. Ricuh dan hiruk pikuk pendukung pasangan calon nomor urut 01 dan 02 mewarnai jagad media sosial yang notabenenya membandingkan keunggulan masing-masing calon. Kebanyakan dari mereka tersanjung melihat pemandangan yang menyajikan gambar pasangan calon Presiden bersama para ulama.
Hampir setiap hari media sosial kebanjiran informasi bahkan bocor rahasia, yang rata-rata sifatnya memprovokasi khalayak. Penampakan-penampakan citra diri dengan rapi di feed Instagram, perang tagar di twitter, nasehat-nasehat bodoh yang dibalut oleh diksi yang indah bertebaran di jagad Facebook. Semua orang tiba-tiba berlebihan memuja satu atau dua. Berlomba-lomba menjadi viral karena ketegasan pedapatnya.
Sah-sah saja menjadi warga negara yang anti golput. Negara demokrasi memang menjunjung tinggi suara rakyatnya. Namun, suara yang bagaimana? Tentunya suara yang tidak menjadikan demokrasi menjadi "democrazy". Kita harus tetap mengingat, bahwa jari dan mulut kita tetap berbasis agama, ialah setiap agama dilarang memperolok satu sama lain. Karenanya, alangkah baiknya jika kita saling menjaga pilihan satu sama lain agar terjaga pula silaturahmi.
Jangan sampai kita lupa bahwa salah satu sifat pemilu adalah rahasia. Dimana, setiap individu berhak menyembunyikan pilihannya dari siapapun. Tentunya ini bertujuan untuk melindungi individu dari ancaman dari pihak tertentu. Boleh saja mengumumkan diri mendukung salah satu paslon, namun yang tidak diperbolehkan adalah memprovokasi dan membuat onar berakibat mengganggu privasi seseorang.
Warga Indonesia yang baik tidak akan lupa bahwa negara ini terbentuk dari perbedaan, yang kemudian menjadikan Tut Wuri Handayani sebagai pemersatu semangat perjuangan. Perbedaan inilah kemudian yang menjadikan Indonesia bangkit dari cengkraman penajajah.
Namun, kini Indonesia rentan kembali dengan kejadian-kejadian yang mengatasnamakan agama yang seharusnya itu menjadi hak prerogatif individu untuk memilih.
Baik 01 atau 02, baik Jokowi maupun Prabowo, kita semua dapat memetik pelajaran dari keduanya. Jadilah seperti Prabowo yang meskipun gagal berkali-kali tak pernah padam semangat untuk terus maju. Juga Jokowi, yang menurut kebanyakan orang salah dalam kepemimpinannya, bukankah yang salah juga berhak diberi kesempatan kedua kali untuk memperbaiki? Keduanya memiliki karakter kepemimpinan yang tidak semua orang bisa berada di posisi mereka.
Kita semua harus sadar bahwa siapapun pemimpin bangsa ini, identitas diri sendiri yang mampu menentukan keberhasilan dan menaklukkan dunia. Jangan mudah terprovokasi, alangahkah baiknya banyak intropeksi. Tentang siapa yang menang siapa yang kalah, itu sudah tidak jadi masalah apabila kita tetap Indonesia yang bersatu, yang damai dan toleran.
Ingat, Tuhan juga telah menetapkan pada diri kita semua bahwa kita masing-masing adalah pemimpin untuk diri kita, sebelum menjadi pemimpin untuk mereka.
Menjadikan Indonesia lebih tenang dan damai pasca pemilu 2019 memang tidak mudah. Apalagi ditambah kericuhan-kericuhan yang terjadi di sejumlah daerah. Sebab, kebijakan yang mengatur tak semua manusia bisa terima. Namun demikian, juga tidak sulit bagi kita jika dimulai dengan kesadaran diri sendiri bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar dan tidak mudah terpecah belah oleh kelompok manapun.
Untuk yang memenangkan pemilu, anda adalah amanah rakyat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Semoga harapan-harapan yang tergantung pada bahu kepemimpinan anda dapat terealisasi dengan baik. Untuk anda yang tidak memenangkan pemilu, bukan berarti anda bukan pemimpin kami, anda adalah bagian dari negara ini. Memajukan setiap langkah dan perkembangan daerah. Tetap damailah, meski kita berbeda. (rls)
*Penulis merupakan Mahasiswi UIN Suska Riau.