Oleh: Irwandi Rais

Kini Banyak yang Dirubah

datariau.com
1.310 view
Kini Banyak yang Dirubah
Irwandi Rais.

DATARIAU.COM - Menyimak kegiatan sosialisasi dan menyamakan persepsi tentang lomba kelurahan pengimplementasi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) ke 2 tahun 2018 pada 11 kecamatan di Kota Padang. Bagian Kesra telah memilih tim juri sekaligus nara sumber pada kegiatan sosialisasi dimaksud, diantaranya Prof. D. Ir.Hj. Puti Reno Raudah Thaib, M.Si Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar, Dr. Yulizal Yunus   M.Si Dt. Rajo Bagindo  dari UIN, Drs. Suardi Z. Dt. Rajo Basa Sekretaris LKAAM Kota Padang, Yusrizal KW  dari Budayawan dan Ratmil, S.Sos.M.Pd dari Dinas Pendidikan Sumbar.

Namun dari pemaparan para nara sumber yang sekaligus tim juri itu menyedihkan, dan sesuai dengan kenyataan "lah banyak nan dirubah dan tidak sama lagi dengan norma adat."  Puti Reno Raudah Thaib menjelaskan, baju kuruang basiba adalah  pakaian kaum perempuan Minangkabau yang sudah dikenal identitasnya dan basalendang (memakai selendang) penutup kepala.  Keistimewaan bajukuruang basiba itu longgar dipakai, sehingga tidak membentuk lekuk tubuh  serta menutup aurat. Tapi kini dirubah, atau dimodifikasi recong ke kiri, ke kanan dan lain sebagainya.

Setelah itu, pakaian pengantin Minang itu tidak berekor panjang, dan yang berekor panjang itu pakaian pengantin gadis kristen, karena melaksanakan nikah berdiri. Pengantin minang menikah duduk, kalau pakaiannya berekor, maka bantuak itiak panca maram. Setelah itu pakaian penghulu itu hitam, kalau diganti dengan warna merah, jadi dubalang. Warna pakaian di Minang mempunyai arti dan makna, sebut Bundo.

Kemudian menjelang dilaksanakan ijab kabul, pasangan menikah minta izin kepada kedua orang tuanya, bahkan pada calon mertuanya. Cara seperti ini juga tidak dibiasakan dalam adat Minangkabau.  Lantas angan benar anak  pada orang tua, termasuk pada calon mertuanya. Dan yang ada orang tua yang bertanya pada anak di rumah dan mendatangi kamarnya, baa iyo kamanikah nak, iyo laih katuju.

Ada lagi yang dirubah, mengundang  alek dengan gulo-gulo (permen). " Ambo kalo ado nan mangundang pakai gulo-gulo, lalu dijawek, bilo apak ka baralek. Ambo ndak ka datang ka alek bapak. Masak iya, mengundang pakai permen, diumbuak umbuak jo gulo-gulo se. Ini juga tidak ada dalam adat Minangkabau. Maudang pakai siriah jo carano. Lanjut pada acara pesta di gedung, disediakan pula tempat VIP,   datang isi daftar tamu, masukin uang iyuran, silakhkan makan. Tuan rumah sibuk di pentas pelaminan, sehingga tak ada lagi yang menyapa dan berbasa basi, alah makan, laih kanyang dan lain sebagainya. Pelaminan juga sudah pindah di luar rumah, digarase, di halaman, di jalan depan rumah. Hal ini juga tidak sesuai dengan adat Minang, ungkap Raudah Thaib.

Sejalan dengan itu Ratmil, S.Sos. M.Pd dari Dinas Pendidikan Sumbar juga memaparkan, dari segi kuliner, para orang tua tidak memperkenalkan pada lidah anak-anaknya. Sehingga mereka lbih menyukai makanan daerah lainnya dari pada makanan daerahnya sendiri. Setelah itu komunikasi, berbahasa Minang juga jarang di rumah.

Jadi, kenyataan pahit  itu telah menyelimuti semua lini. Pudarnya adat dan budaya Minangkabau yang menganut filosofi “adat basandi syara', syara' basandi kitabullah.” Pepatah tinggallah pepatah, kini Minangkabau  hanya palamak carito.

Pada kondisi modern saat ini bermacam ragam tontonan hadir di rumah, baik dari lokal, maupun mancanegara. Dari melihat dan menonton itu muncul budaya meniru. Hal ini pun turut berperan dalam pengikisan adat dan budaya Minangkabau. Para generasi muda lebih cenderung bangga meniru budaya asing ketimbang melestarikan keaslian adat dan budayanya sendiri Ranahminang. Rasanya memang  banyak sekali adat dan budaya Minangkabau yang sudah mulai ditinggalkan.

Malahan  Drs. Suardi Z. Dt. Rajo Basa Sekretaris LKAAM Kota Padang pernah juga menyampaikan bahwa ada generasi muda yang tida tahu dengan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Sepertinya generasi muda mungkin mengenal adat dan budaya Minangkabau sebatas prosesi pernikahan belaka. Itupun prosesi pernikahan ala Minangkabaui  yang saat ini banyak yang di rubah pula.

Jadi, dari  semua ketimpangan ketimpangan tersebut, Bagian Kesra Pemko Padang  menyuguhkan kegiatan sosialisasi dan menyamakan persepsi tentang lomba kelurahan pengimplementasi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Tujuannya tak lain adalah bersama pula memperbaikinya.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)